Harga SUN Boleh Koreksi, tapi Masih Digemari Asing

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
15 January 2020 18:39
Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi lagi pada perdagangan hari ini akibat pemberitaan bahwa damai dagang fase I Amerika Serikat (AS)-China.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi lagi pada perdagangan hari ini akibat pemberitaan bahwa damai dagang fase I Amerika Serikat (AS)-China tidak akan sebaik harapan dari pelaku pasar.

Menjelang formalisasi damai dagang antar kedua negara yang diagendakan Rabu waktu setempat, justru ada perkembangan yang kurang mengenakan yaitu penurunan tarif impor berpotensi baru diberlakukan hingga pemilihan presiden di AS selesai dilakukan.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain. Meskipun harga terkoreksi, posisi investor asing masih positif sejak awal tahun dan sejak awal pekan ini yang menandakan masih ada asa dari investor asing bagi pasar SUN.
Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan kenaikan yield 4,4 basis poin (bps) menjadi 6,24%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 15 Jan'20

Seri


Jatuh tempo

Yield 14 Jan'20 (%)

Yield 15 Jan'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 15 Jan'20 (%)

FR0081

5 tahun

6.197

6.241

4.40

6.1903

FR0082

10 tahun

6.858

6.882

2.40

6.8479

FR0080

15 tahun

7.334

7.335

0.10

7.3241

FR0083

20 tahun

7.462

7.472

1.00

7.4448

Sumber: Refinitiv

 

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tidak tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat. Indeks tersebut naik tipis 0,23 poin (0,09%) menjadi 272,74 dari posisi kemarin 272,5.

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 509 bps, melebar dari posisi kemarin 504 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun 2,8 bps hingga 1,79% dari posisi kemarin 1,81%.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.083 triliun SBN, atau 39,24% dari total beredar Rp 2.760 triliun berdasarkan data per 14 Januari.

Angka menunjukkan kepemilikan investor asing masih masuk ke pasar SUN senilai Rp 9,92 triliun sejak akhir pekan lalu, sedangkan sejak awal bulan dan awal tahun masih surplus Rp 21,22 triliun.

Dari pasar surat utang negara maju, penguatan harga masih terjadi secara luas sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang memburu obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen negatif dari potensi menjauhnya damai dagang, terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 14 Jan'20 (%)

Yield 15 Jan'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

6.87

6.795

-7.50

China (A+)

3.146

3.141

-0.50

Jerman (AAA)

-0.172

-0.204

-3.20

Prancis (AA)

0.083

0.048

-3.50

Inggris Raya (AA)

0.722

0.651

-7.10

India (BBB-)

6.661

6.634

-2.70

Jepang (A)

0.01

0.012

0.20

Malaysia (A-)

3.286

3.288

0.20

Filipina (BBB)

4.757

4.781

2.40

Rusia (BBB)

6.19

6.29

10.00

Singapura (AAA)

1.753

1.738

-1.50

Thailand (BBB+)

1.425

1.43

0.50

Amerika Serikat (AAA)

1.818

1.79

-2.80

Afrika Selatan (BB+)

8.24

8.26

2.00

Sumber: Refinitiv



TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading