Usai Terjun Bebas, Harga Batu Bara Akhirnya Naik Tipis

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
24 April 2020 11:15
Coal piles are seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko
Jakarta, CNBC Indonesia - Usai anjlok terus-terusan, harga batu bara kontrak Newcastle Australia akhirnya ditutup menguat pada perdagangan Kamis kemarin. Sejak mencatatkan level tertingginya pada 27 Maret lalu, harga kontrak untuk pengiriman periode dua bulan terjun bebas ke level terendah sejak Mei 2016. 

Pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2020), harga batu bara termal Australia kontrak acuan (Newcastle 6.000 Kcal/Kg) naik 50 sen atau menguat 0,97% ke US$ 52,05. Harga komoditas unggulan Negeri Kanguru dan Indonesia ini menguat tipis memang dibandingkan dengan pelemahannya.




Harga yang sudah terlalu murah membuat trader jadi melirik kontrak batu bara yang berakhir pada akhir Mei nanti. Lagipula harga minyak yang sempat ambles ke teritori negatif pada awal pekan ini sudah mulai bangkit.

Tercatat pada dua hari terakhir perdagangan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Juni sudah naik lebih dari 40%. Pagi tadi saja harga minyak acuan AS ini sudah dibanderol di level US$ 17/barel dan semakin mendekati harga US$ 20/barel.

Minyak dan batu bara merupakan komoditas bahan bakar fosil. Walau pasar keduanya berbeda (minyak lebih ke transportasi dan batu bara digunakan untuk pembangkit listrik), pergerakan harga minyak yang signifikan juga turut menjadi sentimen yang menggerakkan harga si batu hitam. Terbukti ketika harga minyak ambrol nyaris 8%.


Sejak menyentuh titik puncak di akhir Maret harga batu bara ambles 27,3%. Dalam sebulan terakhir harga si batu hitam ambrol 23%. Kejatuhan harga batu bara juga dipicu oleh kurang bergairahnya prospek permintaan batu bara di pasar Asia Pasifik seperti China, Jepang dan Korea Selatan.

China kemungkinan besar akan mendorong industri pembangkit listriknya untuk lebih mendorong permintaan batu bara domestik lantaran harga batu bara acuan China juga sudah anjlok dobel digit.

Beralih ke Jepang dan Korea Selatan yang bertumpu pada batu bara termal Australia, harga gas yang terlampau murah dan penurunan output industri di kedua negara terutama untuk baja membuat permintaan batu bara berpotensi melemah.

Ada potensi Jepang dan Korea Selatan akan lebih beralih ke gas alam cair (LNG). Faktor inilah yang membuat harga batu bara terjun bebas dan seolah lesu darah dalam tiga pekan terakhir.



TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]





(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading