Internasional

Kabar Buruk, Vaksin Corona Moderna Disebut Ahli Harapan Semu

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
20 May 2020 07:10
A sign marks an entrance to a Moderna, Inc., building, Monday, May 18, 2020, in Cambridge, Mass. Moderna announced Monday, May 18, 2020, that an experimental vaccine against the coronavirus showed encouraging results in very early testing, triggering hoped-for immune responses in eight healthy, middle-aged volunteers.(AP Photo/Bill Sikes)
Jakarta, CNBC Indonesia - Vaksin virus corona (COVID-19) eksperimental milik Moderna Inc, baru-baru ini digembar-gemborkan menunjukkan hasil uji yang paling memungkinkan untuk menjadi vaksin bagi wabah tersebut.

Sayangnya, para ahli menyebut data hasil uji coba keamanan tahap awal vaksin pada segelintir orang itu tidak bisa dipercayai untuk menilai efektivitasnya.

Apalagi saat ini vaksin baru memasuki uji coba tahap awal dan informasi penting lainnya mengenai vaksin belum diungkapkan perusahaan sepenuhnya, sebagaimana dilaporkan CNBC International, Selasa (19/5/2020).


"Berdasarkan informasi yang disediakan oleh perusahaan yang berbasis di Cambridge, Mass, tidak ada cara untuk mengetahui seberapa mengesankan - atau tidak - vaksin tersebut," kata para ahli vaksin saat diminta pandangannya tentang vaksin Moderna oleh STAT.

Sebelumnya pada Senin, raksasa farmasi Amerika Serikat (AS) Moderna Inc mengungkapkan bahwa vaksin COVID-19 eksperimentalnya yang pertama kali diuji di AS telah terbukti menghasilkan antibodi pelindung pada sekelompok kecil sukarelawan sehat.

Perusahaan mengatakan, data tersebut berasal dari delapan orang di antara 45 subjek yang mengambil bagian dalam uji coba keselamatan vaksi yang dimulai pada bulan Maret. Ini berarti, dari semua (45 orang) subjek, perusahaan tidak mengungkapkan hasil dari 37 peserta uji coba lainnya.

Selain itu, pengujian untuk menetralkan antibodi lebih memakan waktu daripada tes antibodi lainnya dan harus dilakukan di laboratorium level 3 biosecurity. "Moderna mengungkapkan temuan dari delapan subjek karena hanya itu yang ada pada saat itu. Namun, itu alasan untuk berhati-hati," tulis CNBC International.

Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular yang telah bermitra dengan Moderna pada pengembangan vaksin ini, juga belum mau mengeluarkan pendapat resminya. NIAID juga menolak memberikan komentar atas pengumuman Moderna.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah usia pasti delapan orang yang sukses dalam uji coba itu tidak diketahui. Hal yang diketahui terkait usia dalam penelitian itu adalah bahwa para sukarelawan sehat berusia 18 hingga 55 tahun.

Laporan Moderna itu juga diumumkan dalam waktu terlalu singkat dari pengujian. Laporan antibodi penawar pada subjek yang divaksinasi itu berasal dari darah yang diambil dua minggu setelah mereka menerima dosis vaksin kedua.

"Itu sangat awal. Kami tidak tahu apakah antibodi itu tahan lama," kata Anna Durbin, peneliti vaksin di Universitas Johns Hopkins.

Akibat pengumuman ini, saham perusahaan ditutup turun 10,4% menjadi US$ 71,67. Sebelumnya pada saat pengumuman keberhasilan vaksin, saham perusahaan melonjak tajam, di mana valuasinya mencapai US$ 29 miliar pada Senin.

[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading