Asing Kabur Rp 2,2 T, IHSG Pekan Ini Ambles Hampir 1%

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
27 June 2020 14:02
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sepekan terakhir indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami pelemahan. Sentimen negatif dari dalam dan luar memang cenderung dominan sehingga membuat indeks utama bursa saham Tanah Air terkoreksi. 

IHSG terpangkas 0,77% dalam seminggu ini. Pada perdagangan Jumat (26/6/2020) IHSG ditutup di 4.904,088. IHSG mencatatkan level tertingginya di 4.964,735 dan terendahnya di 4.879,133 sepekan ini. Asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 2,22 triliun di semua pasar. 

Sentimen buruk datang membayangi pasar saham pekan ini. Beberapa negara kembali melaporkan tingginya pertambahan kasus baru infeksi Covid-19. Jumlah orang yang terjangkit secara global kini dekati angka 10 juta. 


Sampai dengan hari ini Sabtu (27/6/2020) data kompilasi real time John Hopkins University CSSE menunjukkan sudah ada 9,78 juta orang di dunia yang terjangkit virus ganas yang awalnya merebak di Wuhan itu.

Di AS kasus baru bertambah 40 ribu dalam satu hari pada 25 Juni lalu dan ini menjadi angka pertambahan kasus yang tertinggi yang pernah tercatat sejak AS terjangkit wabah Covid-19.

Sementara itu di saat yang sama, India juga mencatatkan rekor pertambahan kasus hariannya dengan 17,3 ribu kasus dalam sehari.

Beralih ke dalam negeri, jumlah kasus di Indonesia telah mencapai angka 51.427 hingga kemarin. Kini Indonesia menjadi pemimpin klasemen negara dengan jumlah kasus infeksi Covid-19 terbanyak di Asia Tenggara dan telah menyalip Singapura.

Di Indonesia jumlah kasus per hari yang dilaporkan mengalami fluktuasi cenderung meningkat dengan laju rata-rata kasus per harinya sepekan terakhir mencapai angka 1.000 kasus/hari.

Peningkatan kasus ini memicu kekhawatiran di pasar dan sentimen terhadap risiko pun memburuk. Aset-aset seperti saham dilego yang berujung pada anjloknya tiga indeks saham utama bursa New York.

Di hari terakhir perdagangan pekan ini, indeks Dow Jones ambles 2,84%, S&P 500 turun 2,42% dan Nasdaq Composite terpangkas 2,59%. Investor beralih ke aset lain yang lebih aman seperti emas dan surat utang pemerintah AS.

Hanya tiga indeks utama saham Asia yang berhasil selamat dari koreksi pekan ini yaitu Sensex (India), Shang Hai Composite (China) dan Taiwan Weighted (Taiwan). Itu pun China dan Taiwan libur pada Kamis dan Jumat kemarin merayakan festival yang dikenal dengan nama Peh Cun kalau di Indonesia. 

Pasar juga mendapat kabar tak sedap yang datang dari Dana Moneter Internasional (IMF). Lembaga keuangan global yang bermarkas di Washington DC tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2020 sebesar 1,9 poin persentase menjadi minus 4,9%.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI juga dipangkas 1,8 poin persentase menjadi minus 0,3% dari sebelumnya tumbuh 1,5%. Tak hanya IMF, lembaga lain yang juga 'meramal' ekonomi RI minus tahun ini adalah bank terbesar di Asia Tenggara yakni DBS. DBS memperkirakan ekonomi RI terkontraksi minus 1% untuk tahun ini.

Wabah Covid-19 yang merebak di Tanah Air tak kunjung usai. Mulai bulan April banyak wilayah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun PSBB juga membawa konsekuensi bagi ekonomi. 

Mobilitas yang dibatasi membuat aktivitas ekonomi terganggu. Perusahaan jadi mengerem investasi dan belanja modalnya, sektor manufaktur mengalami kontraksi, banyak terjadi PHK, masyarakat menjadi pesimis karena pendapatannya menurun dan daya beli pun tergerus. 

Penjualan ritel hingga barang tahan lama (durable goods) seperti mobil anjlok signifikan pada April dan Mei. Inflasi tercatat rendah di kedua bulan tersebut. Padahal ada momentum puasa Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Namun momentum itu tak mampu mendorong konsumsi. 

Di saat Indonesia menerapkan PSBB, negara-negara lain juga tengah melakukan lockdown. Ada hampir 3 miliar manusia di planet bumi terkurung dan terisolasi di rumah masing-masing. 

Fenomena lockdown menyebabkan pukulan ganda (double hit) berupa disrupsi rantai pasok dan lemahnya permintaan. Volume perdagangan global terkontraksi. Kegiatan ekspor-impor Indonesia anjlok signifikan.

Namun dengan kondisi yang memburuk seperti ini harga aset-aset keuangan malah reli terutama untuk saham. Setelah anjlok lebih dari 30% pada Maret lalu, kini secara year to date, S&P 500 hanya terkoreksi 6,98% saja. Artinya ada periode reli harga saham di bursa New York. 

Reli harga saham ini dinilai IMF sebagai fenomena diskoneksi antara pasar dan perekonomian. IMF mewanti-wanti bahwa fenomena ini harus diwaspadai karena berpotensi untuk menyebabkan koreksi di masa mendatang.

"Diskoneksi antara pasar dan ekonomi riil meningkatkan risiko terjadinya koreksi harga aset-aset keuangan ketika selera investor terhadap risiko memudar, hal ini akan menjadi ancaman untuk pemulihan" kata IMF dalam Global Financial Stability Report.

"Mengacu pada pemodelan yang dibuat oleh staf IMF, perbedaan antara harga pasar dan valuasi fundamentalnya berada di level tertinggi dalam sejarah hampir di seluruh negara maju untuk pasar saham dan surat utangnya, meski yang terjadi justru sebaliknya untuk saham di beberapa negara berkembang" tulis laporan tersebut.

Menurut IMF, perubahan sentimen di pasar dapat meliputi ancaman gelombang kedua wabah Covid-19, kerusuhan sosial, perubahan kebijakan moneter dan kembali tegangnya hubungan dagang antar negara. 

Lebih lanjut IMF juga menyoroti adanya risiko non-bank untuk perusahaan keuangan seperti para pengelola dana yang juga dapat mengalami guncangan bahkan gelombang insolvensi. Hal ini akan makin menambah tekanan di pasar.

"Contohnya adalah jika terjadi tekanan besar pada harga aset-aset keuangan, hal ini akan memicu terjadinya outflow dana investasi yang pada akhirnya akan memicu aksi jual besar-besaran dari para manajer investasi dan pasar akan sangat tertekan" kata IMF.

Ini adalah risiko yang tengah dihadapi oleh pasar saat ini. Sementara dari dalam negeri kabar tak enak juga datang dari keterlibatan 13 perusahaan manajer investasi dan satu pegawai OJK yang terlibat dalam mega skandal korupsi Jiwasraya. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading