Tenang! Meski Drop, Emas Tetap Strong di Atas US$ 1.800/oz

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
16 July 2020 09:25
FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga logam mulia emas pada perdagangan pagi waktu Asia, Kamis (16/7/2020) melemah tipis. Kendati melemah harga emas masih kokoh di atas US$ 1.800/troy ons di sepanjang pekan ini. 

Pada 08.40 WIB harga emas dunia di pasar spot melemah 0,11% ke US$ 1.809,35/troy ons, setelah pada perdagangan sehari sebelumnya ditutup di level US$ 1.811,31/troy ons sekaligus menandai level tertinggi sepanjang pekan ini.


Optimisme seputar pengembangan vaksin untuk virus corona (SARS-CoV-2) yang positif membuat aset-aset berisiko terangkat naik. Hal ini membuat emas yang sudah melambung tinggi untuk melanjutkan apresiasinya.

Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) yakni Moderna Inc melaporkan hasil uji klinis tahap awal yang terbilang positif. Sebanyak 45 orang peserta terlibat dalam uji klinis fase satu pertengahan Maret lalu.

Setelah diinjeksi dengan kandidat vaksin mRNA-1273, semua peserta di berbagai kelompok uji terbukti menghasilkan antibodi. Perkembangan positif ini setidaknya mengirimkan optimisme ke pasar. 

Namun di sisi lain fundamental emas masih tetap terjaga. Berbagai risiko yang dihadapi perekonomian global masih tinggi. Pandemi masih belum berakhir, bahkan kasus baru terus bertambah. Korban masih berjatuhan. Beberapa wilayah terutama di AS mulai menerapkan lagi pembatasan. 

Di sisi lain hubungan Washington-Beijing juga kembali memanas. Presiden AS Donald Trump dikabarkan telah menandatangani aturan pencabutan status khusus Hong Kong sebagai bentuk sanksi untuk China. 

Kini, Hong Kong tak akan lagi dapat perlakuan khusus dari AS. Status khusus tak lagi melekat padanya, kini Hong Kong tak ubahnya seperti China daratan.

"Hong Kong sekarang akan diperlakukan sama dengan China daratan," kata Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, Selasa (14/7/2020) waktu setempat, sebagaimana dikutip dari CNBC International Rabu (15/7/2020),

"Tidak ada hak istimewa khusus, tidak ada perlakuan ekonomi khusus dan tidak ada ekspor teknologi yang sensitif. Selain itu, seperti yang Anda tahu, kami menempatkan tarif besar sekarang dan sebelumnya hingga kini sudah menempatkan tarif besar ke China."

Trump memang sangat geram dengan China akan banyak hal mulai dari praktik dagang yang dinilai tidak fair, tindakan sewenang-wenang China atas muslim Uyghur, pengesahan UU Keamanan Nasional Hong Kong yang dinilai merusak otonomi kota itu di bawah payung 'satu negara dua sistem' hingga klaim China terhadap Laut China Selatan (LCS). 

Tensi geopolitik yang tinggi semakin menambah runyam masalah yang dihadapi oleh perekonomian global. Di sisi lain, periode pemulihan yang masih kabur dan bahkan prospek yang semakin suram membuat pemerintah dan bank sentral diperkirakan bakal terus menggelontorkan stimulus. 

Kebijakan ultra longgar bank sentral global melalui penurunan suku bunga acuan secara agresif, pembelian aset-aset keuangan untuk memompa uang ke perekonomian, hingga stimulus fiskal membuat emas sebagai aset minim risiko (safe haven) sekaligus aset lindung nilai (hedge) mendapat berkah. 

"Harga emas dapat menyentuh US$ 2.000 per ons pada akhir tahun, didorong oleh rendahnya tingkat suku bunga riil, stimulus fiskal yang masif dan lemahnya perekonomian" kata Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures Chicago kepda Reuters.

Prospek emas untuk jangka menengah dan panjang masih dinilai cerah oleh banyak analis. Setelah level US$ 1.800 berhasil ditembus, maka level selanjutnya adalah US$ 1.900 dan US$ 2.000. 

Bahkan Bank of America (BoA) lebih bullish lagi karena memperkirakan harga emas bisa menyentuh US$ 3.000. Jika proyeksi BoA kesampaian, maka harga tersebut akan menjadi level tertinggi emas sepanjang masa yang baru. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading