Internasional

Trump Telpon Pangeran Arab MBS, soal Minyak atau...

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
03 April 2020 06:46
Presiden AS Donald Trump meyakini Arab Saudi dan Rusia bisa segera mengurangi produksi minyak.
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden AS Donald Trump meyakini Arab Saudi dan Rusia bisa segera mengurangi produksi minyak sekitar 10 juta barel setelah dirinya berbicara melalui telepon dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) pada Kamis (2/4/2020).

Hanya saja, Trump tidak menyebutkan dalam cuitannya di Twitter resminya, apakah pengurangan produksi akan berlaku per hari atau tidak.

"Saya baru bicara dengan sahabat saya MBS (Putra Mahkota) Arab Saudi, yang sudah bicara juga dengan Presiden Rusia, Putin, dan saya meyakini dan berharap keduanya akan memotong produksi, sekitar 10 juta barel, dan mungkin jauh lebih banyak lagi [pemangkasan produksi]," cuit Trump di Twitter, @realdonaldtrump, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (3/4/2020).


"Ini akan jadi "HEBAT" bagi industri minyak dan gas," tegas Trump lagi.

Berikutnya, dia mencuit lagi, "bisa setinggi 15 juta barel. Berita bagus (HEBAT) untuk semua orang!"


Namun Juru Bicara Putin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada Bloomberg, Presiden Rusia ternyata belum berbicara dengan Putra Mahkota.

Pihak Kerajaan Arab Saudi, menurut media yang dikelola pemerintah, juga tidak mengonfirmasi soal penurunan produksi, tapi malah menyebutkan agenda "pertemuan mendesak" dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak ditambah Rusia atau OPEC+ dan negara-negara lain yang tidak disebutkan namanya.


Pihak Gedung Putih menolak mengomentari tweet dari Trump.

Arab dan Rusia sudah bersitegang sebulan terakhir, lantaran Rusia menolak permintaan Arab agar Negeri Beruang Merah itu ikut memangkas produksi guna menaikkan harga minyak mentah yang sudah terjun bebas.

Rusia dan Arab tergabung dalam OPEC+ di mana Arab mendominasi organisasi negara-negara pengekspor minyak tersebut. Pada pertengahan Maret lalu, OPEC sepakat untuk mengurangi produksi minyak secara besar-besaran guna mengerek harga minyak yang ambles terpukul turunnya permintaan akibat wabah virus corona.

Beranggotakan 14 negara, OPEC yang dipimpin Arab memutuskan memotong produksi sebesar 1,5 juta barel per hari (bph) hingga kuartal kedua tahun ini. OPEC akan meninjau kebijakan ini lagi, pada pertemuan berikutnya 9 Juni mendatang.

CNBC International melaporkan, usai telpon-telponan Trump dan MBS, harga minyak mentah di bursa berjangka NYMEX langsung melonjak.

Harga minyak mentah WestTexas Intermediate (WTI) yang jadi patokan pasar Amerika melonjak 20%, atau sebesar US$ 4,12 dan diperdagangkan di level US$ 24,40 per barel. Adapun harga minyak Brent yang jadi patokan pasar Eropa dan Asia (internasional) melonjak 17%, atau US$ 4,37, diperdagangkan di level US$ $ 29,11 per barel.

Menurut catatan Bloomberg, jika Trump menegaskan pemangkasan produksi 10 juta barel per hari, maka itu akan sama dengan Moskow dan Riyadh membatasi hampir 45% dari produksi mereka, langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya yang memicu skeptisisme di pasar.

Sebelumnya, pemerintah Arab di Riyadh sampai saat ini menegaskan bahwa mereka siap memotong produksi asalkan produsen minyak besar lainnya, termasuk beberapa yang bukan bagian dari kelompok OPEC + seperti AS, Kanada dan Brasil, juga mengurangi output mereka. OPEC + mengacu pada aliansi sebelumnya antara OPEC dan Rusia untuk mengatur tingkat produksi.

Penolakan Rusia pada awal Maret untuk memangkas produksi memicu perang harga minyak. Keengganan Rusia membuat Arab 'naik pitam', langsung merespons dengan meningkatkan produksi ke rekor tertinggi, di atas 12 juta barel per hari dan membuat harga minyak jeblok.

Khashoggi
Hal yang menarik dari cuitan Trump soal kontak telponnya dengan MBS ialah komentar para netizen global. Beberapa balasan unggahan Trump soal minyak justru ditanggapi beragam, salah satunya dikaitkan dengan Khashoggi.

Seperti diketahui, Jamal Khashoggi, salah seorang wartawan terkemuka asal Saudi yang tinggal di AS dan kerapkali menyampaikan kritik bagi pemerintahan Saudi, menghilang pada 2 Oktober 2018. Ia diduga dibunuh di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Perkembangan teranyar, New York Times mengabarkan Khasoggi dibunuh dan dimutilasi di sana meski belum ada hasil investigasi resmi dari aparat gabungan Turki-Arab Saudi. Yeni Safak, surat kabar terkemuka di Turki, juga melaporkan hal serupa. Khashoggi disiksa saat interogasi, dipotong jarinya, kemudian dipenggal dan dimutilasi.

Senator AS Lindsey Graham, dikutip CNBC International, bahkan menuduh Pangeran MBS menjadi dalang di balik pembunuhan Khashoggi. Graham bahkan tak segan memanggil Pangeran Mohammed sebagai "Pangeran Sadis".

Salah satu komentar di Twitter yakni dari akun Jeff Tiedrich, "apakah MBS pernah memberi tahu Anda [Trump] di mana Khashoggi dimakamkan atau informasi semacam itu, lebih banyak dari [apa yang diinformasikan] tim Jared [Kushner]?" Yang dimaksud ialah Jared Kushner, suami dari Ivanka Trump dan penasihat senior Trump, mertuanya.



Komentar lain yakni dari @AdamParkhomenko, seorang penasihat dan konsultan politik asal Ukraina, "mengapa Anda [Trump] tidak bertanya kepada teman Anda, di mana tubuh Jamal Khashoggi berada, Anda peduli?"


Lainnya yakni dari warga AS, @lesleyabravanel"apakah itu teman yang sama yang memutilasi jurnalis warga Amerika Khashoggi? Apakah dia [MBS] membawakan tugasmu selanjutnya dari dalangmu, Putin? #TrumpGenocide"


Atau ini, "negara Anda [Trump] telah membunuh jutaan orang tak berdosa di seluruh dunia (Jepang, vitnam, iraq, Indian Amerika, afghanistan, Korea, Spanyol, Filipina, Perang Dunia I dan II) dan Anda terus memikirkan warga saudi ????????" komentar dari @RawadLFC.



[Gambas:Video CNBC]




(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading