Stock Split, Bos BCA: Nanti Enggak Keruan, Nubruk Kanan-Kiri

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
16 January 2020 12:33
Menurut Jahja, stock split tidak bisa dilakukan jika harga saham masih cenderung naik dan dinilai punya risiko.
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiatmadja menyampaikan syarat dan kondisi jika perusahaan melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split).

Menurut Jahja, stock split tidak bisa dilakukan jika harga saham masih cenderung naik dan dinilai punya risiko.

"Stoct split sebenar-nya harus dilakukan kalau harga sudah mulai stagnan. Ada kenaikan, supaya jangan over price [kemahalan]. Kalau harga naik terus, lalu stock split itu seperti mobil diinjak gas pol, nanti enggak keruan nubruk kanan kiri. Terlalu tinggi sekali," kata Jahja saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Jakarta, Kamis (16/1/2020).



Jahja menegaskan bahwa dia tidak pernah menyampaikan rencana BCA untuk melakukan stock split tahun ini.

"Saya engga pernah bilang bahwa tahun ini, saya bilang ya nanti saya pertimbangkan. Bisa tahun ini. Bisa tahun depan. 5 tahun lagi. Intinya kalau BCA sahahmnya enggak naik-naik, baru deh tanya kapan stock split. Selama naik terus udah cukup. Tahun lalu saja kenaikannya sudah lebih dari 20%," tambah Jahja.

Hingga perdagangan sesi I, harga saham BBCA tercatat menguat 0,29% ke level Rp 34.275/unit. Pada Selasa (14/1/2020), saham BCA sempat menyentuh level tertinggi di harga Rp 34.350/unit.

Secara year to date, harga saham BBCA tercatat mengalami kenaikan 2,54%. Jika dihitung dalam setahun terakhir, harga saham BBCA sudah melesat 34,02%.



[Gambas:Video CNBC]




(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading