Konflik AS vs Iran Tidak Signifikan Pengaruhi Poundsterling

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
08 January 2020 21:00
Konflik AS vs Iran Tidak Signifikan Pengaruhi Poundsterling
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling masih cukup perkasa melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/1/2020), di saat mata uang utama lainnya berguguran di hadapan mata uang Paman Sam tersebut.

Aset aman atau safe haven, termasuk dolar AS, sedang berjaya pada hari ini akibat eskalasi konflik AS dengan Iran di Timur Tengah.

CNBC International melaporkan Iran menyerang setidaknya dua pangkalan militer AS dengan rudal, pagi tadi. Serangan tersebut sebagai balasan kepada AS yang telah membunuh Jenderal Quds Force, pasukan elite Iran, Qassim Soleimani lewat serangan pesawat tanpa awak di Bandara Baghdad.


Jenderal Soleimani adalah sosok penting nomor dua di Iran dan dikenal sebagai tokoh revolusioner.



Presiden AS Donald Trump merespon serangan tersebut. "Semua baik-baik saja! Misil diluncurkan dari Iran ke dua pangkalan militer di Irak" kata Trump melalui akun Twitternya.

"Saat ini sedang dilakukan perhitungan jumlah korban dan kerusakan. Sejauh ini, cukup baik! Kita memiliki perlengkapan militer yang paling kuat di seluruh dunia! Saya akan membuat pernyataan besok pagi (Rabu pagi waktu AS)" tambah Trump.

Pelaku pasar kini dibuat cemas akan kemungkinan perang yang lebih luas, yang membuat rupiah tertekan. Presiden Trump akhir pekan lalu memperingatkan Iran untuk tidak balas dendam atas tewasnya Jendral Soleimani. Jika peringatan tersebut tidak dihiraukan, Trump akan menyerang sebanyak 52 wilayah Iran sebagai balasan.

Para pelaku pasar dibuat cemas akan potensi terjadinya perang yang luas sehingga memilih bermain aman dan masuk ke aset safe haven. Dolar menjadi perkasa melawan mata uang utama lainnya, tetapi nyatanya tidak melawan poundsterling.

Mata uang Inggris ini masih cukup perkasa dan tidak terpengaruh konflik AS vs Iran. Berlanjutnya pembahasan rancangan undang-undang keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit di Parlemen Inggris lebih menjadi perhatian bagi poundsterling. Poundsterling sempat menguat 0,35% ke level US$ 1,3123 pada hari ini.



Parlemen Inggris terdiri dari House of Commoms dan House of Lords. House of Commons mulai membahas RUU Brexit sejak Selasa kemarin hingga Kamis nanti, kemudian akan diserahkan House of Lords.

Jika pembahasan tersebut berjalan lancar dan pada akhirnya disahkan, maka Brexit akan dilakukan pada 31 Januari atau bisa lebih cepat lagi. Masa transisi perceraian Inggris dari Uni Eropa akan berlangsung hingga 31 Desember. Dalam masa transisi tersebut, Inggris masih dalam satu wilayah pabean dengan Uni Eropa tapi tak lagi terlibat urusan politik.

Selama masa transisi itu juga, Inggris akan merundingkan perjanjian dagang baru dengan Uni Eropa.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson berencana untuk mencapai kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Eropa, begitu juga dengan AS dan negara-negara lainnya sebelum masa transisi tersebut berakhir. PM Johnson juga optimistis hal tersebut akan tercapai, sehingga masa transisi tidak akan lebih dari 31 Desember 2020.

Pembahasan RUU tersebut membuat poundsterling mengabaikan ketegangan antara AS vs Iran.

Poundsterling baru melemah 0,11% ke level US$ 1,3109, pada pukul 20:37 WIB, setelah Automatic Data Processing Inc. (ADP) melaporkan sepanjang Desember sektor swasta AS menyerap 202.000 tenaga kerja, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 124.000 tenaga kerja. Data tersebut membuat dolar mendapat tenaga tambahan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading