Bagaimana Ini, Rupiah? Masak Mau 'Tiarap' 6 Hari Beruntun???

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
14 August 2020 09:23
FILE PHOTO: An Indonesia Rupiah note is seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih belum bisa lepas dari tren depresiasi. Padahal dolar AS sejatinya sedang tertatih-tatih, tetapi masih saja bisa perkasa di hadapan mata uang Tanah Air.

Pada Jumat (14/8/2020), US$ 1 dihargai Rp 14.700 kala pembukaan pasar spot. Sama persis dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya atau stagnan.

Namun tidak lama kemudian rupiah masuk jalur merah. Pada pukul 09:10 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.730 di mana rupiah melemah 0,2%.


Sayang sekali rupiah belum juga mampu membalikkan tren depresiasi. Sebagai informasi, rupiah sudah melemah selama lima hari perdagangan beruntun. Kalau sampai tutup lapak nanti masih melemah, berarti menjadi enam hari berturut-turut.

Depresiasi rupiah terjadi saat dolar AS sedang lesu. Pada pukul 07:39 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terkoreksi 0,07%.

Dalam sebulan terakhir, Dollar Index anjlok nyaris 3%. Bahkan selama tiga bulan ke belakang, penurunannya mencapai lebih dari 7%.

Lagi-lagi investor kecewa karena pembahasan stimulus yang mandek. Belum ada titik temu antara Partai Republik dan Partai Demokrat seputar paket stimulus fiskal baru. "Chuck Schumer dan Nancy Pelosi (pemimpin Demokrat di Senat dan House of Representatives) menyandera rakyat AS demi agenda sayap kiri mereka. Stimulus ini tidak akan terwujud karena mereka bahkan tidak mau membahasnya, dan karena kami juga tidak mau memberi hal-hal yang mereka inginkan yang tidak ada hubungannya dengan virus China (Coronavirus Disease-2019/Covid-19)," tegas Presiden AS Donald Trump, sebagaimana diberitakan Reuters.

Tanpa stimulus fiskal, sulit berharap ekonomi Negeri Paman Sam bisa pulih dengan cepat. Memang benar jumlah klaim tunjangan pengangguran turun, pada pekan yang berakhir 8 Agustus tercatat 963.000, kali pertama berada di bawah 1 juta sejak awal pandemi virus corona.

"Namun terlalu awal untuk mengumumkan kemenangan, karena perjalanan masih panjang. Pasar tenaga kerja masih berdarah-darah. Salah satu hal yang membuat klaim tunjangan pengangguran turun adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah, dan itu sekarang tidak ada lagi," tegas Chris Rupkey, Kepala Ekonom MUFG yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters.

Ini yang Bikin Rupiah Terhambat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading