Internasional

Awas! Gelombang II COVID-19 Bisa Jadi Kehancuran Pasar Minyak

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
14 May 2020 17:04
[THUMB] Harga Minyak Drop

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pasar minyak telah mulai membaik dalam beberapa pekan terakhir setelah mengalami gangguan yang cukup besar akibat mewabahnya virus corona (COVID-19) dan kelebihan pasokan. Namun, semua itu terancam hancur kembali apabila gelombang kedua infeksi COVID-19 terjadi.

Harga minyak patokan internasional, minyak mentah Brent diperdagangkan naik sekitar 1,8% menjadi US$ 29,72 per barel pada Kamis pagi (14/5/2020). Sementara harga West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) ada di US$ 25,84, setelah melonjak lebih dari 2%.

Sebelumnya pada April, harga minyak mentah AS sempat jatuh ke level rendah yaitu minus US$ 40 per barel. Momen itu dijuluki sebagai 'Black April' oleh Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, menurut CNBC International.



Namun sejak itu prospek mulai sedikit membaik di pasar energi dan harga minyak telah pulih dari posisi terendah April.

"Produksi minyak bereaksi besar terhadap kekuatan pasar dan aktivitas ekonomi mulai pulih secara bertahap tetapi rapuh," kata IEA. "Namun, ketidakpastian utama tetap ada."

"[Tantangan] yang terbesar adalah apakah pemerintah dapat melonggarkan penguncian (lockdown) tanpa memicu kebangkitan wabah COVID-19," tambah badan energi yang berbasis di Paris itu.

Risiko lainnya, kata kelompok itu, adalah apakah OPEC+ akan mencapai tingkat kepatuhan yang tinggi dalam hal pengurangan output sesuai yang disepakati. OPEC+ merupakan kelompok gabungan negara pengekspor minyak utama (OPEC) dan sekutu non-OPEC.

"Ini adalah pertanyaan besar - dan jawaban yang kami dapatkan dalam beberapa minggu mendatang akan memiliki konsekuensi besar bagi pasar minyak," kata IEA.

Selai faktor-faktor itu, penurunan konsumsi minyak juga perlu menjadi perhatian, kata IEA. Dalam laporan bulanannya, IEA memproyeksikan permintaan minyak akan turun 8,6 juta barel per hari (bpd) menjadi 91,2 juta bpd tahun ini. Jumlah itu 0,7 juta bpd lebih besar dari yang diantisipasi kelompok itu dalam laporan sebelumnya.

Proyeksi penurunan konsumsi minyak ini, kata IEA, akan menjadi penurunan permintaan terbesar dalam sejarah.

Sementara di sisi penawaran, diperkirakan akan ada penurunan spektakuler mencapai 12 juta bpd bulan ini, jatuh ke level terendah sembilan tahun ke 88 juta bpd.



Penurunan itu diproyeksikan terjadi setelah OPEC+ setuju untuk memangkas produksi mencapai rekor 9,7 juta bpd pada Mei dan Juni. Pimpinan OPEC, Arab Saudi sejak itu mengatakan pihaknya berencana untuk memotong output dengan tambahan 1 juta bpd menjadi 7,5 juta bpd pada bulan Juni.

"Itu adalah di sisi penawaran di mana kekuatan pasar telah menunjukkan kekuatan mereka dan menunjukkan bahwa sakitnya harga yang lebih rendah mempengaruhi semua produsen," kata IEA.

"Kami melihat penurunan besar-besaran dalam output dari negara-negara di luar perjanjian OPEC+ dan itu lebih cepat dari yang diharapkan," tambahnya.

IEA mengatakan, dengan pengurangan produksi dari negara-negara di luar perjanjian OPEC+, seperti AS dan Kanada, berarti output akan 3 juta bpd lebih rendah pada April dibandingkan pada awal tahun. Kelompok itu mengatakan pemangkasan bisa menjadi 4 juta bpd lebih rendah pada bulan Juni, dan akan semakin banyak ke depannya.

Terkait wabah virus corona, virus asal Wuhan China itu kini telah menginfeksi 4.444.835 orang di seluruh dunia. Di mana 298.416 orang telah meninggal dunia dan 1.668.769 orang sembuh, menurut Worldometers.


[Gambas:Video CNBC]


(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading