Lagi-lagi Eropa Bikin Ulah, Harga CPO Kembali Tertekan

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
19 February 2020 12:00
Lagi-lagi Eropa Bikin Ulah, Harga CPO Kembali Tertekan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali tergerus. Setelah India dan China, kini giliran Eropa yang menggoyang harga komoditas andalan Indonesia dan Malaysia ini.

Harga CPO kontrak pengiriman Mei 2020 di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) terkoreksi 0,8% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Harga CPO berada di RM 2.618/ton pada hari ini, Rabu (19/2/2020). Harga CPO mengalami tren koreksi sejak 11 Januari 2020.

Ada tiga sentimen yang menggoyang harga CPO. Pertama adalah hubungan Malaysia dan India yang panas. Hubungan bilateral keduanya bermasalah setelah Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad melontarkan kritik tajam atas sikap India yang dinilai tak toleran dan anti-Islam.

Mahathir menuding India telah menginvasi Jammu dan Kashmir yang merupakan teritori konflik perebutan wilayah antara India dan Pakistan sejak puluhan tahun lalu. Mahathir juga menilai UU Kewarganegaraan India yang baru sebagai bentuk aturan yang anti-Islam.


Merasa tak terima dan urusan dalam negerinya dicampuri, India menjadi geram. India memilih untuk mengambil langkah retaliasi. Pada 8 Januari 2020, India resmi memberlakukan larangan impor minyak sawit olahan. Bahkan secara informal pemerintah India memboikot produk minuak sawit Malaysia.

Alhasil ekspor Malaysia ke India drop sejak Oktober 2019. India merupakan pembeli terbesar minyak nabati dunia. Maklum negara dengan populasi mencapai 1,2 miliar penduduk tersebut membutuhkan banyak minyak untuk konsumsi domestik.

India telah mengimpor minyak sawit Malaysia sekitar 4,4 juta ton dalam setahun. India mengimpor minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Total impor minyak sawit India berkontribusi lebih dari dua pertiga total impor minyak nabati negara tersebut.

Faktor kedua yang memberikan tekanan pada harga CPO adalah wabah virus corona yang tengah menjangkiti China.

Data terbaru yang dirilis John Hopkins University CSSE, sampai hari ini sudah ada 74.186 kasus positif terinfeksi patogen mematikan ini dilaporkan di China. Jumlah kematian yang dilaporkan di China kini mencapai 2.005 orang.

Hal tersebut dikhawatirkan membuat permintaan terhadap minyak sawit menjadi terganggu. Maklum China merupakan pembeli terbesar kedua minyak nabati setelah India.

Selain dua sentimen di atas, sentimen lain yang juga menekan harga CPO datang dari Eropa. CPO yang selama ini dituding Eropa menyebabkan deforestasi kembali mendapat tekanan dari industri pembuat makanan benua biru itu.

Perusahaan-perusahaan makanan Eropa termasuk Nestle meminta produsen minyak sawit yaitu Indonesia dan Malaysia untuk mengurangi kadar kontaminan mineral hidrokarbon dalam minyak sawit.

"Mereka (Perusahaan pembuat makanan Eropa) mengatakan hidrokarbon ditemukan di dalam minyak kami karena cara kami dalam mengolah buah (sawit)" kata Nageeb Abdul Wahab selaku ketua Asosiasi Petani MPOA.

[Gambas:Video CNBC]




"Hal ini bisa diatasi, tetapi biayanya mahal. Pelumas yang kami gunakan terkadang tercampur dengan produk kami. Untuk mengatasi hal ini, kami harus menggunakan pelumas yang aman untuk dikonsumsi (food grade), tetapi opsi tersebut sangatlah mahal" tambahnya.

Menurut laporan Reuters, pelumas food grade itu biayanya bisa 8-10x lebih mahal dari harga pelumas biasa. Jika hal ini dilakukan oleh para pelaku industri sawit, maka jelas labanya akan tergerus.

Eropa memang sangat memperhatikan isu lingkungan dan keamanan makanan. Kontaminan mineral hidrokarbon yang ada dalam minyak sayur bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker. Bagaimanapun juga isu ini menjadi sentimen pemberat harga CPO untuk naik, apalagi di tengah kemungkinan produksi bulan Februari yang juga mengalami peningkatan. 


TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading