Saham Properti Bikin Deg Deg Ser: Pilih Hold atau Cut Loss?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
11 August 2020 15:07
Suasana gedung bertingkat di Kawasan Jakarta, Selasa (19/8/2018). Pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi di 2019 sebesar 5,3% yang didasarkan dengan outlookpertumbuhan di 2017 yang sebesar 5,2%. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten di sektor properti menjadi salah satu sektor yang paling berat terpukul pandemi Covid-19. Tidak hanya mengalami penurunan pendapatan yang sangat tajam, emiten di sektor properti juga mengalami risiko gagal bayar yang tinggi hingga gugatan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Sampai saat ini ada beberapa emiten yang sudah terkena gugatan pailit, seperti baru-baru ini yang dialami PT Sentul City Tbk (BKSL) yang digugat pailit oleh keluarga Bintoro terkait Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) kavling.

Tak hanya Sentul City, beberapa emiten yang juga digugat kepailitan adalah PT Cowell Development Tbk (COWL), PT Hanson International Tbk (MYRX), dan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY).


Menurut Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan, emiten di sektor properti sangat terdampak dari sisi likuiditas karena mengalami masalah dari sisi kas operasional, sedangkan di saat seperti ini, perbankan sangat berhati-hati menyalurkan kredit.

Inilah yang menyebabkan emiten properti kesulitan memenuhi kewajibannya. Terlebih lagi, kebanyakan emiten di sektor ini mengandalkan pinjaman untuk membangun proyek-proyek baru.

"Kondisi yang terjadi bisa menyebabkan perusahaan mengalami krisis karena faktor tidak adanya fasilitas pendanaan," kata Alfred kepada CNBC Indonesia, Selasa (11/8/2020).

Atas kondisi tersebut, kata Alfred, investor harus lebih cermat lagi dalam berinvestasi di sektor ini dengan memperhatikan fundamental perusahaan.

Jika gugatan kepailitan akan berisiko terhadap kelangsungan bisnis emiten tersebut, maka cut loss atau menghentikan kerugian dengan keluar dari saham-saham properti bisa menjadi opsi untuk memitigasi risiko penurunan lebih lanjut.

Namun, jika perusahaan tersebut masih memiliki prospek yang baik dan gugatan kepailitan bisa diselesaikan, maka opsi hold bisa jadi pilihan investor.

"Tapi jika kondisi aset, ekuitas perusahaan tidak bagus, ini perlu hati hati, pilihan cut loss sebagai upaya untuk memitigasi risiko yang lebih besar bisa jadi pilihan," tutur Alfred.

Sebelumnya, Fitch Ratings menurunkan peringkat dua perusahaan properti Tanah Air yang dikenal memiliki proyek-proyek prestisius. Keduanya yakni PT Agung Podomoro Tbk (APLN) dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI).

Berdasarkan keterangan resmi, Fitch Ratings menurunkan peringkat perusahaan Agung Podomoro untuk penerbitan utang jangka panjang dalam mata uang rupiah menjadi C dari CCC-.

Pada saat yang sama Fitch juga menempatkan obligasi senilai US$ 300 juta yang jatuh tempo pada 2024 ke Rating Watch Negative (RWN).

Di sisi lain, Fitch Ratings juga menurunkan peringkat Alam Sutera ke CCC- dari sebelumnya B-. Bersamaan dengan itu, Fitch juga menurunkan peringkat surat utang yang diterbitkan dua anak usahanya, Alam Synergy Pte Ltd yang dijaminkan oleh perusahaan dengan peringkat yang sama.

Turunnya rating perusahaan disebabkan karena adanya risiko likuiditas yang dihadapi perusahaan untuk melakukan pembiayaan kembali (refinancing) surat utang anak usahanya. Surat utang yang dimaksud adalah obligasi senilai US$ 115 juta yang jatuh tempo pada 22 April 2021.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading