
Saham BBRI, BMRI & BBNI Keok, Saham Otomotif Kompak Ngacir

Kendati bank-bank BUMN dan papan atas Indonesia melorot, lain halnya dengan saham-saham emiten otomotif dan pembiayaan di BEI. Pada perdagangan kemarin, saham sektor ini justru melesat.
Padahal ada kabar tak mengenakkan datang dari industri otomotif nasional di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil pada April 2020 turun 90,6% atau hanya terjual 7.871 unit saja dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya 84.056 unit.
Mengacu data tersebut, jika dibandingkan penjualan Maret 2020, turun 89,7% dengan penjualan 76.811 unit. Pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah dinilai turut memberikan dampak dahsyat pada penurunan tajam penjualan kendaraan baik mobil hingga 90% dan sepeda motor 70% sepanjang April 2020.
Tapi pada perdagangan Senin kemarin, saham-saham industri otomotif dan pendukungnya, termasuk perusahaan pembiayaan (multifinance) melesat, seiring dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ditutup naik 0,08% di level 4.511.
Saham PT Astra International Tbk (ASII) naik 5,39% di level Rp 3.910/saham, sebulan menguat 8,01%, sementara saham kompetitornya PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) juga melesat 2,08% di level Rp 490/saham dan sebulan koreksi tipis 2%.
Saham PT Astra Autoparts Tbk (AUTO) juga menguat 2,05% menjadi Rp 745/saham.
Di sisi lain, saham-saham perusahaan pembiayaan atau multifinance juga naik. Saham PT Wahana Otomitra Multiartha Tbk (WOM) atau WOM Finance naik 3,26% di level Rp 190/saham pada perdagangan siang, tapi kemudian ditutup naik 1,63% yakni Rp 187/saham, sebulan minus 5,56%.
Sementara itu, saham PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (ADMF) atau Adira Finance naik 0,40% di level Rp 6.275/saham. Emiten lainnya PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) juga naik tipis 1,69% di level Rp 290/saham pada perdagangan siang, kemudian ditutup stagnan Rp 288/saham.
"Kalau melihat hasil bulan April yang wholsesale-nya adalah luar biasa turun jadi kira-kira turunnya sekitar 90% dibanding kondisi normal, jadi cuma mencapai angka 8.000 saja tidak mencapai, dan ini merupakan suatu pukulan yang luar biasa," kata Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nagoi dalam acara MarkPlus Industry Roundtable, Jumat (15/5).
Ia memprediksi, situasi penurunan tajam masih akan terjadi sepanjang Mei, pasalnya banyak daerah yang menerapkan kebijakan PSBB. "Dan menjelang Hari Suci Idul Fitri, sehingga kemungkinan besar penjualan mobil akan tetap menurun, akan lebih rendah dibanding bulan April," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi semakin berat mengingat kapasitas produksi mobil di Indonesia bisa mencapai 2,2 juta sampai 2,3 juta unit setiap tahunnya.
Situasi yang juga kurang menggembirakan terjadi pada penjualan sepeda motor. Pandemi mengguncang penjualan sepeda motor pada April terkoreksi 70%.
Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI), Johannes Loman mengungkapkan, sebelum adanya wabah, AISI sempat mempekirakan penjualan selama 2020 akan mencapai 6,4 juta unit atau sama dengan capaian 2019. Namun, saat mewabahnya Covid-19, maka realisasi penjualan sepeda motor diperkirakan hanya akan mencapai separuhnya saja.
"Di Indonesia orang beli motor digunakan sebagai faktor produksi. Untuk usaha atau dipakai bekerja. Covid -19 telah menghambat banyak sektor usaha, otomatis penjualan motor juga ikut terdampak," kata Loman melalui virtual meeting MarkPlus Industry Roundtable Automotive industry Perspective, Jumat (15/5).
