Data Ekonomi Korsel Oke, Bursa Saham Asia Menghijau

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
22 January 2020 16:51
Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak menutup perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (22/1/2020), di zona hijau.
Jakarta, CNBC Indonesia - Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak menutup perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (22/1/2020), di zona hijau.

Pada penutupan perdagangan, indeks Nikkei terapresiasi 0,7%, indeks Shanghai menguat 0,28%, indeks Hang Seng naik 1,27%, indeks Straits Times terkerek 0,21%, dan indeks Kospi bertambah 1,23%.

Rilis data ekonomi Korea Selatan yang menggembirakan menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Pada pagi hari ini, pembacaan awal atas angka pertumbuhan ekonomi Korea Selatan periode kuartal-IV 2019 diumumkan di level 2,2% secara tahunan, di atas konsensus yang sebesar 1,9%, seperti dilansir dari Trading Economics.



Angka pertumbuhan ekonomi yang mencapai 2,2% tersebut merupakan level tertinggi yang dibukukan Korea Selatan dalam empat kuartal terakhir.

Rilis data pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang menggembirakan lantas menjadi angin segar kala pelaku pasar masih mencoba mencerna dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetary Fund (IMF).

Pada proyeksinya di bulan Oktober, IMF memproyeksikan perekonomian global tumbuh sebesar 3% pada tahun 2019 dan 3,4% pada tahun 2020. Dalam proyeksi terbarunya, angka pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 dipangkas menjadi 2,9%, sementara untuk tahun 2020 proyeksinya berada di level 3,3%.


Proyeksi terbaru oleh IMF tersebut dituangkan dalam publikasi bertajuk "World Economic Outlook Update, January 2020: Tentative Stabilization, Sluggish Recovery?" yang dirilis pada hari Senin waktu Indonesia (20/1/2020).

Untuk tahun 2021, proyeksi pertumbuhan ekonomi global dipangkas menjadi 3,4%, dari yang sebelumnya 3,6%.

Dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global utamanya dipicu oleh proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah di India. Pada proyeksi bulan Oktober, pertumbuhan ekonomi India untuk tahun 2020 dan 2021 dipatok masing-masing di level 7% dan 7,4%. Kini, proyeksinya dipangkas masing-masing menjadi 5,8% dan 6,5%.

Tak hanya negara berkembang seperti India, proyeksi pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju tak lepas dari pemangkasan oleh IMF. Proyeksi untuk pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2020 misalnya, dipangkas 0,1 persentase poin oleh IMF. Pemangkasan serupa juga bisa didapati terhadap perekonomian zona Euro.

Terkait dengan China selaku negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia, proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2021 dipangkas sebesar 0,1 persentase poin, walaupun proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2020 dikerek naik 0,2 persentase poin.

Walaupun proyeksi untuk tahun 2020 dinaikkan, angka pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini masih berada di level 6%, yang berarti perekonomian Negeri Panda masih akan tumbuh melambat. Pada tahun 2019, perekonomian China diketahui tumbuh 6,1%.

Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

Beralih ke Jepang selaku negara dengan nilai perekonomian terbesar ketiga di dunia, pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2020 dan 2021 diproyeksikan tak akan mencapai 1%. Untuk tahun 2020, perekonomian Jepang diproyeksikan hanya tumbuh 0,7%, disusul pertumbuhan sebesar 0,5% di tahun berikutnya. Pada tahun 2019, perekonomian Jepang diproyeksikan tumbuh sebesar 1%.


"Proyeksi terkait pemulihan pertumbuhan ekonomi global tetaplah diselimuti ketidakpastian. Perekonomian dunia terus bergantung kepada pemulihan dari negara-negara berkembang yang dipenuhi dengan tekanan, sementara pertumbuhan di negara-negara maju bergerak stabil di kisaran level saat ini," papar Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam keterangan tertulis, seperti dilansir dari CNBC International.

Ada beberapa alasan utama yang melandasi pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF, salah satunya adalah potensi memburuknya hubungan antara AS dan mitra dagangnya.

"Tensi di bidang perdagangan yang baru bisa muncul antara AS dan Uni Eropa, dan tensi antara AS dan China bisa kembali memanas," jelas Gopinath.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]




(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading