Songsong New Normal, Harga Batu Bara, Minyak & CPO Rebound!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
29 May 2020 13:58
The sun sets behind an idle pump jack near Karnes City, Texas, Wednesday, April 8, 2020. Demand for oil continues to fall due to the new coronavirus outbreak. (AP Photo/Eric Gay)
Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi yang diakibatkan oleh virus corona (Covid-19) mengakibatkan melemahnya permintaan global dan disrupsi dari sisi rantai pasok. Harga-harga komoditas berguguran. Namun seiring dengan pelonggaran lockdown dan segala pembatasannya menyongsong era new normal harga komoditas mulai rebound

Tahun 2020 seolah jadi periode dengan peruntungan yang buruk (bad luck) bagi perekonomian global. Wabah Covid-19 yang merebak di lebih dari 200 negara dan teritori di berbagai penjuru dunia menyebabkan krisis kesehatan yang menyeret performa ekonomi global anjlok. 

Banyak negara yang terjangkit memilih untuk mengambil tindakan ketat seperti karantina wilayah (lockdown) untuk menekan angka penyebaran kasus Covid-19. Tak kurang dari 3 miliar orang dipaksa untuk #stayathome dalam jangka waktu berbulan-bulan. 


Lockdown bukan berarti menghendaki orang-orang untuk bekerja, beribadah dan belajar dari rumah saja. Lebih dari itu lockdown juga menimbulkan sederet konsekuensi yang ongkosnya jelas besar bagi perekonomian suatu negara.


Roda ekonomi dipaksa melambat, bahkan nyaris berhenti. Perkantoran tutup, pabrik-pabrik pun kosong atau tetap beroperasi dengan kapasitas yang lebih rendah. Artinya produksi turun yang berakibat pada terganggunya rantai pasok dan dirumahkannya para pegawai.

Bukan hanya dirumahkan saja tetapi banyak juga yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK) sehingga statusnya berubah jadi pengangguran. Daya beli melemah dan permintaan terseret turun. Lockdown pada akhirnya membawa dampak negatif ganda (double hit) pada perekonomian.

Memang tidak semua negara menerapkan lockdown. Ada juga yang hanya menerapkan pembatasan sosial (social distancing) seperti Korea Selatan misalnya. Namun tetap saja kinerja ekonominya goyah. Volume perdagangan pun mengalami kontraksi. Akibatnya harga-harga komoditas anjlok parah.

Lockdown otomatis menyebabkan penumpang pesawat anjlok, sektor transportasi lumpuh dan permintaan bahan bakar melorot. Harga minyak mentah pun terjun bebas. Amblesnya harga minyak juga dibarengi dengan pelemahan permintaan ikut menyeret harga komoditas lain jadi 'tumbal'.

Berkurangnya aktivitas di perkantoran, pabrik hingga pusat perbelanjaan berarti permintaan listrik dari sektor komersil dan industri mengalami penurunan. Harga batu bara yang awalnya stabil ikut terpuruk dan terjun ke bawah level US$ 60/ton.

Hotel dan restoran yang sepi pengunjung juga mengindikasikan bahwa permintaan terhadap minyak nabati ikut tergerus. Jika ditambah dengan anjloknya harga minyak yang membuat CPO jadi kurang kompetitif untuk bahan baku biodiesel membuat harga komoditas unggulan Indonesia & Malaysia ini ikut ambrol tak karuan.



Namun seiring dengan penurunan jumlah kasus infeksi Covid-19, banyak negara yang mulai melonggarkan pembatasannya. Pada akhir April setidaknya ada 32 negara (mayoritas negara-negara Eropa) yang mulai memilih untuk tidak terlalu ketat dalam melaksanakan upaya penanganan wabahnya.

Aktivitas ekonomi pun tampak mulai bergeliat. Terutama ekonomi China yang lebih dulu mendeklarasikan kemenangannya dalam peperangan melawan musuh ultra mikroskopik.

China dengan populasinya yang sangat besar serta ekonominya yang ditopang oleh konsumsi domestik membuatnya menjadi salah satu negara dengan konsumsi komoditas terbesar di dunia.

Sehingga wajar saja ketika semakin banyak negara yang melonggarkan lockdown prospek ekonominya semakin membaik dan permintaan pun bisa ikut terkerek. Dampaknya pun dirasakan oleh pasar komoditas. Memasuki bulan Mei dengan bertambahnya negara yang melakukan pelonggaran, harga komoditas mulai merangkak naik.

Namun tetap saja harga komoditas masih anjlok signifikan jika dibandingkan dengan posisinya di awal tahun ini. Lagipula tantangan yang dihadapi pasar komoditas pada dasarnya masih sama dan termasuk besar. 

Eskalasi konflik duo raksasa ekonomi dunia yakni AS dan China membuat prospek perekonomian global jadi semakin suram. Hal ini bisa berdampak pada makin lambatnya periode pemulihan yang diharapkan bisa mengerek permintaan dan harga komoditas.

Di sisi lain reopening perekonomian yang momentumnya tidak tepat juga sangat riskan dengan terjadinya gelombang kedua wabah. Dari sisi sektoral juga masing-masing komoditas masih menghadapi berbagai permasalahan yang rumit. 

Di pasar energi terutama untuk komoditas minyak mentah, risiko masih datang dari tensi geopolitik di Timur Tengah, hubungan Arab dan Rusia yang sempat renggang karena beda pendapat dalam mewujudkan stabilitas di pasar hingga kepatuhan anggota produsen minyak (OPEC+) dalam menjalankan komitmennya untuk memangkas output-nya. 

Sementara untuk komoditas batu bara, ketegangan yang terjadi antara Beijing dan Canberra juga berpotensi membuat impor batu bara China dari Negeri Kanguru turun. Menambah prospek yang gloomy untuk permintaan batu bara adalah semakin terjangkaunya sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berbagai dorongan publik untuk beralih ke energi alternatif yang lebih environmentally friendly.

Harga gas alam sebagai produk substitusi batu bara yang melemah dan pasokannya yang melimpah membuat permintaan batu bara semakin terancam ketika negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan lebih memilih gas dibanding batu bara.

Sedangkan untuk harga CPO, tantangannya adalah terletak pada hubungan diplomatik India-Malaysia serta seasonality produksi yang biasanya mengalami kenaikan pada kuartal kedua di berbagai kebun sawit RI maupun Malaysia.

Pada akhirnya, jawaban dari apakah harga komoditas akan berangsur pulih atau tidak sangat tergantung pada seberapa cepat ekonomi global pulih. Jika pemulihannya lama jelas itu bukan kabar yang baik untuk harga-harga komoditas.



TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]




(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading