Lawan COVID-19

Hampir 80 Negara Minta Bantuan, IMF Siap Gelontorkan US$ 1 T

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
25 March 2020 08:27
Hampir 80 Negara Minta Bantuan, IMF Siap Gelontorkan US$ 1 T

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) Kristalina Georgieva memberikan pernyataan dalam konferensi darurat lewat telepon bersama menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G-20 dalam 'G20 Ministerial Call on the Coronavirus Emergency' yang digelar pada 23 Maret 2020.

Ekonom Bulgaria itu menegaskan tiga poin terkait dengan antisipasi dan solidaritas negara-negara G-20 dalam perang melawan virus corona mengingat banyaknya biaya yang dikeluarkan negara-negara akibat banyaknya jumlah korban secara global.

"Semua negara perlu bekerjasama untuk melindungi orang dan membatasi kerusakan ekonomi [akibat virus corona]. Ini adalah momen solidaritas, yang merupakan tema utama pertemuan hari ini dengan para Menteri Keuangan G20 dan Gubernur Bank Sentral," katanya sebagaimana dikutip dari situs resmi IMF, Rabu ini (25/3/2020).



Dari tiga poin yang disampaikan, salah satunya ialah kepastian bahwa IMF siap untuk mengerahkan semua kapasitas pinjaman senilai US$ 1 triliun.

Pinjaman yang cukup besar yang akan diberikan kepada negara-negara ini termasuk dalam poin ketiga yang disampaikan oleh Georgieva.

Adapun dalam poin ketiga ini, beberapa langkah IMF lain yakni

- Memusatkan pengawasan bilateral dan multilateral pada krisis ini dan mengambil kebijakan untuk meredam dampak ekonomi dari virus corona.

- Meningkatkan dana darurat secara besar-besaran, di mana hampir 80 negara meminta bantuan, dan IMF bekerjasama dengan lembaga keuangan internasional lainnya untuk memberikan tanggapan terkoordinasi yang kuat.

- IMF mengisi kembali dana bencana dalam Catastrophe Containment and Relief Trust untuk membantu negara-negara termiskin. "Kami menyambut komitmen yang sudah dibuat dan meminta lembaga lain bergabung," kata Georgieva.

- IMF sedang mencari opsi lain yang tersedia. Beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah telah meminta IMF untuk membuat alokasi SDR (special drawing rights) atau hak penarikan khusus, seperti yang dilakukan selama krisis keuangan global. Kami juga sedang menjajaki opsi ini dengan keanggotaan kami," katanya. SDR adalah aset cadangan mata uang asing pelengkap yang ditetapkan dan dikelola oleh IMF.

- Bank-bank sentral utama telah memulai jalur pertukaran bilateral dengan negara-negara berkembang. IMF menegaskan, ketika krisis likuiditas global berlangsung, IMF membutuhkan anggota untuk menyediakan jalur swap tambahan. "Sekali lagi, kami akan menjajaki dengan Dewan Eksekutif dan keanggotaan proposal yang mungkin yang akan membantu memfasilitasi jaringan swap yang lebih luas, termasuk melalui fasilitas tipe swap-IMF," kata Georgieva.


Sementara itu, dua poin lain yang disampaikan oleh Georgieva adalah, pertama, prospek pertumbuhan global untuk 2020 itu negatif.

Menurut dia, resesi setidaknya sama buruknya dengan krisis keuangan global yang pernah terjadi atau lebih buruk. Tetapi pihaknya mengharapkan ekonomi bisa pulih pada 2021.

Untuk sampai ke sana, katanya, sangat penting untuk memprioritaskan penahanan dan memperkuat sistem kesehatan di mana-mana. Dampak ekonomi akan parah, tetapi semakin cepat virus berhenti, semakin cepat dan kuat pemulihannya.

"Kami sangat mendukung tindakan fiskal luar biasa yang telah dilakukan banyak negara untuk meningkatkan sistem kesehatan dan melindungi pekerja dan perusahaan yang terkena dampak. Kami menyambut baik langkah bank sentral utama untuk melonggarkan kebijakan moneter. Upaya yang berani ini tidak hanya untuk kepentingan masing-masing negara, tetapi juga untuk ekonomi global secara keseluruhan. Bahkan lebih banyak akan dibutuhkan, terutama di bidang fiskal."

Kedua, perekonomian negara maju umumnya dalam posisi yang lebih baik untuk merespons krisis akibat virus corona ini, tetapi banyak negara berkembang (emerging market) dan negara berpenghasilan rendah menghadapi tantangan yang signifikan.

Mereka sangat terpengaruh oleh aliran modal keluar, dan aktivitas domestik akan sangat terpengaruh ketika negara-negara menanggapi epidemi corona.

IMF mencatat, investor asing sudah keluar dari pasar negara berkembang mencapai US$ 83 miliar sejak awal krisis corona, dan ini aliran modal keluar terbesar yang pernah tercatat.

"Kami khususnya prihatin dengan negara-negara berpenghasilan rendah dalam kesulitan utang - suatu masalah yang kami kerjakan erat dengan Bank Dunia," tegas CEO World Bank periode January 2017 hingga September 2019 ini.

"Ini adalah keadaan luar biasa. Banyak negara sudah mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami di IMF, bekerja dengan semua negara anggota kami, akan melakukan hal yang sama. Mari kita berdiri bersama melalui keadaan darurat ini untuk mendukung semua orang di seluruh dunia," tegas penerima European of the Year 2010 ini.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading