MARKET DATA
INTERNASIONAL

Pertama Kali Sejak 2008, Ekonomi Korsel Minus 1,4%

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
23 April 2020 11:42
Pertama Kali Sejak 2008, Ekonomi Korsel Minus 1,4%
Foto: Presiden Korea Selatan Moon Jae in menggelar preskon di kompleks pemerintah di pusat kota Seoul, Korea Selatan, Minggu, 23 Februari 2020. Presiden Korea Selatan telah menempatkan negara itu dalam siaga tertinggi untuk penyakit menular dan mengatakan para pejabat harus mengambil langkah untuk memerangi wabah virus. (Lee Jin-wook/Yonhap via AP)
Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi virus corona (COVID-19) mendorong jatuh ekonomi Korea Selatan (Korsel) ke dalam kontraksi terbesar sejak 2008 pada kuartal-I 2020. Apalagi kebijakan jarak sosial menutup berbagai bisnis dan membuat perdagangan global merosot.

Bank sentral mengatakan pada Kamis (23/4/2020) bahwa produk domestik bruto (PBD) turun menjadi -1,4%, setelah tumbuh 1,3% di kuartal-IV 2019 (QoQ). Sebelumnya dalam survei Reuters, PDB diprediksi kontraksi 1,5%.



Untuk layanan jasa, pada Januari hingga Maret ini pertumbuhan -2%, sementara manufaktur -1,8%. Tapi sektor konstruksi tetap tumbuh meski turun 0,3%. Secara tahun ke tahun (YoY), ekonomi di kuartal ini masih tumbuh 1,3%.

"Ekonomi kemungkinan akan berkontraksi karena masa sulit akan terus untuk ekspor," ujar Moon Jung-hui, seorang ekonom di KB Bank, dikutip dari CNBC Internasional.

"Konsumsi akan membaik terutama pada peningkatan pengeluaran fiskal, tetapi ekspor barang-barang utama termasuk produk petrokimia akan menderita."

Sejak akhir Januari, ekonomi Korsel dilumpuhkan oleh karantina diri di seluruh negeri, yang membuat bisnis dan toko tutup dan pekerja harus tinggal dan bekerja dari rumah masing-masing. lockdown yang dilakukan pasar ekspornya seperti Eropa dan AS juga memperburuk keadaan.



Sebelumnya dalam data jaja pendapat Reuters ekonomi Korsel diprediksi menyusut 0,1% tahun ini. Dana Moneter Internasional (IMF) melihat kontraksi PDB hingga 1,2%.

Kini Korsel memiliki 10.702 kasus terjangkit. Di mana ada 240 kasus kematian dan 8.411 kasus sembuh.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Investor Korsel Ramai-ramai Temui Bahlil, Ada Apa Nih?


Most Popular
Features