Trump Turunkan Militer, Dolar "Dihabisi" Mata Uang Asia-Eropa

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 June 2020 19:16
FILE PHOTO: U.S. dollar and China yuan notes are seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) terpuruk pada perdagangan Selasa (2/6/2020) akibat kerusuhan yang terjadi di Negeri Sam. Di sisi lain, mood pelaku pasar global sedang bagus menyambut situasi normal baru (new normal), yang membuat dolar AS semakin terpukul.

Di perdagangan sesi Asia, dolar AS dibuat KO (knockout/dipukul jatuh) oleh mayoritas mata uang Benua Kuning. Rupiah memimpin penguatan mata uang Asia setelah melesat 1,34%.






Kemudian di Eropa, dolar AS juga merosot. Pada pukul 18.17 WIB, euro menguat 0,25% ke US$ 1,1162, poundsterling 0,38% US$ 1,2540 dan franc Swiss menguat 0,15% ke 0,9621/US$. Akibatnya, indeks dolar (DXY) hari ini turun ke 97,617, yang merupakan level terendah sejak pertengahan Maret lalu. DXY kerap dijadikan ukur kekuatan dolar AS.

Demonstrasi yang berujung kerusuhan di AS sudah berlangsung selama 7 hari. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan telah memerintahkan ribuan tentara yang bersenjata lengkap, personel militer dan petugas penegak hukum untuk mengamankan demo anti-rasisme.

"Saya memobilisasi semua sumber daya federal dan lokal, sipil dan militer, untuk melindungi hak-hak hukum orang Amerika yang taat," kata Trump dalam pidato di Gedung Putih, Senin (1/6/2020).

"Hari ini saya sangat merekomendasikan kepada setiap gubernur untuk mengerahkan Pengawal Nasional (Garda Nasional) dalam jumlah yang cukup sehingga kita mendominasi jalanan. Walikota dan gubernur harus membangun kehadiran yang luar biasa sampai kekerasan diatasi," tambah Trump, sebagaimana dilaporkan CNBC International.



Saat Amerika disibukkan dengan kerusuhan, sentimen pelaku pasar global sedang bagus setelah negara-negara di berbagai belahan dunia melonggarkan kebijakan karantina wilayah (lokcdown) dan memulai new normal atau singkatnya menjalankan kehidupan dengan protokol kesehatan ketat di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Dalam kehidupan new normal, roda bisnis kembali diputar secara perlahan sehingga bisa terhindar daru resesi panjang. Dolar AS yang secara tradisional dipandang sebagai aset aman (safe haven) menjadi kurang menarik, sehingga nilainya berisiko tertekan.

Bank investasi ternama, Goldman Sachs, bahkan merekomendasikan untuk menjual (short) dolar AS ketika roda perekonomian kembali diputar. Secara khusus, mereka memilih melihat mata uang krona Norwegia (NOK) akan sangat unggul saat new nomal sehingga Goldman memberikan saran jual (short) pasangan dolar AS dan beli (long) untuk krona.

Dalam catatan yang dikutip CNBC International, analis Goldman Sachs melihat infrastruktur kesehatan Norwegia dan posisi fiskal yang bagus sebagai dasar saran tersebut. Kondisi demografi yang unik dan infrastruktur medis yang kuat menjadikan negara ini lebih siap menghadapi wabah ketimbang banyak negara lain. 


"[Ditambah lagi] posisi fiskal yang kuat menempatkan [Norwegia] pada keuntungan yang berbeda," tulis analis Goldman, yang dipimpin oleh Co-Head pertukaran mata uang global Goldman, Zach Pandl dan Kamakshya Trivedi, dalam catatan, dilansir CNBC International, Selasa (2/6/2020).

"Saat [negara] lain terpaksa membatasi dukungan kebijakan fiskal atau secara dramatis menambah pinjaman - keduanya berpotensi memicu mata uangnya negatif - Norwegia mampu mengembalikan dana dari investasinya di luar negeri, membantu mendukung ekonomi dan mata uangnya [terapresiasi]," tulis Goldman.

Dalam trading forex, posisi yang diambil adalah jual (short) pasangan USD/NOK, dan Goldman memberi target ke level 8,75/USD, dengan level stop loss (berhenti) jika krona terdepresiasi ke level 10,25/US$. Krona Norwegia berada di level 9,56/US$, menguat 0,42% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading