Dunia Damai Sentosa, Emas Antam Turun Rp 1.000/gram

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
20 January 2020 10:07
Harga emas Antam bergerak melemah pada perdagangan pertama di pekan ini, Senin (20/1/2020).
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas Antam bergerak melemah pada perdagangan pertama di pekan ini, Senin (20/1/2020).

Harga emas investasi ritel kepingan acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam) turun Rp 1.000 menjadi Rp 720.000/gram, dari posisi pada hari Sabtu (18/1/2020) di level Rp 721.000/gram.

Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung yang kami peroleh dari situs logammulia milik Antam, harga tiap gram emas dari kepingan 100 gram per tanggal 20 Januari 2020 berada di level Rp 720.000. Pada perdagangan hari Sabtu (18/1/2020), satu gram emas Antam dihargai senilai Rp 721.000.

Tingginya minat pelaku pasar untuk memburu instrumen berisiko seperti saham membuat instrumen safe haven seperti emas Antam menjadi ditinggalkan. Hingga berita ini diturunkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selaku indeks saham acuan di Indonesia menguat 0,25% ke level 6.307,52.


Kinerja IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang bergerak di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei terapresiasi 0,26%, indeks Shanghai naik 0,22%, dan indeks Kospi terkerek 1,04%.

Bursa saham Benua Kuning sukses mengekor jejak bursa saham AS alias Wall Street yang menghijau pada perdagangan terakhir di pekan kemarin, Jumat (17/1/2020). Pada penutupan perdagangan hari Jumat, indeks Dow Jones naik 0,17%, indeks S&P 500 menguat 0,39%, dan indeks Nasdaq Composite terapresiasi 0,34%. Ketiga indeks saham acuan di AS tersebut ditutup di level tertinggi sepanjang masa.

Rilis data ekonomi China yang menggembirakan menjadi faktor yang menopang aksi beli di bursa saham AS.

Sepanjang tiga bulan terakhir tahun 2019, perekonomian China tercatat tumbuh sebesar 6% secara tahunan, sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh Reuters. Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian Negeri Panda tumbuh sebesar 6,1%, juga sesuai dengan estimasi. Angka pertumbuhan ekonomi China tersebut dirilis menjelang akhir pekan kemarin, Jumat (17/1/2020).

Lantas, pertumbuhan ekonomi China melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

Walaupun pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990, nyatanya hal tersebut sudah diekspektasikan oleh pelaku pasar. Seperti yang sudah disebutkan di atas, angka pertumbuhan ekonomi China untuk periode kuartal IV-2019 dan keseluruhan tahun 2019 sesuai dengan konsensus.

Lantas, pelaku pasar pun tak lagi kaget dengan perlambatan perekonomian China yang signifikan. Justru, fakta bahwa perlambatan ekonomi China tidaklah separah yang diekspektasikan menjadi faktor yang membuat pelaku pasar memburu instrumen berisiko seperti saham.

Lebih lanjut, data ekonomi China untuk periode Desember 2019 juga menggembirakan. Produksi industri untuk periode Desember 2019 diumumkan tumbuh sebesar 6,9% secara tahunan, mengalahkan konsensus yang sebesar 5,9%, seperti dilansir dari Trading Economics.

Kemudian, penjualan barang-barang ritel untuk periode yang sama tumbuh hingga 8% secara tahunan, juga di atas konsensus yang sebesar 7,8%, seperti dilansir dari Trading Economics.

Kedepannya, ada ekspektasi yang besar bahwa perlambatan ekonomi China bisa diredam. Pasalnya, AS dan China kini telah resmi meneken kesepakatan dagang tahap satu yang akan menjadi kunci dalam meredam tekanan terhadap perekonomian China.

Seperti yang diketahui, pada hari Rabu waktu setempat (15/1/2020) AS dan China menandatangani kesepakatan dagang tahap satu di Gedung Putih, AS. Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

Melansir World Economic Outlook (WEO) periode Oktober 2019 yang dipublikasikan oleh International Monetary Fund (IMF), perekonomian China diproyeksikan tumbuh sebesar 5,819% pada tahun 2020, yang berarti perlambatannya tak separah perlambatan di tahun 2019.

Ingat, proyeksi tersebut dibuat oleh IMF pada Oktober 2019 kala AS dan China belum mengumumkan dicapainya kesepakatan dagang tahap satu. Dengan kini kesepakatan dagang tahap satu sudah diteken, angka pertumbuhan ekonomi China untuk tahun 2020 tentu bisa lebih tinggi lagi.

Sejauh ini, China masih merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia. Jika perekonomian China tumbuh relatif tinggi, tentu pertumbuhan perekonomian dunia juga akan berada di level yang relatif tinggi.

Pada akhirnya, optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan berada di level yang relatif tinggi membuat instrumen investasi yang sifatnya aman seperti emas Antam menjadi ditinggalkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading