Ini Loh Alasan di Balik Ramalan Harga Emas Rp 1,5 Juta/gram

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
23 April 2020 12:47
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder
Jakarta, CNBC Indonesia - Jagat keuangan kembali heboh setelah terungkap ramalan harga emas dunia bisa menyentuh level US$ 3.000/troy ons. Dalam sebuah laporan yang berjudul "The Fed Can't Print Gold", Bank of America (BofA) menjelaskan alasannya.

BofA memprediksi harga bullion akan menyentuh level tertingginya dalam sejarah di US$ 3.000/troy ons-nya. Jika menggunakan kurs referensi BI (JISDOR) hari ini, Kamis (23/4/2020), di level Rp 15.630/US$, maka harga emas tersebut setara dengan Rp 1.507.717/gram, dengan perhitungan satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram. 




Dengan target harga tersebut artinya emas berpotensi menguat lebih dari 50% dari level sekarang. BofA mematok target harga logam mulia emas di angka tersebut setelah merevisi target harga sebelumnya di US$ 2.000/troy ons untuk periode 18 bulan ke depan.

Jika ramalan tersebut menjadi kenyataan maka harga emas akan mencetak rekor tertinggi dalam sejarah dan melampui rekor yang berhasil di cetak sebelumnya pada 2011. Alasan mengapa target harga emas dipatok setinggi itu dijelaskan oleh BofA dalam laporannya.


"Karena output perekonomian terkontraksi tajam, pengeluaran fiskal melonjak, dan neraca bank sentral berlipat ganda, mata uang fiat bisa berada di bawah tekanan," katanya. Kondisi ini akan memicu investor untuk beralih ke emas sehingga permintaannya naik dan harga melambung tinggi.


Kalau dicermati, kondisi yang saat ini terjadi memang mendukung harga emas untuk merangkak naik ke level yang lebih tinggi. Emas sebagai aset safe haven akan banyak diburu ketika kondisi ekonomi diterjang badai seperti sekarang ini ketika ada pandemi Covid-19 yang merebak di seluruh penjuru dunia.

Kurang lebih dua pekan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) merilis sebuah laporan yang memperkirakan dampak dari pandemi Covid-19 akan menyeret perekonomian global ke dalam resesi yang dalam.

IMF memprediksi output perekonomian global akan mengalami kontraksi sebesar 3% di tahun ini. Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath bahkan mengatakan resesi yang dialami tahun ini akan lebih besar dari resesi pada 2008 silam.



Harga emas juga mendapat dukungan dari berbagai stimulus fiskal jor-joran yang dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara untuk meredam dampak Covid-19. Stimulus ini pada akhirnya akan memicu pelebaran defisit anggaran dari berbagai negara di penjuru dunia.

Langkah bank sentral di negara-negara maju yang memangkas suku bunga acuan hingga mendekati nol persen memang berpotensi memicu terjadinya inflasi. Ketika inflasi terjadi maka terjadi penurunan nilai dari aset atau uang yang dipegang.



Emas yang diyakini sebagai aset lindung nilai (hedge) akan laris manis diboyong oleh pembelinya. Selain itu program pembelian aset finansial (QE) oleh bank sentral yang nilainya gila-gilaan akan membuat neraca otoritas moneter menjadi berlipat ganda.

Pembelian aset finansial berupa surat utang pemerintah hingga obligasi korporasi oleh bank sentral akan membuat yield instrumen investasi berbasis utang tersebut turun dan membuat emas semakin di lirik. Itulah mengapa BofA mematok target harga bullion setinggi itu.


BofA memperkirakan rata-rata harga emas di tahun ini mencapai US$ 1.695 per ons dan US$ 2.063 per ons pada 2021. Namun BofA juga menjelaskan ada beberapa faktor lain yang berpotensi menghambat kenaikan harga emas seperti keperkasaan dolar AS, volatilitas di pasar keuangan yang cenderung mereda dan permintaan perhiasan di India serta China yang melemah.






Saat ini di pasar spot emas dunia dibanderol US$ 1.709 per ons. Harga emas cenderung enggan beranjak dari level tertingginya dalam 7,5 tahun seperti sekarang ini.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]





(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading