Internasional

Ikut Jejak Rupiah, Euro Hempaskan Dolar AS 7 Hari Beruntun

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
04 June 2020 07:00
A 20 and 50 Euro bank note are seen in front of a cash drawer with Swiss francs in Bern January 16, 2015. REUTERS/Thomas Hodel
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang euro menguat terhadap dolar AS dalam 7 hari beruntun pada perdagangan Rabu (3/6/2020), menjadikan apresiasi terlama melawan greenback sejak Desember 2013 seiring dengan sentimen positif langkah pemulihan ekonomi Uni Eropa dari pandemi virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data CNBC, pada perdagangan Rabu waktu AS tadi malam, kurs euro naik 0,2% di level US$ 1,119, ini adalah level tertinggi dalam 11 pekan terakhir karena greenback terus terdepresiasi terhadap sebagian besar mata uang utama dunia di tengah aksi investor yang mulai berani mengambil risiko (risk appetite).

Euro hampir kembali ke nilai dolar pada awal tahun karena pandemi coronavirus menyebar ke seluruh dunia dan membuat investor mencari perlindungan ke aset-aset safe haven alias aman. Dolar AS dikenal sebagai salah satu mata uang safe haven selain juga yen Jepang.


Depresiasi dolar selama beberapa hari terakhir dipicu oleh optimisme pembukaan kembali ekonomi negara-negara Barat setelah dilakukan lockdown karena virus korona yang berkepanjangan, mulai berkurangnya infeksi coroan sejauh ini, dan harapan adanya langkah stimulus moneter lebih lanjut dari sejumlah bank sentral.


Di pasar saham, penguatan juga terjadi meskipun pelaku pasar diterpa ketidakpastian seputar ketegangan antara AS dan China, dan kerusuhan massal di Amerika Serikat. Investor tampaknya lebih peduli pada proyeksi jangka panjang dengan pembukaan ekonomi, ketimbang sentimen jangka pendek.

"Pasar merupakan sebuah mekanisme melihat ke depan, 3 bulan dari sekarang, atau 9 bulan dari sekarang semua akan terkendali. Perekonomian akan kembali, pendapatan juga pulih," kata Steven DeSanctis, ahli strategi saham di bank investasi Jefferies Group, dilansir CNBC International.


Euro kini dipandang sebagai salah satu mata uang yang mendapatkan 'berkah' dari langkah investor yang mulai menjauhi dari dolar, yang memang secara tradisional dipandang sebagai mata uang safe-haven.

Ketertarikan atas euro datang setelah Komisi Eropa meluncurkan rencana dana talangan mencapai 750 miliar euro atau US$ 826,5 miliar untuk membantu ekonomi zona euro mengurangi kerusakan dari dampak pandemi Covid-19. Dana itu terdiri dari 500 miliar euro dalam bentuk hibah dan 250 miliar euro dalam bentuk pinjaman.

"Dana Pemulihan Uni Eropa ini harus bekerja keras untuk menopang arsitektur fiskal yang rumit di kawasan ini," demikian analisis Goldman Sachs.

Dua Co-heads of Global FX Goldman, Kamakshya Trivedi dan Zach Pandl, mengatakan jika dana pemulihan Eropa itu mendapatkan dukungan di antara negara-negara anggota UE, maka suntikan itu bisa menjadi "langkah besar menuju koordinasi kebijakan fiskal yang lebih besar di wilayah tersebut.


"Jika [dana itu] disebar selama tiga tahun, itu bisa menggandakan pengeluaran tahunan UE dalam satu kali kejadian," tulis keduanya.

"Selain itu, nilai pinjaman Uni Eropa yang lebih besar ini akan memberikan sumber utang baru dalam denominasi euro dengan rate [bunga] tinggi untuk investor global," tulis mereka. Ini yang membuat banyak pengamat mempertimbangkan alasan mengapa euro akan bersaing dengan dolar AS dalam peran sentralnya di perdagangan dan keuangan global.

Analis Goldman ini menilai meski ada kehati-hatian dari investor terhadap ase-aset di Eropa dalam waktu dekat (sebagian besar disebabkan oleh rendahnya imbal hasil obligasi dan pertumbuhan pendapatan perusahaan yang lamban), tapi kebijakan strategi dari UE dalam hal integrasi fiskal memberikan keyakinan yang lebih besar bahwa "apresiasi euro akan melemahkah dolar AS."

Data ekonomi UE juga mulai positif. Pembacaan Purchasing Managers' Index (PMI) komposit zona euro (indeks manajer pembelian) membaik pada Mei, berada di angka 30, sementara angka di atas 50 sebagai bentuk pemulihan ekonomi negeri itu. Investor akan mengawasi PMI selama beberapa bulan ke depan untuk menilai pemulihan ekonomi UE.

Bank Sentral Eropa (ECB) juga akan mengeluarkan keputusan kebijakan moneter terbaru pada Kamis, pelaku pasar pun mengantisipasi potensi peningkatan dana Program Pembelian Darurat Pandemi (Pandemic Emergency Purchase Programme/PEPP ) untuk menyerap lebih banyak utang di kawasan ini yang dihantam Covid-19.

Tim Riset CNBC Indonesia mencatat, dolar AS memang tengah "dibuang" oleh pelaku pasar, dan memilih mata uang Asia dan Eropa di pekan ini. Hal tersebut tercermin dari merosotnya indeks dolar AS hingga ke level terlemah dalam 3 bulan terakhir. 

Sentimen pelaku pasar yang sedang bagus membuat daya tarik dolar AS sebagai aset aman menurun. Makin intensnya kerusuhan di Negeri Paman Sam membuat daya tarik dolar AS menurun.

Mayoritas mata uang utama Asia menguat melawan dolar AS pada perdagangan Rabu kemarin (3/6). Rupiah sekali lagi memimpin penguatan sebesar 2,29%, jauh unggul dibandingkan mata uang lainnya. Hanya yuan China, rupee India, dan yen Jepang yang melemah melawan dolar AS.



Dari Eropa, euro dan poundsterling masing-masing menguat 0,29% dan 0,28% ke 1,2101/US$ dan 1,2583/US$. Hanya franc Swiss yang melemah 0,14%. Melemahnya yen Jepang dan franc Swiss, yang juga merupakan mata uang safe haven, menjadi indikasi sentimen pelaku pasar sedang bagus-bagusnya.

Akibat pelemahan tersebut, indeks dolar (DXY) melemah 0,17% ke 97,509 pada pukul 18:06 WIB tadi malam. Level itu merupakan yang terendah sejak 12 Maret lalu. Sejak awal pekan, indeks yang jadi tolak ukur kekuatan dolar AS ini sudah melemah 0,85% sementara jika dilihat sejak pekan lalu, ketika kerusuhan mulai pecah di AS, indeks dolar sudah ambles 2,18%.




[Gambas:Video CNBC]



(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading