'Jamu Jokowi' Tak Kuat Jaga Imunitas Bursa, IHSG Merah Lagi

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
02 April 2020 09:12
IHSG terkoreksi 1,28% di awal perdagangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan di awal perdagangan hari ini seiring dengan kembali memburuknya sentimen di pasar seputar perkembangan wabah corona (COVID-19).

Pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka stagnan di level penutupan kemarin yakni 4.466,04. Namun selang beberapa menit kemudian IHSG bergerak di zona merah mengekor mayoritas bursa saham utama Asia pagi ini. Pada 09.05 WIB IHSG anjlok 1,28% ke level 4.409,11 dengan asing mencatatkan net sell sebesar Rp 46,7 miliar.

Pada 08.45 WIB, bursa saham Benua Kuning kembali tertekan. Indeks Shang Hai Composite (-0,52%), Hang Seng (-1,07%), Topix (-0,99%), Straits Times (-1,56%), KOSPI (-0,38%). Walau gelombang stimulus fiskal maupun moneter sudah digelontorkan oleh berbagai negara di penjuru dunia, investor masih mencemaskan perkembangan kasus yang infeksi COVID-19 yang terus meningkat.




Kini total jumlah kumulatif orang yang positif terinfeksi patogen yang diyakini berasal dari Wuhan itu sudah mencapai level 932.000 lebih. Sebanyak kurang lebih 42.000 orang terenggut nyawanya karena tak mampu melawan infeksi virus corona.

Amerika, Italia dan Spanyol menjadi episentrum penyebaran virus corona dengan jumlah kasus kumulatif melebihi angka 100 ribu. Kini ketiganya telah menggeser peringkat China yang dulunya berstatus pemimpin klasemen sebagai negara dengan jumlah kasus infeksi COVID-19 terbanyak di dunia.

Baru-baru ini Gedung Putih merilis perkiraan bahwa wabah corona yang kini menyebar di Amerika Serikat bakal lebih banyak menelan korban ketimbang Perang Dunia I, dan konflik di Vietnam serta Korea.

Estimasi Gedung Putih menunjukkan korban jiwa akibat wabah COVID-19 di AS tahun ini bisa mencapai 100 ribu hingga 240 ribu walaupun kebijakan social distancing diberlakukan.

Ini menjadi kabar buruk untuk pekan ini setelah pasar diwarnai euforia pekan lalu dengan paket stimulus ekonomi jumbo Trump senilai US$ 2,2 triliun dan program pembelian aset oleh The Fed dengan nilai tak terbatas.

Pada penutupan pasar dini hari tadi, bursa saham New York kembali terkapar. Tiga indeks saham utama Paman Sam mencatatkan koreksi. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), S&P 500 dan Nasdaq Composite harus terkoreksi 4,4%.

Beralih ke dalam negeri lagi, stimulus ekonomi yang ditebar Jokowi senilai Rp 405 triliun dampaknya di pasar hanya bersifat temporer saja. Kemarin (1/4/2020), IHSG sempat menguat 0,31% hingga akhir sesi satu perdagangan. Namun IHSG berbalik arah dan terkoreksi 1,6%.

Membaliknya pergerakan IHSG terjadi setelah pemerintah mengumumkan skenario terburuk dampak wabah COVID-19 bagi perekonomian RI. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan bersiap dengan skenario di mana ekonomi Indonesia harus terkontraksi 0,4% di tahun ini dan nilai tukar rupiah menjadi terdepresiasi tajam menyentuh level Rp 20.000/US$.

Sehingga tak heran bila investor asing mencatatkan aksi jual bersih di pasar reguler dan non-reguler sebesar Rp 166,24 miliar pada perdagangan kemarin.



Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa aliran dana keluar dari pasar Indonesia hingga Selasa kemarin mencapai Rp 145,1 triliun. Lebih lanjut Perry menatakan outflow yang terjadi disumbang oleh outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 131,1 triliun dan Rp 9,9 triliun di pasar saham.

Kinerja IHSG pada kuartal pertama pun jauh dari kata memuaskan akibat merebaknya wabah corona di luar dan dalam negeri. Pada Q1 2020, IHSG membukukan koreksi nyaris 28% dan investor asing masih menjaga jarak dari pasar saham tanah air.

Saat ini investor masih terus memantau perkembangan kasus infeksi baik di dalam maupun luar negeri. Masih belum diketahui dengan pasti sampai kapan virus ini akan menjangkiti. Namun jika semakin tak terkontrol ini akan membahayakan kesehatan, perekonomian dan pasar modal.

Di Indonesia sendiri jumlah kasus infeksi COVID-19 sudah mencapai lebih dari 1.500 orang. Lebih dari 100 orang terenggut nyawanya akibat infeksi virus ini. Saat ini pemerintah memberlakukan program social distancing secara masif untuk terus menekan angka transmisi penyebaran virus. Jika jumlah kasus di Indonesia terus bertambah signifikan begitu juga angka kematiannya, bursa saham tanah air masih berpotensi terus tertekan.






TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading