Efek COVID-19

IMF: Dana Asing Rp 1.245 T Keluar dari Negara Berkembang

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
26 March 2020 08:01
IMF juga mengkhawatirkan kondisi negara-negara yang berpenghasilan rendah.

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengungkapkan investor asing sudah keluar dari pasar negara berkembang (emerging market) mencapai US$ 83 miliar atau setara dengan Rp 1.245 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$) sejak awal wabah corona (COVID-19)) yang kini menjadi pandemi.

Direktur Pelaksana Kristalina Georgieva mengatakan pihaknya juga mengkhawatirkan kondisi negara-negara yang berpenghasilan rendah dalam kondisi saat ini.

"Investor asing sudah keluar dari pasar negara berkembang mencapai US$ 83 miliar sejak awal krisis corona, dan ini aliran modal keluar terbesar yang pernah tercatat," katanya dalam keterangan resmi situs IMF, usai konferensi darurat lewat telepon bersama menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G-20 dalam 'G20 Ministerial Call on the Coronavirus Emergency' (23/3/2020).


Georgieva yang juga CEO World Bank periode January 2017 hingga September 2019 ini mengatakan virus corona adalah keadaan luar biasa. Banyak negara sudah mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kami di IMF, bekerja dengan semua negara anggota kami, akan melakukan hal yang sama. Mari kita berdiri bersama melalui keadaan darurat ini untuk mendukung semua orang di seluruh dunia," tegas penerima European of the Year 2010 ini.

Foto: Managing Director Kristalina Georgieva, September 25, 2019, Washington. [Photo: AFP/Eric Baradat]


"Kami khususnya prihatin dengan negara-negara berpenghasilan rendah dalam kesulitan utang - suatu masalah yang kami kerjakan erat dengan Bank Dunia," katanya lagi.

Virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 dari penyakit COVID-19 ini pertama kali muncul pada akhir Desember 2019 dan sejak itu menewaskan lebih dari 2.500 orang di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, yang menyumbang hampir 80% atau lebih dari 3.200 kasus total kematian negeri tirai bambu tersebut.



Setelahnya, virus tersebut telah menyebar ke 196 negara dan teritori, dan sudah menewaskan lebih dari 17.000 orang secara global. Italia, Amerika Serikat, hingga Iran sedang berjuang menahan virus ini dengan melakukan isolasi atau lockdown, social distancing (jaga jarak), serta menutup sekolah dan pelbagai tempat umum.

Menurut data Worldometers, China kini memiliki 81.171 kasus terkonfirmasi, dengan 3.277 kasus kematian, dan 73.159 kasus berhasil disembuhkan, per 24 Maret. Wuhan sendiri sudah di-lockdown atau isolasi sejak 23 Januari lalu.

Di Indonesia, kasus pasien positif wabah corona per Rabu (25/3/2020) hingga pukul 12:00, angkanya bertambah 105 kasus sehingga total menjadi 790 orang.

"Jumlah kasus positif 790. Jumlah kasus sembuh dan dinyatakan boleh pulang 31 orang, dan meninggal 58 orang, " kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanggulangan COVID-19 Achmad Yurianto, saat konferensi pers.

Sebelumnya Bank Indonesia mencatat saat ini aliran modal asing ke luar cukup tinggi di mana mencapai Rp 125 triliun pada pekan ketiga Maret ini. Namun Gubernur BI Perry Warjiyo, mengungkapkan saat ini cadangan devisa yang dimiliki Indonesia sangat cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar.

"Aliran modal asing atau outflow baik dari Surat Berharga Negara, obligasi, dan saham itu mencapai Rp 125 triliun," kata Perry dalam channel Youtube Bank Indonesia, Selasa (24/3/2020).


BI juga telah menggelontorkan likuiditas hampir Rp 300 triliun. "Melalui pembelian SBN (Surat Berharga Negara) Rp 168 triliun dan dari repo perbankan Rp 55 triliun. Dan tak lupa ada penurunan GWM [giro wajib minimum] yang beraku April ini Rp 75 triliun," imbuh Perry.

Lebih lanjut, IMF juga menegaskan perlunya solidaritas bersama dalam perang melawan corona. "Semua negara perlu bekerjasama untuk melindungi orang dan membatasi kerusakan ekonomi [akibat virus corona]. Ini adalah momen solidaritas, yang merupakan tema utama pertemuan hari ini dengan para Menteri Keuangan G20 dan Gubernur Bank Sentral," kata ekonom Bulgaria ini.

Dalam kondisi ini, IMF siap untuk mengerahkan semua kapasitas pinjaman senilai US$ 1 triliun. Pinjaman yang cukup besar yang akan diberikan kepada negara-negara ini termasuk dalam poin yang disampaikan oleh Georgieva.

Poin lain ialah memusatkan pengawasan bilateral dan multilateral pada krisis ini dan mengambil kebijakan untuk meredam dampak ekonomi dari virus corona dan meningkatkan dana darurat secara besar-besaran, mengingat hampir 80 negara meminta bantuan.

"IMF juga bekerjasama dengan lembaga keuangan internasional lainnya untuk memberikan tanggapan terkoordinasi yang kuat. Kami juga mengisi kembali dana bencana dalam Catastrophe Containment and Relief Trust untuk membantu negara-negara termiskin. Kami menyambut komitmen yang sudah dibuat dan meminta lembaga lain bergabung," kata Georgieva.

[Gambas:Video CNBC]


(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading