Setop Operasi 6 Tahun, Apa Kabar Merpati?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
12 August 2020 14:12
https://finance.detik.com/industri/d-2487819/cerita-tragis-merpati-dulu-punya-100-pesawat-sekarang-tinggal-18-pesawat

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero)/PPA mengatakan saat ini pengembangan bisnis PT Merpati Nusantara Airlines akan difokuskan pada bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) dan pusat pelatihan (training facility).

PPA menyatakan sudah memiliki pertimbangan matang terkait dengan perubahan lini bisnis utama Merpati. Salah satunya, yaitu pertimbangan aset yang masih ada dan tak banyak bisnis serupa di dalam negeri.

Direktur Utama PPA Arisudono Soerono mengatakan dengan dua bisnis yang akan menjadi fokus, diharapkan Merpati dapat menyelesaikan kewajibannya kepada kreditur.


"Merpati kami kelola dan memang bagusnya punya beberapa aset yang masih punya peluang untuk dikembangkan, contohnya Merpati Maintenance Facility dan Merpati Training Center. Ini punya keahlian dan kompetensi dan keunggulan di dalam industri yang mereka geluti sehingga mereka masih bisa terus berkembang," kata Arisudono dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, Rabu (12/8/2020).

Arisudono menjelaskan, permintaan bisnis MRO dan training center di dalam negeri cukup tinggi namun penyedia jasa di bidang ini masih sedikit.

Sebagai informasi, bisnis MRO sudah dijalankan maskapai swasta yakni Lion Air Group (LAG) yang menggandeng Batam Aero Technic (BAT) dan Garuda Indonesia Group, melalui PT GMF AeroAsia Tbk (GMFI).

Beberapa waktu lalu Merpati berencana ekspansi bisnis MRO dan Training Center di Republik Demokratik Kongo, Afrika. Merpati menjadi salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan The Sandi Group (TSG) untuk ekspansi bisnis ke Republik Demokratik Kongo.

"Kami melihat kesempatan, dan apa yang Merpati miliki saat ini memungkinkan ikut serta untuk masuk ke Republik Demokratik Kongo. Kami ini masih memiliki dua anak usaha yang masih bisa berkontribusi negara tersebut," kata Direktur Utama Merpati Asep Ekanugraha.

Menurutnya Merpati memiliki ruang untuk kolaborasi dengan pengusaha lokal penerbangan di negara tersebut. Bahkan dia optimistis MRO Merpati bisa berkembang di tiga tempat.

Merpati juga berencana mengembangkan training center di Kongo untuk berkolaborasi dengan SDM lokal. Upaya ini juga dilakukan agar bisa menggunakan produk lokal Kongo untuk keperluan MRO.

MRO ini, sambung dia, juga berpotensi menghidupkan operasional penerbangan Merpati untuk wilayah Kongo, bahkan Afrika. Hal ini bisa diwujudkan dengan bekerja sama dengan perusahaan setempat.

"Tidak ada bengkel yang bisa hidup sendiri. Kami melihat kesempatan yang bagus untuk Merpati reborn, meski sebagian harus diinisiasi di tempat lain," katanya.

Selain bengkel pesawat, agar Merpati bisa bangkit, Merpati secara resmi memulai bisnis kargo per 10 November 2019. Hal ini dapat dukungan dari 10 BUMN.

Merpati berhenti operasi sejak 1 Februari 2014 atau era Presiden SBY sampai Presiden Jokowi, karena terlilit masalah keuangan.


[Gambas:Video CNBC]

(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading