Wajarkah Arab Saudi Marah ke OPEC?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
03 December 2019 15:04

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan aliansinya yang sering disebut OPEC+ sepakat untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bpd) pada Januari 2019. Namun kenyataannya banyak anggota yang tidak memiliki komitmen penuh dan membuat Arab Saudi jadi geram.

Komitmen tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk mengimbangi kelebihan produksi minyak global yang dapat membuat harga minyak anjlok. Faktanya beberapa negara anggota malah memproduksi minyak dengan jumlah yang melebihi kesepakatan.

Di tubuh OPEC sendiri terdapat enam negara yang tidak berkomitmen penuh terhadap kesepakatan yang telah dibuat. Keenam negara tersebut antara lain adalah Kongo, Ekuador, Gabon, Irak, Nigeria, dan Uni Emirat Arab.


Sejak Januari-Oktober 2019 keenam negara tersebut gagal mencapai target pemangkasan produksi minyak bulanan. Parahnya, empat negara seperti Kongo, Gabon, Irak, dan Nigeria bukannya malah memangkas produksi minyak malah memproduksi lebih dari yang disepakati.



Beralih ke aliansi OPEC yang beranggotakan 10 negara, 50% negaranya gagal mematuhi kesepakatan yang telah dibuat. Mereka ini adalah Malaysia, Oman, Rusia, Sudan Selatan, dan Sudan. Malaysia dan Sudan Selatan justru malah memproduksi minyak melebihi yang ditetapkan.



Akibat dari ketidakpatuhan yang terjadi di tubuh OPEC+, Arab Saudi harus menanggung luka mengkompensasi ketidakpatuhan tersebut dengan memangkas produksi minyak dalam negerinya. Sebagai catatan, target produksi minyak mentah Arab Saudi periode Oktober 2019 seharusnya 10,3 juta bpd. Namun AS memangkas lebih dalam menjadi 9,89 juta bpd. Itu artinya Arab Saudi memangkas total 743.000 produksi minyak mentahnya dari yang ditargetkan sebanyak 322.000 bpd.

OPEC dan aliansinya ini dijadwalkan bertemu pekan ini, tepatnya pada 4-5 Desember 2019 di Vienna. Dalam kesempatan tersebut Arab akan mengirim isyarat bahwa sebagai produsen minyak yang dominan di OPEC tidak bersedia lagi mengkompensasi ketidakpatuhan yang dapat merugikan Arab.

Seperti yang diketahui bersama bahwa Arab Saudi sedang punya hajat yang tak lain dan tak bukan adalah penawaran saham perdana (IPO) raksasa BUMN migasnya yaitu Saudi Aramco. Ketika pasar masih khawatir bahwa kelebihan pasokan masih akan terjadi, harga minyak bisa sewaktu-waktu anjlok dan tentu bukan kabar yang baik untuk Aramco jika ini terjadi. 


Baca : 'OPEC+ Curang, Arab Saudi Geram & Kehilangan Kesabaran'


Alasan OPEC+ Banyak yang Tak Patuh
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading