Banyak Proyek Ditunda, Emiten BUMN Karya Revisi Kontrak Baru

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
13 May 2020 13:57
Pekerja mengerjakan proyek Infrastruktur LRT di Kawasan Cawang-Pancoran, Jakarta, Senin (5/11). Menurut data rilis BPS Kontruksi pada Triwulan ketiga tumbuh 5,79%. bisa dilihat, bahwa 5,79% ini lebih bagus dibandingkan triwulan kedua 2018 yang sebesar 5,73%. Yang disebabkan tumbuh karena Produksi semen meningkat, penjualan semen di dalam negeri penjualannya bagus. Kemudian ada peningkatan belanja modal pemerintah untuk gedung bangunna, jalan, irigasi, yang kenaikan cukup signifikan. Dan pembangunan infrastruktur berlangsung di berbagai daerah baik  meneruskan yang berlangsung, maupun pembangunan yang sudah ada. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi virus Corona (Covid-19) menyebabkan tertundanya sejumlah proyek infrastruktur pemerintah yang dikerjakan oleh emiten BUMN Karya. Atas pertimbangan tersebut, emiten BUMN Karya meninjau ulang target perolehan kontrak baru di tahun 2020.

Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk (ADHI), Budi Harto mengakui, proyek-proyek infrastruktur yang dikerjakan perseroan terutama di wilayah DKI Jakarta banyak yang tertunda mengingat pemerintah saat ini sedang fokus menyelesaikan pandemi Covid-19. Jakarta saat ini masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Kita akan merevisi target kontrak baru, menyesuaikan dengan perkembangan," kata Budi Harto, saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (13/5/2020).

Pada kuartal pertama 2020, emiten dengan sandi ADHI ini mencatatkan kontrak baru senilai Rp 2,5 triliun dengan perincian, 95% di bisnis konstruksi dan energi seperti pembangunan gedung, infrastruktur transportasi seperti bandara, jalan kereta api, sisanya proyek Engineering, Procurement and Construction (EPC).

Pada proyeksi awal, tahun ini, Adhi Karya menargetkan kontrak baru Rp 35 triliun.


Emiten konstruksi BUMN lainnya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), juga akan mengkaji kembali mengenai target kontrak baru sepanjang tahun 2020.

Pasalnya, dampak pandemi ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap perekonomian, terutama pada pengerjaan proyek infrastruktur pemerintah yang dikerjakan Waskita.

"Kami sedang mengkaji kembali potensi kontrak tahun ini, khususnya proyek yang berasal dari Pemerintah," ungkap Direktur Keuangan Waskita Karya, Haris Gunawan, Rabu (13/5/2020).

Sepanjang periode 3 bulan pertama, Waskita tercatat membukukan kontrak baru Rp 3,16 triliun, setara dengan 7% dari target tahun 2020 sebesar Rp 45 Triliun.

Secara rinci, kontrak baru ini terdiri dari proyek infrastruktur 61%, proyek Gedung 21% dan sisanya berasal dari proyek sipil lainnya. Hingga Maret 2020, perseroan sudah meneken proyek baru seperti Jalan Tol Pasuruan - Probolinggo seksi 4, Jaringan Gas Tarakan, dan Gedung UIN Jambi.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengingatkan, Waskita dan Adhi Karya memiliki risiko yang tinggi akibat pandemi. Hal ini terlihat dari penurunan peringkat surat utang keduanya.

Pefindo merevisi surat utang Waskita dan dan anak usahanya, PT Waskita Toll Road, masing-masing menjadi idA- dengan outlook negatif dan idBBB+ dengan outlook negatif. Sedangkan, Adhi Karya juga direvisi dari sebelumnya idA- dengan outlook stabil menjadi negatif. Penundaan sejumlah proyek infrastruktur dari pemerintah menjadi musababnya.


[Gambas:Video CNBC]





(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading