Round Up Sepekan

Sepekan Anjlok! Harga Emas Sempat Bikin Jiper Investor

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
15 August 2020 10:30
A gold bar is pictured in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia pada perdagangan minggu ini terkoreksi cukup dalam sebesar 4,14% dari level awal pekan, 2.027,25/troy ons ke level 1.943,75/troy ons. Anjloknya harga emas merespons data perekonomian Amerika Serikat (AS) yang membaik ditambah dengan munculnya vaksin 'tiba-tiba' Sputnik V dari Russia.

Berikut tabel gerak emas di pasar spot dalam sepekan.


Dunia persilatan dibuat geger perdagangan Selasa (11/8/2020) akibat aksi ambil untung (profit taking) masif yang harga emas hari ini ambrol 5,7% ke US$ 1.911,24/troy ons di pasar spot.

Level tersebut merupakan yang terendah sejak 30 Juli. Jika dilihat dari rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons logam mulia ini merosot 7,77%.

Rekor tertinggi tersebut dicapai pada hari Jumat pekan lalu, tetapi di hari itu penurunan emas dimulai. Penyebabnya data tenaga kerja AS yang apik.

Departemen Tenaga Kerja AS hari ini melaporkan tingkat pengangguran di bulan Juli turun tajam menjadi 10,2% dari sebelumnya 11,1%. Selain itu, sepanjang bulan lalu, perekonomian AS kembali menyerap tenaga kerja di luar sektor pertanian, yang dikenal dengan istilah non-farm payrolls, sebanyak 1,763 juta orang, lebih banyak ketimbang prediksi di Forex Factory sebesar 1,53 juta.

Data-data tersebut menunjukkan perekonomian AS mulai bangkit setelah nyungsep hingga mengalami resesi di kuartal II-2020 lalu.

Tidak hanya itu, rata-rata gaji per jam juga mengalami kenaikan 0,2% di bulan Juli setelah menurun dalam 2 bulan beruntun. Kembali naiknya rata-rata gaji berpeluang meningkatkan belanja konsumen atau belanja rumah tangga yang merupakan tulang punggung perekonomian AS. Belanja rumah tangga berkontribusi sekitar 70% terhadap produk domestic bruto (PDB) AS.

Selain itu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani empat perintah eksekutif pada Sabtu (8/8/2020) waktu setempat atau Minggu (9/8/2020) WIB. Salah satu dari empat perintah eksekutif itu berisi bantuan langsung kepada pengangguran senilai US$ 400 per pekan.

Bantuan senilai US$ 400 per pekan tersebut tentunya akan meningkatkan daya beli warga AS, yang lagi-lagi berpotensi memberikan dampak signifikan ke PDB.

Membaiknya pasar tenaga kerja serta kebijakan bantuan langsung dari Trump membuat harapan perekonomian AS akan segara bangkit, daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven) menjadi luntur sehingga memicu aksi profit taking. 

Aksi profit taking kian menggila setelah media lokal Rusia memberitakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa pemerintahannya telah memberi persetujuan vaksin virus corona yang pertama di dunia.

Pengumuman tersebut membuat bursa saham Eropa hingga Amerika Serikat menguat tajam, harga emas pun terus merosot.

Syukur, perdagangan hari selanjutnya harga emas mulai 'recover' Penguatan harga emas hari ini juga tak terlepas dari melemahnya indeks dolar yang sudah beringas dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain ancaman perekonomian di masa mendatang juga masih ada. 

Sentimen positif bagi emas juga datang dari perkembangan terbaru seputar hubungan AS-China. Setelah saling memberikan sanksi terhadap pejabat masing-masing, duo raksasa ekonomi ini dikabarkan akan mereview kesepakatan dagang fase I pada pertengahan Agustus.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Wakil Perdana Menteri China Liu He akan mewakili kedua negara dalam review tersebut. Di bawah kesepakatan perdagangan fase satu, China telah berjanji untuk meningkatkan pembelian barang-barang AS sekitar US$ 200 miliar, termasuk produk pertanian dan manufaktur, energi dan jasa.

Mengingat adanya resesi akibat pandemi virus corona, China tertinggal dari target tahun pertamanya untuk meningkatkan pembelian sebesar US$ 77 miliar. Impor barang-barang pertanian lebih rendah dari level 2017, jauh di bawah 50% yang diperlukan untuk memenuhi target tahun 2020 sebesar US$ 36,5 miliar.

Apabila AS dan China sebagai dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tidak kunjung rujuk, maka tentunya perekonomian ekonomi yang masih sakit akibat pandemi virus corona pemulihanya tidak kunjung jelas. Hal ini bisa menyebabkan investor kembali memburu emas yang terkenal memiliki sifat lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading