Penjualan Ponsel Jeblok, Laba Erajaya Ambles 65% di 2019

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
02 April 2020 11:24
PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mencatatkan penurunan kinerja sepanjang tahun lalu.
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten peritel telepon selular, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mencatatkan penurunan kinerja sepanjang tahun lalu. Laba bersih ERAA tahun lalu mencapai Rp 295,07 miliar, ambles 65,29% dari periode 2018 yakni sebesar Rp 850,09 miliar.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan ERAA pada Kamis ini (2/4/2020), penurunan laba bersih seiring dengan pendapatan perusahaan yang juga terkoreksi. Pendapatan Erajaya turun 5,18% menjadi Rp 32,94 triliun, dari sebelumnya Rp 34,74 triliun.

Beban pokok penjualan mampu ditekan menjadi Rp 30,10 triliun dari sebelumnya Rp 31,57 triliun. Namun beban lain masih naik, misalnya beban beban umum dan administrasi yang naik menjadi Rp 972,93 miliar, dari sebelumnya Rp 771,64 miliar, dan beban penjualan dan distribusi meningkat menjadi Rp 1,36 triliun, dari Rp 1,08 triliun.


Mengacu laporan keuangan, penjualan terbesar berasal dari penjualan ponsel dan tablet, hanya saja pos ini berkurang menjadi Rp 25,64 triliun, dari sebelumnya mencapai Rp 28,85 triliun, sisanya dari penjualan produk operator, komputer dan peralatan elektronik dan aksesoris.

Per Desember 2019, saham ERAA dipegang mayoritas oleh PT Eralink International sebesar 54,51%, sisanya investor lain termasuk direksi dan komisaris, sementara investor publik sebesar 45,20%

Perusahaan dan entitas anaknya didirikan dan menjalankan kegiatan usahanya terutama di bidang distribusi dan perdagangan peralatan telekomunikasi seperti telepon selular, Subscriber Identity Module Card (SIM Card), voucher untuk telepon selular, aksesoris, komputer dan perangkat elektronik lain.

Pada 26 Maret lalu, manajemen ERAA juga mengumumkan rencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan pada periode 20 Maret hingga 19 Juni 2020. Perseroan siap buyback sebanyak-banyaknya Rp 319 miliar. 


"Kondisi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sejak awal ditetapkannya Surat Edaran OJK ini mengalami tekanan yang signifikan yang diindikasikan dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 18,46%," tulis manajemen ERAA, di laman keterbukaan informasi.

Faktor selanjutnya yang menjadi pertimbangan buyback ini adalah kondisi perekonomian regional dan global yang mengalami tekanan akibat wabah COVID-19.

"Pembelian kembali saham tidak mempengaruhi kondisi keuangan perseroan karena sampai dengan saat ii perseroan mempunyai modal yang memadai," pungkas manajemen.

Pada perdagangan Kamis ini sesi I (2/4), saham ERAA naik 3,39% di level Rp 915/saham. Sebulan terakhir saham ERAA minus 48,7% dan year to date ambles 49% dengan kapitalisasi pasar Rp 2,92 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

 


(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading