Eksklusif: Direktur BCA Jawab Rumor Soal Stock Split Saham

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
13 October 2019 15:49
Eksklusif: Direktur BCA Jawab Rumor Soal Stock Split Saham
Jakarta, CNBC IndonesiaPT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akhirnya buka suara mengenai rumor pemecahan nilai nominal saham atau stock split yang ramai beberapa waktu belakangan. Manajemen bank dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia ini masih mematangkan rencana tersebut.

"Stock split biar dimatangkan dulu," ujar Direktur BCA Santoso kepada CNBC Indonesia saat ditemui dalam acara Kick Off Piala Presiden E-Sports 2020 di Tennis Indoor Senayan, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (13/10/2019).

Saat dikonfirmasi apakah stock split sudah masuk rencana bisnis bank dengan kode saham BBCA tersebut, Santoso belum memberi jawaban perinci. Sebab, menurut dia, banyak hal yang akan dipertimbangkan perseroan untuk memecah nilai nominal saham.


"Saya tidak tahu persis, apakah itu (ada dalam rencana perusahaan tahun ini). Karena tidak segampang itu (melakukan) stock split," kata Santoso.

Hingga penutupan perdagangan Jumat pekan kemarin, saham BBCA diperdagangkan di level Rp 30.625 per saham, naik 0,25%. Nilai kapitalisasi pasar BCA sudah mencapai Rp 755,06 triliun. Bila dilihat sejak awal tahun ini, saham BBCA naik 17,79%.

Seperti dituliskan di awal, rencana stock split saham BCA menjadi perhatian pelaku pasar. Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menjelaskan, secara prinsip, tujuan utama dari pemecahan nilai nominal saham agar saham itu lebih mudah dijangkau oleh investor ritel. Dengan rasio yang lebih murah, tentu investor ritel bisa lebih menyerap saham BBCA. 


Alfred melanjutkan, BBCA juga punya rekam jejak fundamental kinerja yang di mata investor relatif bagus sebagai saham bluechips (unggulan). Langkah stock split ini dinilai menjadi momentum bagi BBCA mempertahankan likuiditas BBCA di pasar sesuai historisnya.

"Bisa dikatakan ini lebih kepada mempertahankan likuditas di tengah market yang relatif berat," kata Alfred saat wawancara dengan CNBC Indonesia di Jakarta, Jumat (11/10/2019). 


Alfred mengakui, situasi pasar belakangan ini masih belum kondusif lantaran dikepung sejumlah katalis negatif yang menekan pasar saham domestik. Namun, bila dilihat secara historis, bukan kali ini saja emiten perbankan melakukan pemecahan nilai saham.

Sebelumnya bank pelat merah seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pernah melakukan stock split dan dinilai berhasil. Dia pun menilai hal itu menjadi sinyal yang positif jika BCA merealisasikan rencananya.

"Dengan stock split, harga saham turun dan marketable. Mereka mengoptimalkan kembali pada harga tertentu sehingga segmen yang lebih kecil lagi investornya bisa masuk," pungkas Alfred.
(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading