Mau Tahu Harga Emas 10 Tahun ke Depan? Ini Ramalan Analis

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 May 2020 18:42
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Jumat (20/5/2020) setelah merosot pada perdagangan kemarin. Logam mulai ini menjadi salah satu aset yang paling bersinar di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat perekonomian global merosot hingga ke jurang resesi.

Pada pukul 17:54 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.734,4/troy ons di pasar spot melansir data Refinitiv, sementara Kamis kemarin emas merosot 1,36%.

Sepanjang tahun ini, emas sudah menguat lebih dari 13% dan berada di dekat level tertinggi 8 tahun. Volatilitas emas juga sedang tinggi, dan diprediksi akan meningkat di tahun ini atau dalam 10 tahun ke depan oleh Shaun Djie, co-founder Digix. Djie juga mengatakan banyak investor akan memburu emas baik dalam bentuk fisik maupun digital.


"Outlook saya untuk emas sangat bullish. Harga emas masih memiliki ruang yang besar untuk menguat. Saat ini kita lihat emas di kisaran US$ 1.750/troy ons, tapi memiliki potensi ke US$ 1.800 atau bahkan ke US$ 1.900/troy ons di kuartal selanjutnya," kata Djie sebagaimana dilansir Kitco.

Dasar prediksi tersebut samas dengan yang banyak analis sebutkan, kebijakan bank sentral suku bunga rendah dan program pembelian aset (quantitative easing/QE) bank sentral global. Kebijakan tersebut membuat perekonomian banjir likuiditas, dan emas diramal akan terus melaju naik 10 tahun ke depan, dengan volatilitas yang tinggi artinya harganya akan mengalami turun naik dengan persentase yang besar, meski tren besarnya masih terus menguat.

"Dalam 10 tahun ke depan, emas masih akan volatile. Emas akan diperdagangkan di antara level US$ 3.000 sampai US$ 4.000/troy ons dalam 10 tahun ke depan. Kita kemungkinan akan melihat emas di level yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya melihat seberapa besar likuiditas yang disuntikkan ke perekonomian" katanya.



Bank sentral global memang sedang jor-joran menyuntikkan likuiditas agar tidak terus mengetat akibat pandemi Covid-19 yang memaksa negara-negara mengambil kebijakan karantina wilayah (lockdown).

Dari semua bank sentral di dunia, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang paling agresif.

The Fed sudah membabat habis suku bunganya hingga menjadi 0-0,25%, kemudian mengaktifkan kembali program pembelian aset atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) dengan nilai tanpa batas. Berapapun akan digelontorkan agar likuiditas di perekonomian AS tidak mengetat akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti.

Itu baru The Fed, bank sentral lainnya juga menerapkan kebijakan yang sama, bank sentral Australia misalnya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah menerapkan program QE. 

Di tahun 2008 ketika terjadi krisis finansial global, The Fed dan bank sentral lainnya di Eropa menerapkan kebijakan yang sama, suku bunga rendah serta QE, dampaknya harga emas terus bergerak naik hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2011.

Saat ini, tidak hanya bank sentral yang mengambil kebijakan agresif. Pemerintah di berbagai negara juga menggelontorkan stimulus fiskal guna menanggulangi Covid-19. Pemerintah AS sudah menggelontorkan stimulus senilai US$ 2 triliun, terbesar sepanjang sejarah.

Stimulus moneter dan fiskal tersebut membuat pasar banjir likuiditas, yang menguntungkan bagi emas. 


Sebelum Djie, Ole Hansen, Kepala Ahli Strategi Komoditas di Saxo Bank lebih dulu memprediksi harga emas akan ke US$ 4.000/US$ dalam jangka panjang.
Hansen mengatakan pelaku pasar belum paham sepenuhnya bagaimana dampak kebijakan bank sentral dan pemerintah di berbagai negara ke pasar finansial.

"Dari perspektif investasi emas, ini bukan mengenai apa yang terjadi hari ini, besok, atau bulan depan, tetapi apa yang akan terjadi 6 sampai 12 bulan ke depan atau lebih dari itu" kata Hansen, sebagaimana dikutip Kitco.

Sebelum mencapai level US$ 4.000/troy ons, Hansen memprediksi di akhir tahun ini harga emas berada di US$ 1.800/troy ons, kemudian mencetak rekor tertinggi di 2021.


[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA 

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading