Lockdown Dilonggarkan, Kasus Corona Naik & Harga Minyak Turun

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
13 May 2020 09:31
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah pada perdagangan pagi ini mengalami pelemahan. Pelaku pasar kembali dibuat khawatir oleh ancaman gelombang kedua wabah Covid-19 seiring dengan pembukaan kembali (reopening) di beberapa negara.

Rabu (13/5/2020) harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai diperdagangkan melemah nyaris 2% pagi ini pada 09.05 WIB. Harga minyak Brent melemah 2,03% ke US$ 29,37/barel. Sementara itu di saat yang sama, harga minyak mentah acuan Negeri Paman Sam yakni West Texas Intermediate (WTI) ambles 1,67% ke US$ 25,35/barel.




Kemarin secara mengejutkan Arab Saudi sebagai pemimpin de facto  organisasi negara-negara eksportir minyak (OPEC) mengumumkan akan memangkas produksi minyak hingga 1 juta barel per hari (bpd) mulai 1 Juni nanti. Jika hal ini benar dilakukan maka total pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Negeri Raja Salman itu mencapai 7,5 juta bpd.



Langkah tersebut juga diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Kuwait. Mereka berjanji untuk memangkas 180.000 bpd. Pada Juni nanti UEA akan memangkas produksi sebesar 100 ribu bpd dan Kuwait akan memotong 80 ribu bpd sisanya di luar kuota yang sudah ditetapkan.

Pemangkasan produksi secara sukarela ini dinilai sebagai bentuk upaya untuk menstabilkan pasar di tengah merebaknya pandemi Covid-19 di berbagai penjuru dunia. Dengan adanya sentimen dilonggarkannya pembatasan di berbagai negara, permintaan bahan bakar berpotensi membaik. Dua hal ini cukup membuat harga emas hitam menguat pada perdagangan kemarin.

"Kami sudah mulai melihat peningkatan permintaan karena pembatasan global dilonggarkan, orang-orang mulai mengemudi lagi," kata Helima Croft, global head of commodity strategy di RBC Capital Markets kepada CNBC International pada hari Selasa. "Jadi, pada dasarnya apa yang mereka lakukan adalah bertindak sebagai akselerator dalam hal menyeimbangkan kembali pasar."

Namun Croft juga menyoroti jika gelombang kedua wabah terjadi maka harga harga minyak berpotensi tertekan kembali. "Jika gelombang kedua [wabah] datang dan lockdown kembali diimplementasikan, itu benar-benar dapat mengubah arah gerak pemulihan harga minyak," kata Croft. "Kita benar-benar harus menunggu dan melihat apa yang akan terjadi dengan virus ini sebelum mengambil kesimpulan...." tambahnya.



Nyatanya tanda-tanda gelombang kedua wabah sudah mulai terlihat di AS dan negara Asia seperti China, Jepang dan Korea Selatan. Mengutip data US Centers for Disease Control and Prevention, jumlah kasus corona di Negeri Paman Samm per 11 Mei adalah 1.324.488. Naik dibandingkan posisi per hari sebelumnya yaitu 1.300.696.

Beralih ke negara lain, di Jepang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah kasus corona per 12 Mei adalah 15.874. Naik 0,48% dibandingkan posisi per hari sebelumnya. Kenaikan 0,48% lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan hari sebelumnya yaitu 0,32%.

"Sementara pasar merasa lebih nyaman dengan kondisi pemangkasan pasokan, di sisi permintaan, fokus akan terus berputar di sekitar risiko pelonggaran lockdown," kata Stephen Innes, kepala strategi pasar di AxiCorp.

Jika gelombang kedua wabah muncul dan pembatasan yang masif diterapkan kembali, maka dampak perekonomiannya akan semakin signifikan. Ekonomi global terancam mengalami kontraksi berkepanjangan dengan periode pemulihan yang berjalan lambat. Alhasil permintaan terhadap bahan bakar dan minyak pun akan semakin anjlok begitu juga harganya.



[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading