Apple Buat Bursa Asia Jeblok, IHSG Malah Menguat Lagi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 February 2020 17:34
Apple Buat Bursa Asia Jeblok, IHSG Malah Menguat Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Selasa (18/2/2020) melanjutkan kenaikan tipis awal pekan kemarin.

IHSG sebenarnya membuka perdagangan dengan melemah 0,2% di 5.856,881, tetapi kurang dari satu jam kemudian sudah masuk ke zona hijau. Di akhir sesi I, IHSG berhasil menguat 0,49% di 5.896,441.

Sementara itu pada tengah hari, bursa saham utama Asia merah membara. Indeks Nikkei Jepang merosot 1,4%, Kospi Korea Selatan anjlok 1,3%, Shanghai Composite China dan Hang Seng Hong Kong masing-masing melemah 0,44% dan 1,58%.


Memasuki sesi II, penguatan IHSG sempat bertambah menjadi 0,68% ke 5.907,139, tetapi sayangnya gagal dipertahankan hingga penutupan perdagangan bursa kebanggaan Indonesia ini berada di level 5.886,962 atau menguat 0,33%.



Sektor industri dasar memimpin penguatan IHSG pada hari ini dengan kenaikan 1,86%, disusul dengan sektor properti sebesar 1,47%. Sementara sektor finansial yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar justru melemah 0,35%.

Sementara itu dari bursa utama Asia, hingga akhir perdagangan indeks Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, dan Kospi Korea Selatan masing-masing anjlok sekitar 1,5%, hanya Shanghai Composite China yang berhasil berbalik menguat tipis 0,05%.



Sentimen negatif hari ini datang dari raksasa teknologi asal AS, Apple Inc. yang menyatakan pendapatan di kuartal II tahun fiskal 2020 akan lebih rendah dari prediksi sebelumnya akibat wabah Covid-19, yang menyebabkan gangguan suplai serta penurunan penjualan di China. Apple sebelumnya memberikan prediksi penjualan bersih akan mencapai US$ 63 miliar sampai US$ 67 miliar.

Pernyataan dari Apple tersebut menjadi salah satu bukti dampak buruk yang ditimbulkan oleh wabah virus corona atau yang disebut Covid-19, dan memicu pelemahan bursa utama Asia, tetapi efeknya sepertinya tidak sampai ke dalam negeri.

Di tengah berbagai sentimen negatif yang disebabkan oleh wabah Covid-19, mulai dari acaman resesi di beberapa negara hingga tergerusnya pendapatan perusahaan-perusahaan besar, ada satu sentimen positif terselip.

Bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) sekali lagi bertindak guna meredam dampak wabah Covid-19 ke perekonomian.

PBoC mengumumkan penurunan suku bunga Medium-term Lending Facility (MLF) tenor setahun dari 3,25% menjadi 3,15%. Selain itu PBoC juga akan menggelontorkan dana senilai US$ 29 miliar dalam bentuk pinjaman jangka menengah.

Penurunan tersebut dimaksudkan untuk menambah likuiditas di pasar, sehingga roda perekonomian bisa berputar. Penurunan MLF hari ini diyakini pelaku pasar sebagai pembuka jalan pemangkasan Loan Prime Rate (LPF) yang akan diumumkan Kamis pekan ini.

Bukan kali ini saja PBoC menggelontorkan stimulus, di awal bulan lalu suku bunga reverse repo tenor 7 hari diturunkan menjadi menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial akibat virus corona. Selain itu PBoC menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.



Selain itu, pelaku pasar di dalam negeri juga menanti pengumuman suku bunga dari Bank Indonesia (BI) hari Kamis nanti. Hasil polling Reuters menunjukkan BI diprediksi memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 4,75%.

Pemangkasan suku bunga tentunya diharapkan akan lebih memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kemungkian juga akan terseret pelambatan ekonomi China.


[Gambas:Video CNBC]




TIM RISET CNBC INDONESIA  (pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading