Emas Tak Selalu Jadi "Bungker" Saat Resesi, Ini Buktinya!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
10 August 2020 18:38
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia terbang hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di tahun ini, sebabnya pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat perekonomian global nyungsep, resesi terjadi di mana-mana.

Kala resesi melanda, harga emas sudah pasti menjadi salah satu investasi favorit, sudah jelas karena menyandang status aset aman (safe haven). Dengan status tersebut, resesi yang sudah terjadi di banyak negara termasuk Amerika Serikat (AS) justru menjadi berkah bagi logam mulai, harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons Jumat lalu. Emas seakan menjadi "bungker" yang melindungi kekayaan dari penurunan nilai akibat kemerosotan ekonomi. 

Sepanjang tahun ini hingga akhir pekan lalu, harga emas dunia melesat lebih dari 33%.


Sebelum tahun ini, resesi terjadi pada tahun 2008, yang terkenal dengan nama Krisis Finansial Global (Global Financial Crisis/GFC). Amerika Serikat menjadi episentrum krisis, yang diawali dengan kredit macet di sektor properti (subprime mortgage), dan menimbulkan efek domino yang menyebabkan kebangkrutan pada beberapa lembaga keuangan, seperti Lehman Brothers.

Amerika Serikat akhirnya mengalami resesi yang berlangsung selama 4 kuartal. Kontraksi ekonomi AS dimulai pada kuartal III-2008, dan baru berhasil tumbuh satu tahun berselang.

Seperti diketahui GFC menjadi awal tren kenaikan emas dunia hingga akhirnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa US$ 1.920,3/troy ons pada September 2011. Rekor tersebut baru pecah lagi di di tahun ini.

Tetapi saat terjadi resesi di tahun 1998 di Asia termasuk Indonesia, yang saat itu dikenal dengan krisis moneter, harga emas justru membukukan kinerja negatif.

Krisis yang terjadi saat itu berawal di Thailand pada Juli 1997 sebelum merembet ke negara lainnya, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Refinitiv, di awal Juli harga emas dunia berada di level US$ 334/troy ons, setelah krisis terjadi bukannya menguat logam mulia ini justru melemah.

Di akhir 1997, emas berada di level US$ 288,8/troy ons, melemah 13,5% dibandingkan posisi awal Juli. Kemudian di akhir 1998 emas berada di US$ 288/troy ons, nyaris stagnan dibandingkan posisi akhir 1997.

Selanjutnya di akhir 1999, logam mulia ini berada di level US$ 287,5/troy ons, lagi-lagi nyaris stagnan.

HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading