Newsletter

Aksi Cepat Tanggap China Tak Diragukan, Indonesia Bagaimana?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
13 February 2020 06:27
Optimisme pelaku pasar nasional kemarin tak berlangsung lama. Hari ini, peluang penguatan terbuka setelah Corona diramal hilang April.

Jakarta, CNBC Indonesia - Optimisme pelaku pasar nasional kemarin tak berlangsung lama. Aksi borong saham sempat mewarnai perdagangan di awal sesi perdagangan, tetapi itu tak bertahan lama. Mereka segera merealisasikan keuntungan sehingga membuat energi jual lebih dominan di pasar.

Pada pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka memasuki zona hijau dengan menguat tipis 0,04% ke 5.957,06. Namun, indeks acuan bursa nasional tersebut terlempar ke zona merah pada sesi penutupan, dengan koreksi sebesar 0,69% ke level 5.913,08.

Investor asing lagi-lagi mengambil posisi beli, menadah saham-saham unggulan yang dilanda koreksi akibat kekhawatiran dampak virus corona terhadap perekonomian China terutama terkait dengan komoditas batu bara. Nilai beli bersih (net buy) asing di bursa mencapai Rp 129,1 miliar di pasar reguler.

Saham-saham yang banyak mereka buru di pasar reguler adalah: PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (Rp 145,27 miliar), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (Rp 133,84 miliar), PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (Rp 69,52 miliar), PT Telekomunikasi Indonesia/TLKM (Rp 63,98 miliar), dan PT United Tractors Tbk/UNTR (Rp 25,4 miliar).


Di pasar uang, rupiah masih membukukan penguatan sebesar 0,15% di Rp 13.640 per dolar Amerika Serikat (AS). Sempat diterpa tekanan jual di pasar, hingga tersungkur 0,11% ke Rp 13.675/US$, Mata Uang Garuda mampu bangkit dengan menguat tipis, sebesar 0,04%, di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Dengan demikian, rupiah memperpanjang penguatannya menjadi 2 hari berturut-turut, tatkala mayoritas mata uang utama Asia melemah kemarin. Mata uang lain yang berhasil menyintas dari zona koreksi kemarin adalah baht Thailand, won Korea Selatan, dan dolar Taiwan dengan penguatan masing-masing sebesar 0,29%, 0,16%, dan 0,1%.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah bertenor 10 tahun melemah ke 6,557%, dibandingkan dengan posisi sehari sebelumnya pada 6,579%. Pelemahan yield mengindikasikan bahwa harga sedang naik karena keduanya bergerak berlawanan arah.

Menurut penelusuran Tim Riset CNBC Indonesia, gairah investor di pasar pendapatan tetap (fixed income) itu kebanyakan berasal dari perbankan. Kepemilikan institusi bank dalam SUN mencapai Rp 766,8 triliun, naik Rp 27,1 triliun dibandingkan dengan posisi 31 Januari 2019 sebesar Rp 739,7 triliun.

Sebaliknya, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) menunjukkan nilai kepemilikan investor asing sebesar Rp 1.065,62 triliun, yang berarti dana investor asing baru yang masuk tahun ini ke pasar SUN tinggal Rp 3,76 triliun.


[Gambas:Video CNBC]




Virus Wuhan Dianggap Tertangani, Wall Street Menguat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading