Makin Gila! Ada yang Ramal Harga Emas US$ 15.000 Sebelum 2025

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 August 2020 07:28
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga logam mulia emas pada hari Selasa (4/7/2020) mengalami penurunan tipis setelah terus menerus mengalami reli tak terbendung. 

Pada pukul 06.00 WIB, harga emas dunia di pasar spot terkoreksi 0,2% ke level US$ 1.972,5/troy ons. Penguatan dolar AS yang tercermin dari mulai bangkitnya indeks dolar menjadi salah satu faktor yang membebani harga emas.

Emas merupakan komoditas yang ditransaksikan dalam dolar AS. Ketika dolar AS menguat di saat harga emas sudah terbilang 'mahal', maka minat beli pun ikut terdampak. Meski tergelincir harga logam mulia masih berada di rentang tertingginya sepanjang sejarah. 


Level resisten selanjutnya harga emas berada di US$ 2.000/troy ons. Untuk jangka pendek level tersebut diperkirakan menjadi level resisten kuat. Setelah mengalami apresiasi terus menerus, harga bullion memang rawan koreksi.

Namun untuk saat ini fundamental emas tak berubah. Kenaikan harga emas didukung oleh banyak faktor. Sebagai aset minim risiko (safe haven), emas banyak diburu terutama ketika kondisi ekonomi global sedang carut marut seperti sekarang ini. 

Periode pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang tak berkesudahan serta tensi geopolitik yang tinggi terutama antara Washington-Beijing membuat resesi global berpeluang semakin dalam. Periode pemulihan terancam berjalan lambat dan penuh ketidakpastian.

Emas tak hanya menjadi aset safe haven tetapi juga punya peranan dalam hal lindung nilai (hedging) dari inflasi.

Kebijakan bank sentral AS (Federal Reserves/the Fed) yang membabat habis suku bunga acuan serta mencetak uang melalui pelonggaran kuantitatif (QE) secara besar-besaran memang menimbulkan ancaman inflasi yang tinggi di masa mendatang. 

Dalam tiga puluh tahun terakhir terutama sejak tahun 1990, korelasi harga emas dan inflasi cenderung berbanding lurus. Semakin tinggi tingkat inflasi maka akan semakin tinggi pula harga emas. 

Di sisi lain kebijakan suku bunga rendah serta QE juga turut menekan imbal hasil dari surat utang pemerintah AS. Suku bunga riil kini sudah masuk ke teritori negatif. Pada akhirnya oppotunity cost untuk memegang aset tak berimbal hasil seperti emas menjadi rendah dan instrumen ini menjadi kian diminati para investor.

Fundamental pasar yang kuat membuat banyak pihak terutama pelaku pasar memproyeksikan harga emas masih bakal bullish untuk jangka menengah dan panjang. Baru-baru ini bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan harga emas berpotensi menyentuh US$ 2.300.

Sementara itu Bank of Amerika (BoA) memproyeksikan harga emas bisa menyentuh harga US$ 3.000/troy ons atau 50% dari level tertingginya sepanjang sejarah untuk saat ini. 

Ada yang lebih bullish lagi ketimbang BoA. Kepala ahli strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen memprediksi harga emas bakal menyentuh US$ 4.000/troy ons. Lebih ekstrem lagi adalah ramalan pendiri Myrmikan Capital yaitu Dan Olivier yang mengatakan harga emas bisa sentuh US$ 10.000/troy ons. 

Berbeda dengan yang lainnya yang memiliki timeframe di kisaran waktu 1-1,5 tahun ke depan, ramalan Dan Olivier tidak secara spesifik menyebutkan kapan harga emas bakal mencapai level tersebut.

Namun ternyata ada ramalan yang jauh lebih ekstrem daripada itu. Jim Rickards selaku penulis buku best seller serta Peter Schiff selaku CEO Euro Pasific Capital memandang reli emas masih jauh dari kata berakhir.

Analisis Rickards bahkan meramal harga emas bisa ke US$ 15.000 pada 2025. Sungguh angka yang sangat fantastis tentunya jika melihat harga hari ini yang masih belum mampu tembus ke angka US$ 2.000.

"Saya kira harga emas bakal sentuh US$ 15.000 per ons sebelum 2024" kata Rickards pada Kitco News. 

"Jika Anda mengambil rata-rata pada reli pasar sebelumnya : 1971 hingga 1980, dalam periode sembilan tahun tersebut harga emas naik 2200%, pada 1999-2011, 12 tahun pasar mengalami kenaikan signifikan hingga 700%. Ambil saja rata-ratanya, Anda tak perlu mengambil harga tertingginya atau melakukan ekstrapolasi, jika Anda mengambil rata-rata dari keduanya, maka reli pasar selanjutnya bakal lebih lama dari 10 tahun dan akan naik hingga 1500%" katanya. 

Beralih ke ramalan Schiff, metode yang digunakan oleh CEO Euro Pasific Capital ini adalah menggunakan rasio antara indeks Dow Jones dengan harga emas. Jika menggunakan rasio 1:1, maka harga emas seharusnya berada di US$ 26.000. Lebih fantastis lagi tentunya. 

Namun terlepas dari itu semua harga emas masih belum mampu menembus level US$ 2.000 sampai hari ini. Setidaknya sebelum memandang terlalu jauh, harga emas harus melampaui level US$ 2.000 terlebih dahulu.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading