Jiwasraya Mulai Sistemik, Heboh Kabar MI & Asuransi Kesusahan

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
13 February 2020 12:44
Jiwasraya Mulai Sistemik, Heboh Kabar MI & Asuransi Kesusahan
Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus gagal bayar dan dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan kerugian investasi PT Asabri (Persero) benar-benar sedang jadi perhatian para pelaku industri keuangan. Banyak pihak khawatir kasus ini akan berdampak sistemik karena nilai investasi kedua perusahaan tersebut relatif jumbo.

Tak sedikit nasabah reksa dana saham dan trader saham yang mulai memiliki ide untuk mencairkan seluruh portofolionya yang sedang terkoreksi dalam. Bahkan ada yang sampai menjual portofolio sahamnya ke harga terendah Rp 50/saham.

Kompleksitas kasus Jiwasraya ini memang tak bisa dipungkiri. Sekarang sudah banyak kabar beredar di pasar, sejumlah perusahaan manajer investasi (MI) dan perusahaan asuransi mulai terdampak oleh kasus ini.



Pekan ini, beredar kabar di pasar, beberapa manajer investasi sudah mengalami kesulitan membayarkan dana yang ingin ditarik oleh nasabah (redemption).

Demikian pula sejumlah perusahaan asuransi, rekening efek yang mereka miliki ikut diblokir oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) karena diduga terkait dengan masalah ini.

Ini kemudian membuat para nasabah perusahaan asuransi mengalami kesulitan dalam mencairkan klaim. Selain itu, para broker dan trader saham mulai panik, tidak bisa bertransaksi normal karena harga saham terus turun yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi dalam.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sempat menyebutkan, kasus Jiwasraya bisa berdampak sistemik yang berskala gigantik atau sangat besar.

Kepala BPK Agung Firman Sampurna mengatakan karena besarnya kasus Jiwasraya, maka pihaknya akan mengambil kebijakan yang berhati-hati. Ia menyebut besarnya kasus ini dengan skala gigantik alias sangat besar.

"Saya ingin menyampaikan, kondisi sekarang kita adalah situasi yang mengharuskan kita untuk memiliki pilihan kebijakan yang hati-hati. Di mana kasus ini cukup besar, skalanya bahkan saya katakan gigantik, sehingga memiliki risiko sistemik," kata Agung dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (8/1/2020).

Namun Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto mengatakan, jika berbicara sistemik maka harus dilihat dari sisi yang mana. Sistemik yang dikatakan oleh BPK pun dipertanyakan olehnya dari sisi yang mana.

"Tapi kalau berkaitan dengan sistemik dan sebagainya kita harus melihat perspektif dari BPK bagaimana yang mengatakan sistemik itu? Kan kalau asuransi berbicara investasi, sistemik itu kan harusnya memberikan efek ke sistem," kata dia, di Rawamangun, Rabu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku tidak akan terburu-buru menyebutkan permasalahan Jiwasraya memiliki risiko sistemik seperti yang disampaikan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Aku nanti bicara dulu ya sama BPK mengenai hasil audit beliau," kata Sri Mulyani di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

[Gambas:Video CNBC]



Sri Mulyani yang juga Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani mengatakan dalam melihat risiko sistemik dan memicu krisis di sistem keuangan, perlu melandaskan pada UU Nomor 9 tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK).

"Di dalam UU PPSKS Nomor 9 tahun 2016 ini didefinisikan [Pasal 1 UU itu] bahwa krisis sistem keuangan adalah kondisi sistem keuangan yang gagal jalankan fungsi dan perannya secara efektif dan efisien, dan itu ciri-cirinya ditunjukkan dengan memburuknya berbagai indikator ekonomi dan keuangan," kata Sri Mulyani dalam pertemuan KSSK, di Jakarta, Rabu (22/1/202).

Dengan demikian, katanya, berdasarkan UU PPKSK, lembaga jasa keuangan yang dapat memicu krisis keuangan ini spesifik ditunjukkan ke bank, karen diklasifikasikan dengan ukuran aset, luas jaringan dan kompleksitas transaksi dan keterkaitan dengan sektor keuangan lainnya.

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading