Dari 1997 ke 2020, BNI Melewati Berbagai Krisis

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
22 April 2020 11:39
Hari Batik Nasional kembali dirayakan pada tanggal 2 Oktober 2019. Kali ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mendukung Yayasan Batik Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan Membatik Untuk Negeri di Istana Mangkunegaran, Banjarsari, Surakarta sebagai puncak perayaan Hari Batik Nasional, Solo, Rabu (2 Oktober 2019). (Dok BNI)

Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) telah melewati berbagai zaman sejak berdiri pada 1946. Tak ketinggalan beberapa kali krisis yang terjadi pun telah dilewati.

Mulai dari krisis 1997-1998 yang mungkin tak akan terlupakan bagi industri perbankan, hingga krisis 2008 yang dipicu oleh subprime mortgage di Amerika Serikat. 

Bagaimana cerita BNI melewati semua krisis ini? berikut ini perjalanan BNI melewati berbagai krisis sejak 1997-1998 hingga saat ini:

1997-1998

Kawasan Asia pernah dilanda krisis hebat pada krisis keuangan pada 1997-1998, dimana Indonesia menjadi salah satu negara yang menderita akibat krisis tersebut. Indonesia mengalami penurunan rupiah paling parah dan jangka waktu pemulihan paling lama.


Begitu pemerintah melepas nilai tukar sesuai harga pasar, rupiah semakin lemah. Kala itu mata uang rupiah memang terpuruk. Bahkan Rupiah sempat amblas dari Rp 16.800/US$.

Sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/ NPL) pun meroket. Per akhir 1998, NPL perbankan Indonesia mencapai 48,6%. Artinya, hampir setengah dari kredit yang disalurkan perbankan pada saat itu bermasalah.

Ketakutan pun melanda masyarakat karena bank-bank tempat mereka menyimpan dananya mengalami kesulitan likuiditas. Mereka lantas berbondong-bondong menarik dana di bank atau yang dikenal dengan istilah bank rush. Anjloknya nilai rupiah pun mulai memukul sendi perekonomian ketika swasta kesulitan membayar kewajiban jangka pendeknya sehingga memicu PHK yang berujung pada problem sosial.

Pada masa itu, BNI menjadi Bank BUMN pertama yang menjadi perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1996.

Seperti bank lainnya, BNI juga terkena dampak negatif krisis ini yang tercermin dari menurunnya indikator kinerja finansial secara tajam. Ini merupakan salah satu periode paling kelam dalam sejarah BNI.

Namun tak beberapa lama setelah krisis mencapai bottom, kinerja BNI pun berangsur membaik. Pada 1999 BNI memperkuat struktur keuangan dan daya saingnya di tengah industri perbankan nasional. BNI pun melakukan sejumlah aksi korporasi, antara lain proses rekapitalisasi oleh Pemerintah.

BNI pun bangkit dan semakin kuat menghadapi krisis yang menghadang kemudian. Pada 2001 Bank BNI pun berhasil mengurangi jumlah NPL menjadi sebesar 19,54% dari total pinjaman atau senilai Rp 6,91 triliun. Kondisi ini jauh lebih rendah dibandingkan posisi tahun 2000 yang mencapai Rp 7,96 triliun atau 24,90% dari total pinjaman.

Krisis Mini 2005

Setelah perlahan membaik, industri keuangan global harus menerima goncangan lagi pada 2005. Penyebab cukup kompleks, yakni kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya nilai tukar dolar akibat kenaikan suku bunga acuan The Fed. Hal ini ditambah lagi dengan spekulasi global yang memperparah nilai tukar Rupiah.

Namun, bekal dari pelajaran 1997-1998, kali ini BNI lebih siap. Hal tersebut tercermin pada laba bersih masih terjaga di level Rp 1,42 triliun, dengan pendapatan bunga bersih di level Rp 6,9 triliun.


Likuiditas BNI juga tergolong sangat longgar dengan LDR di level 54,24%. Meski demikian ada kenaikan ke level 13,7%. Selain itu ROA pun tetap stabil di level 1,61% dan ROE 12,64%, dan NIM tercatat 5,35%, serta  CAR di level 16%.

Hal ini juga memberikan pengalaman bagi BNI dalam menghadapi periode-periode menantang berikutnya.

 

Subprime Mortgage 2008
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading