Ini 7 Fakta Seputar Kasus Jouska, Bikin Klien Teriak Rugi

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
24 July 2020 10:40
ilustrasi Jouska

Jakarta, CNBC Indonesia - Awal pekan ini, masyarakat ramai membicarakan mengenai PT Jouska Finansial Indonesia atau Jouska yang diduga merugikan kliennya. Satgas Waspada Investasi (SWI) pun berencana memanggi Jouska untuk meminta penjelasan mengenai dugaan yang tersebut.

Awal mula kasus ini ketika seorang klien mengaku bahwa Jouska disebut telah melakukan pengelolaan dana yang tidak sesuai dengan kesepakatan sehingga menimbulkan kerugian. Ketua SWI Tongam L. Tobing mengatakan, pihaknya mencatat sudah ada sekitar 80 klien yang mengajukan aduan dengan permasalahan yang sama.

Oleh karenanya, SWI akan melakukan penyelidikan dan analisis kegiatan usaha Jouska sebagai perencana keuangan. Jika Jouska terbukti melenceng dari arah kegiatannya menjadi pengelola dan manajer investasi atau keuangan maka termasuk melanggar hukum pidana.


"Apabila nanti ada kegiatan-kegiatan dilakukan sudah melakukan seperti manajer investasi atau penasihat investasi berarti ini diduga tindak pidana tentunya seperti diatur dalam UU pasar modal. Sehingga nanti bisa masuk ke ranah hukum. Tapi nanti kita akan lihat dulu bagaimana pemeriksaan pada Jouska ini," ujar Tongam saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2020).

Berikut fakta-fakta kasus Jouska yang berhasil di himpun CNBC Indonesia:

- Jouska Mentransaksikan RDI Klien

Berdasarkan pengakuan klien ke CNBC Indonesia, Rekening Dana Investor bisa diakses oleh pihak Jouska. Bisa melakukan transaksi secara langsung, membeli dan menjual saham. Klien hanya mendapatkan pemberitahuan setelah jual-beli saham dilaksanakan. 

- Jouska Membeli Saham LUCK untuk Klien

Semua klien yang dihubungi oleh CNBC Indonesia menyampaikan Jouska telah membeli saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK). Ini menimbulkan banyak pertanyaan, apa hubungan antara Jouska dengan LUCK. 

- Bukan MI, tapi Kelola Dana Klien

Satgas Waspada Investasi (SWI) menduga ada penyalahgunaan kegiatan yang dilakukan oleh Jouska. Dimana kegiatan yang dilakukan tidak hanya menjadi penasihat keuangan tapi lebih dari itu.

Dugaan ini muncul dari hasil aduan klien Jouska yang diterima tim Satgas Waspada Investasi. Namun, ia mengatakan akan terus melakukan penelitian sehingga menemukan hasil yang tepat.

"Kalau kami lihat pengaduan dari masyarakat memang ada kecenderungan diduga Jouska ini juga selain memberikan nasihat-nasihat mengenai keuangan atau investasi juga melakukan eksekusi atau pengelola dana nasabah dan ini yang perlu kami cek kembali," ujarnya Ketua SWI Tongam L Tobing kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2020).

Menurutnya, setidaknya hingga saat ini sudah ada 80 aduan yang diterima SWI dari mantan klien Jouska terkait hal tersebut. Oleh karenanya pihaknya akan melakukan pemanggilan kepada Jouska untuk menjelaskan core bisnis mereka.

"Kami akan lihat dan kami akan panggil (untuk memastikan) apakah yang dilakukan Jouska sudah mengarah pada kegiatan penasihat investasi atau manajer investasi atau wakil manajer investasi," jelasnya.

Izin Bisnis Dipertanyakan

Ketua SWI Tongam L. Tobing mengatakan, pihaknya akan memanggil Jouska yang di jadwalkan pada oekan depan. Ada dua hal yang akan dimintakan penjelasan oleh satgas ini, yakni berkaitan dengan izin bisnis yang dilakukan perusahaan dan keselarasan bisnis dengan izin yang diperoleh perusahaan.

"Jadi kita akan panggil Jouska ini minggu depan untuk menjelaskan dua hal. Yang pertama mengenai izin kegiatan seperti apa, izin produk dan usahanya. Kedua kegiatan bisnisnya apa yang dilakukan sebenarnya," kata Tongam kepada CNBC Indonesia, Rabu (22/7/2020).

Dalam hal ini, SWI akan menindaklanjuti guna melihat adanya hal-hal yang dijalankan dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Menurut Tongam, kegiatan financial advisory yang menjadi bisnis utama Jouska memiliki batasan-batasan hanya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai produk keuangan dan investasi. Lembaga bukan lembaga yang melakukan eksekusi ataupun penempatan dana dalam produk investasi.

"Kegiatan financial advisor ini atau agregator ini merupakan inovasi baru termasuk inovasi keuangan digital yang perlu kita tangani sehingga masyarakat kita tidak dirugikan. Kita liat kalau sudah masuk ke penempatan atau eksekusi dia harusnya manajer investasi," imbuhnya.

- Ada 13 Kementerian dan Lembaga Koordinasi Kasus Jouska

Satgas Waspada Investasi (SWI) menegaskan bahwa penaganan kasus Jouska tidak akan melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kasus ini akan ditangani oleh pihaknya bersama dengan 13 Kementerian/Lembaga terkait.

Ketua SWI Tongam L Tobing menyebutkan, OJK tak ikut turun tangan karena Jouska tidak memiliki izin sebagai manajer investasi (MI). Sebab, Jouska hanya memiliki izin sebagai perencana keuangan.

"Pertama-tama perlu kami sampaikan bahwa Jouska ini tidak berada di bawah pengawasan OJK, karena memang tidak terdaftar atau tidak ada izin di OJK, sehingga kegiatan-kegiatan Jouska ini tentu tidak dikaitkan dengan OJK. Jadi yang melakukan penanganan dari Jouska ini adalah SWI karena tidak ada kaitannya dengan OJK," ujarnya saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2020).

- SWI Terima 80 Aduan Terkait Jouska

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing mengaku pihaknya telah menerima banyak aduan soal klien PT Jouska Finansial Indonesia (Jouska). Bahkan aduan ini mencapai 80 lebih.

Menurutnya, pengaduan dari masyarakat yang sudah diterima ini lebih dari cukup untuk menanggil hingga menyelidiki kegiatan usaha Jouska. Sebab, saat ini SWI tidak bisa langsung menyatakan Jouska bersalah atau tidak sebelum melakukan penyelidikan serta mendengarkan penjelasan dari pihak manajemen Jouska sendiri.

"Kalau saya lihat ada sekitar 80 ya Di tempat saya laporannya dan ini memang seragam semua kegiatannya," katanya.

- Merusak Citra Finansial Planner & Muncul Wacana Regulasi Profesi

Hebohnya kasus Jouska yang diduga merugikan kliennya menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi Jouska merupakan salah satu perencana keuangan yang menjadi pilihan kaum milenial.

Hal ini membuat Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) menyarankan agar semua usaha financial planner diregulasi. Sehingga kasus yang dialami oleh klien Jouska tidak terulang kembali.

Ketua APEI Octavianus Budiyanto menuturkan, sudah seharusnya perusahaan perusahaan konsultan investasi dan penasihat keuangan independen dan tidak terafiliasi dengan pihak manapun, termasuk dari perusahaan sekuritas.

"Kalau pun terafiliasi harus memberitahukan kepada kliennya karena ada kemungkinan conflict of interest. Sekuritas dalam hal ini hanya sebagai broker transaksi atas jual beli saham di mana hanya menjalankan instruksi transaksi atas instruksi dari nasabahnya," kata Oky, yang juga Direktur Utama PT Kresna Sekuritas ini kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2020).

Menurut Oky, sepanjang sekuritas melakukan transaksi dalam koridor aturan yang ada, salah satunya adalah adanya ketersediaan dana dan efek di rekening nasabah adalah hal yang wajar.

"Yang dilarang adalah transaksi dilakukan oleh financial planner untuk rekening nasabahnya di sekuritas walaupun ada surat kuasa transaksi dari nasabahnya," katanya lagi.

Oleh sebab itu, Oky juga mendesak agar perusahaan konsultan investasi dan penasihat keuangan, agar diberikan rambu-rambu yang tegas jika mengelola dana klien.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading