Ekonomi Goyah, Jangan Khawatir Kilau Emas Tetap Bersinar kok

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
16 April 2020 08:27
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder
Jakarta, CNBC Indonesia - Usai tergelincir Rabu kemarin, harga emas dunia di pasar spot pagi ini mencoba bergerak naik. Ekonomi global yang goyah di tengah pandemi membuat kemilau emas masih terjaga. Namun pagi ini harga emas tak naik banyak lantaran dolar Amerika Serikat (AS) masih kuat.

Kamis (16/4/2020), harga emas spot diperdagangkan di level US$ 1.716,7/troy ons atau naik tipis 0,06% pada 07.50 WIB mengacu data Refinitiv. Kemarin harga emas terkoreksi sebesar 0,69% karena penguatan dolar AS.




Pandemi corona yang merebak dalam 2 bulan terakhir telah membuat Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi turun perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global tahun ini.

IMF mengatakan pandemi corona adalah sebuah fenomena "Great Lockdown" yang memicu terjadinya resesi global. Dalam laporannya itu, IMF mengungkap suramnya gambaran perekonomian dunia tahun ini.

Organisasi yang berbasis di Washington itu memperkirakan ekonomi global akan terkontraksi hingga -3% pada 2020. Skenario ini masih mending.

Jika pandemi tak segera berhenti merebak hingga semester II 2020, maka kontraksi akan bertambah sebanyak 3 poin persentase (pp) menjadi -6%. Padahal, Januari lalu IMF masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia berada di angka 3,3% tahun ini.

"Kemungkinan besar tahun ini, ekonomi global akan mengalami resesi yang hebat sejak Great Depression, melampaui krisis keuangan global satu dekade lalu" kata Gita Gopinath, Kepala Ekonom IMF, melansir CNBC International.


"Ini adalah sebuah periode krisis di mana guncangan yang terjadi tidak dapat dikendalikan dengan kebijakan ekonomi mengingat kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir" tambahnya.

Rilis data perekonomian AS baru-baru ini seolah semakin mengiyakan kabar ramalan IMF tersebut. Data paling anyar yang dirilis oleh Negeri Paman Sam adalah penjualan ritel bulan Maret.

Mengacu pada data pemerintah AS, penjualan ritel di bulan Maret mengalami kontraksi 8,7%. Jika melihat angkanya, ini merupakan kontraksi bulanan terbesar, bahkan melampaui krisis keuangan global pada 2008 silam.



Tak hanya itu, rilis data ekonomi AS lain juga mengindikasikan bahwa perekonomian terbesar di planet bumi tersebut sedang goyah. Aktivitas sektor manufaktur regional New York secara tak terduga anjlok signifikan dan terdalam sepanjang sejarah ke negatif 78,2%.

Produksi industri juga ambles 5,4% dan menjadi yang terendah sejak 1946, dan sektor manufaktur juga ambrol 6,3% karena penurunan produksi otomotif sebesar 28% mengingat banyak pabrik yang tidak beroperasi selama masa pandemi. Indikator-indikator tersebut sudah menunjukkan bahwa ekonomi AS sudah mulai jatuh.

Kala ekonomi sulit, investor banyak cari aman. Mereka mulai berburu aset-aset minim risiko seperti emas. Alhasil harga emas jadi naik. Namun kali ini harga emas tak bisa naik banyak lantaran dolar AS masih menguat 0,33% hari ini.

Harga emas global yang kini bertengger di level tertingginya dalam 7 tahun memang sudah terbilang mahal. Namun makin mahal karena dolar menguat. Maklum dolar adalah mata uang yang digunakan untuk transaksi emas. Penguatan dolar AS terhadap mata uang lain membuat harga emas menjadi lebih mahal untuk pemegang mata uang lain.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]





(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading