Saat Mood Investor Bagus, Rupiah "Seng Ada Lawan"

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 June 2020 12:15
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sedang perkasa pada perdagangan Rabu (3/5/2020), dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Asia hingga mata uang Eropa semua dilibas. Sentimen pelaku pasar yang sedang bagus merespon new normal menjadi penopang penguatan rupiah.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah langsung melesat 1,18% ke Rp 14.210/US$, apresiasi rupiah semakin bertambah hingga 1,6% di Rp 14.150/US$, sebelum terpangkas dan berada di Rp 14.180/US$, menguat 1,39% pada pukul 12:00 WIB, di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Mata uang Asia hingga Eropa semua dibuat melemah lebih dari 1% melawan rupiah. Hanya dolar Australia yang pelemahannya di bawah 1%.




Mood pelaku pasar global sedang bagus akibat new normal atau singkatnya menjalankan kehidupan dengan protokol kesehatan yang ketat di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) mulai dilakukan di seluruh belahan bumi ini. Dengan demikian, roda bisnis perlahan kembali berputar sehingga berpeluang terlepas dari ancaman resesi global.

Negara-negara di Asia dan Eropa hampir semuanya akan memutar kembali roda perekonomiannya dengan melonggarkan kebijakan karantina wilayah (lockdown). Begitu juga dengan Amerika Serikat, negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia.

Ketika mood investor sedang bagus, aliran modal akan kembali masuk ke negara emerging market yang memberikan imbal hasil tinggi. Aset-aset Indonesia pun menarik kembali, rupiah pun "seng ada lawan" alias tanpa tanding. 



Derasnya aliran modal ke dalam negeri terbukti dari lelang obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) kemarin yang penawarannya mencapai 105,27 triliun. Ada 7 seri SBN yang dilelang kemarin, dengan target indikatif pemerintah sebesar US$ 20 triliun, artinya terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) 5,2 kali.

Pemerintah menyerap Rp 24,3 triliun dari seluruh penawaran yang masuk, di atas target indikatif, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.

Rupiah juga didukung data-data terbaru dari dalam negeri juga mendukung penguatan rupiah. Kemarin, data purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia bulan Mei dirilis sedikit membaik, menjadi 28,6 dari bulan April sebesar 27,5. Meski masih berkontraksi (di bawah 50), setidaknya angka indeks mulai bergerak naik. Dengan penerapan new normal mulai bulan ini, PMI manufaktur tentunya akan semakin naik, dan tidak menutup kemungkinan kembali berekspansi (di atas 50).

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2020. BPS mencatat terjadi inflasi 0,07% di Mei 2020. Sebanyak 67 kota terjadi inflasi sementara 23 kota deflasi.

Rendahnya inflasi memang bisa memberikan gambaran penurunan daya beli masyarakat akibat banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19. Tetapi secara investasi, inflasi yang rendah membuat riil return berinvestasi di Indonesia menjadi lebih tinggi. Sehingga aliran modal asing bisa deras masuk ke dalam negeri, dan rupiah menjadi perkasa.

TIM RISET CNBC INDONESIA 
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading