Sudah Terlalu Lama Mengalah, Saatnya Harga CPO Melesat!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
11 August 2020 11:51
Palm oil woes.	(Reuters/Samsul Said)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menguat pada perdagangan hari ini Selasa (11/7/2020). Penguatan harga CPO tak terlepas dari naiknya harga minyak nabati lain dan pelemahan ringgit terhadap dolar greenback

Pada 10.26 WIB, harga CPO untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 0,7% ke RM 2.729/ton. 


Harga minyak sawit turun 1,8% pada hari Senin kemarin setelah surveyor kargo mengatakan ekspor minyak sawit Malaysia untuk 1-10 Agustus turun antara 4,8% dan 6,2% dari bulan sebelumnya.

Namun ringgit yang melemah 0,12% di hadapan dolar AS membuat harga CPO jadi lebih murah untuk pemegang dolar. Maklum, harga CPO dibanderol dalam ringgit Negeri Jiran sehingga pelemahan ringgit berpotensi memicu minat yang lebih tinggi baik para trader, investor maupun pelaku industri untuk membeli minyak nabati jenis ini.

Di sisi lain kenaikan harga minyak nabati lain juga jadi sentimen positif yang mengerek naik harga CPO. Reuters melaporkan, kontrak minyak kedelai teraktif di Dalian, naik 1,23% sementara kontrak minyak sawitnya naik 0,68%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade juga diperdagangkan 0,39% lebih tinggi dari posisi sebelumnya. 

Hanya saja ada beberapa faktor yang menghambat kenaikan lebih tinggi harga CPO.

Stok minyak sawit Malaysia di akhir Juli anjlok 10,55% dari Juni ke posisi terendah tiga tahun sementara produksi turun 4,14%, tetapi penurunan tersebut kurang dari ekspektasi pasar, jika mengacu pada data Dewan Minyak Sawit Malaysia yang dirilis pada hari Senin.

Berdasarkan data resmi Uni Eropa (UE), impor minyak sawit UE dan Inggris pada musim 2020/21 turun 17% dari musim sebelumnya. Dua faktor ini menjadi sentimen pemberat harga CPO pada perdagangan hari ini. 

Namun ke depan harga CPO masih dipandang bullish. Para analis masih memandang positif tentang prospek harga CPO untuk beberapa bulan ke depan karena permintaan ekspor yang lebih kuat dan aktivitas restocking meningkat dari negara-negara pengimpor minyak sawit utama seperti India dan China.

Pemilik dan salah satu pendiri Analisis Minyak Sawit Dr Sathia Varqa mengatakan kepada Reuters, meski ekspor 17% lebih rendah pada paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, ada peningkatan yang kuat, terutama dari India.

Varqa mengatakan India meningkatkan pembelian pada bulan Juni karena negara itu mulai melakukan relaksasi lockdown. Ekspor Malaysia, terutama produk CPO, ke India diperkirakan tetap kuat selama sisa tahun ini setelah pemerintah Malaysia menurunkan pajak ekspor.

China juga akan beralih ke minyak sawit setelah impor kanola dan kedelai terjerat perselisihan perdagangan. Secara keseluruhan, ekspor Malaysia terlihat tidak berubah di angka 18,5 juta ton.

Lebih lanjut Varqa mengatakan, ini akan membuat stok sangat ketat mengingat produksi setahun penuh Malaysia diperkirakan mencapai 19 juta ton, atau 4,32% lebih rendah dari tahun lalu.

Kondisi cuaca yang buruk, kekurangan tenaga kerja dan berkurangnya penggunaan pupuk tahun lalu berdampak negatif terhadap produksi tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading