Andai Corona Musnah, Bisakah Harga Emas Cetak Rekor Lagi?

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
23 April 2020 13:27
emas

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia memang bergerak bak roller coaster dengan volatilitas yang tinggi akibat meluasnya penyebaran pandemi virus corona (Covid-19). Sejumlah stimulus yang digelontorkan pemerintah dan bank sentral dunia pun dalam memerangi virus asal Wuhan, China ini, pun memberi gambaran ketakutan akan resesi.

Kekhawatiran resesi ini kemudian memicu aset-aset investasi safe haven seperti logam mulia diburu lalu harganya pun melesat.

Menurut analisisi terbaru Fitch Ratings, eskalasi krisis virus corona diperkirakan akan memicu resesi global yang cukup dalam dan berimbas pada penurunan PDB (produk domestik bruto) global di tahun ini. Selain itu, kondisi ini pun disebutkan akan setara dengan krisis keuangan global.

Fitch memperkirakan aktivitas ekonomi dunia akan turun 1,9% pada tahun 2020. Sementara, khusus AS, Fitch memperkirakan PDB AS turun 3,3%, kawasan euro 4,2%, dan Inggris turun 3,9% tahun ini.

Sementara proyeksi dari Asian Development Bank (ADB) pada Jumat lalu (3/4/2020), memperingatkan bahwa pandemi virus corona dapat mengurangi separuh pertumbuhan PDB di negara berkembang Asia.

Sebagai hasil dari pandemi, ekonomi global diproyeksikan berkontraksi tajam hingga minus 3% pada tahun ini, jauh lebih buruk dari krisis keuangan 2008-2009.


Lalu bagaimana dengan performa logam emas jika pandemi virus corona ini berlalu?

Ketika pandemi berlalu, sejumlah stimulus yang telah digelontorkan oleh pemerintah dan  bank sentral dunia menjadi sentimen tersendiri bagi pergerakan harga emas dunia.

"Ada harapan bahwa dolar AS tidak mungkin tetap menguat terus dan kondisi ekonomi yang mendasari [penguatan dolar saat ini] buruk, sehingga pedagang emas tidak akan terjebak dalam short covering atau menutup kerugian dengan masuk ke pasar saham," kata Steve Innes, analis AXi Corp, dikutip Reuters.

"Dari sudut pandang jangka panjang, emas masih akan tetap menjadi aset yang disukai karena lingkungan suku bunga rendah dan perlambatan ekonomi global akan mendukung reli yang berkepanjangan," kata Sugandha Sachdeva, Wakil Presiden, Logam, Energi dan Riset Mata Uang, Religare Broking Ltd.

Bagaimana pun juga, harga emas akan mendapat dukungan dari kebijakan bank sentral global yang menerapkan tingkat suku bunga rendah.



Selain itu kebijakan bank sentral (termasuk bank sentral AS, The Fed) dalam memberikan pelonggaran kuantitatif (QE) dengan membeli aset-aset finansial berbasis utang juga memicu penurunan yield (imbal hasil obligasi) yang membuat emas menjadi lebih menarik di mata investor.

"Penguatan emas yang terjadi karena kelonggaran moneter ini pada akhirnya harus dilunasi dan mungkin akan dibayar dengan tingkat inflasi yang tinggi nantinya," kata Tai Wong, Kepala Trading Derivatif untuk Logam Dasar dan Logam Mulia di BMO, melansir Reuters.

"Emas kemungkinan mendapat untung dari melimpahnya uang bank sentral dan utang baru," katanya.

Michael Widmer, Head of Metals Research Merrill Lynch dan Francisco Blanch, Managing Director Bank of America Merrill Lynch, juga mengatakan investor akan mengincar emas jika kontraksi ekonomi tajam.

"Karena kontraksi ekonomi tajam, pengeluaran fiskal melonjak, dan neraca bank sentral berlipat ganda,
 [maka] investor akan mengincar emas," tulis keduanya.

Baru-baru ini, Bank of America Corp menaikkan target harga emas 18 bulan ke depan menjadi US$ 3.000/troy ons lebih dari 50% di atas rekor harga yang sempat tercipta pada September 2011 yaitu di US$ 1.920, sebagaimana dikutip dalam sebuah laporan berjudul "The Fed can't print gold."

Bank of America meningkatkan targetnya dari US$ 2.000/troy ons sebelumnya, ketika para pembuat kebijakan di seluruh dunia mengeluarkan sejumlah besar stimulus fiskal dan moneter untuk membantu menopang ekonomi yang dirugikan oleh pandemi virus corona.

Prediksi Bank of America ini sama dengan analis WingCapital. "Secara historis kami melihat rasio utang terhadap PDB memiliki korelasi yang lebih besar dibandingkan dengan balance sheet [neraca] The Fed (terhadap harga emas)" tulis analis WingCapital yang dikutip Kitco.com, 29 Maret lalu.

Dengan kondisi saat ini, WingCapital memprediksi harga emas diprediksi akan mencapai US$ 3.000/troy ons, tapi dalam 3 tahun ke depan.

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram, sehingga besaran US$ 3.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 96,46 per gram. Dengan asumsi kurs rupiah Rp 15.500/US$, maka prediksi harga emas dunia itu yakni setara dengan Rp 1,50 juta/gram.

Sementara pada tahun 2008 sejak krisis keuangan global terjadi harga emas dunia pun melonjak US$ 217 atau 24,72% menjadi US$ 1.095/troy ons pada 31 Desember 2009 dari harga 31 Desember 2008 di US$ 878/troy ons.

Sama seperti halnya krisis keuangan 2008 yang mengangkat harga emas dunia, pada tahun ini pun diperkirakan harga emas dunia bisa melonjak ke US$ 3.000/troy ons sesuai proyeksi para analis, di kala pandemi berlalu.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]





(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading