Newsletter

Ada Kabar Baik & Buruk, Monggo Dicermati

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 July 2020 06:04
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kemarin ditutup variatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau dengan penguatan tipis, sementara rupiah dan obligasi rupiah pemerintah RI mengalami koreksi. 

Mayoritas pasar saham kawasan Asia kemarin berhasil finish di zona hijau. Meski data produksi industri Jepang terkontraksi -8,4% jauh lebih buruk dari perkiraan di -5,6% untuk bulan Mei, ekspansi sektor manufaktur China masih mampu memberi tenaga bagi bursa saham Benua Kuning. 


Angka Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur China mengalami kenaikan pada bulan Juni ke 50,9 dari bulan lalu hanya 50,2. Kenaikan ini juga masih jauh lebih baik dari perkiraan konsensus di 50,4.

IHSG pun mengekor kawan-kawannya dan ditutup dengan penguatan, walaupun tipis saja. IHSG mengalami apresiasi 0,073% ke 4.905,392 pada penutupan perdagangan kemarin.

Kendati menguat, investor asing masih melepas kepemilikan sahamnya di RI. Hal ini tercermin dari aksi jual bersih yang dibukukan oleh asing dengan nilai sebesar Rp 467 miliar. Saham yang paling banyak dilego asing adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan net sell mencapai Rp 217 miliar.

Beralih ke pasar Surat Utang Negara (SUN), imbal hasil (yield) obligasi rupiah pemerintah RI terpantau mengalami kenaikan yang mengindikasikan adanya penurunan harga. Obligasi rupiah tenor 10 dan 15 tahun mengalami kenaikan yield sebesar 3,9 basis poin (bps).

Kemarin pemerintah juga melakukan lelang tujuh seri SUN guna membiayai sebagian dari APBN 2020. Target indikatif dari lelang kemarin adalah Rp 20 triliun dengan target maksimal Rp 40 triliun. 

Permintaan yang masuk mencapai Rp 72,03 triliun. Artinya ada oversubscibed sebanyak 3,6x. Hal ini mencerminkan bahwa minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap (fixed income) di dalam negeri masih baik, mengingat imbal hasil yang ditawarkan masih tergolong menarik. 

Sementara itu, nilai tukar rupiah justru harus mengalami pelemahan di hadapan dolar AS. Pada perdagangan spot kemarin untuk US$ 1 dibanderol Rp 14.180. Nilai tukar rupiah sempat melemah 0,49% ke Rp 14.240/US$.

Namun di akhir perdagangan pelemahan mata uang Garuda terpangkas. Rupiah berakhir dengan depresiasi tipis 0,07%. 

Kendati Badan Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti hal yang buruk belum terlewati akibat lonjakan kasus baru akhir-akhir ini. Sentimen terhadap risiko masih terbilang bagus tercermin dari penguatan harga aset-aset berisiko seperti saham. 

"Meski banyak negara sudah membuat kemajuan, secara global, pandemi terus merebak dengan pesat" kata Direktur Jendral WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah video konferensi.

"The worst is yet to come" begitu kata Tedhros. "Saya mohon maaf harus mengatakan hal tersebut, tetapi dengan kondisis seperti sekarang ini kita takut hal yang terburuk akan tejadi. Oleh sebab itu kita harus menyatukan tindakan untuk melawan virus be

Dow Jones Cetak Kinerja Kuartalan Terbaik Sejak 1987
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading