Buka-bukaan Bos Jiwasraya Soal Skandal & Kondisi Perusahaan

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
28 December 2019 09:47
Buka-bukaan Bos Jiwasraya Soal Skandal & Kondisi Perusahaan
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko akhirnya 'turun gunung' dan menemui awak media untuk menjelaskan persoalan yang membelit asuransi jiwa BUMN tersebut. Gagal bayar perusahaan ini atas polis produk JS Saving Plan mencapai Rp 12,4 triliun.

Menurutnya, Jiwasaraya memiliki dua kelompok model bisnis, yakni kompak tradisional dan bancassurance [asuransi yang dipasarkan perbankan]. Produk tradisional Jiwasraya lebih fokus ke guarantee jangka panjang atau menjanjikan return pasti dalam jangka panjang.


"Negara kita makin maju, suku bunga turun, guarantee 14%, makin lama rugi makin lebar, ini kesalahan modeling. Tanpa diperbaiki Jiwasraya tidak pernah sehat. JS akan rugi terus, kalau tidak disembuhkan," ujarnya ketika ditemui di Jakarta, Jumat (27/12/2019).


Kemudian, lanjut Hexana, muncul produk JS Saving Plan yang memberi guarentee return yang tinggi, akhirnya negatif spread menggulung.

"Untuk asuransi yang tradisional 7,75-14% nett return. Saving Plan return 7,75-10% nett untuk Saving Plan, ini juga mengalami negatif spread," jelasnya.

"Investasi saham 75 persen, fine saham bisa dijual, maka harusnya yang high quality, mestinya harus sisihkan dalam high quality liquid aset supaya bisa membayar kewajiban jangka pendek. Maka terjadilah gagal bayar."

Hexana menambahkan dalam Jiwasraya juga ada kegiatan investasi nekat (reckless investment activities). Hanya 5% saham yang diinvestasikan di LQ45, dari 22,4% aset finansial atau Rp 5,7 triliun. Reksa dana 59,1% atau Rp 14,9 triliun dan hanya 2% dikelola top manajer investasi di Indonesia.


Lalu, manajemen lama juga melakukan aggressive window dressing untuk menunjukkan trading profitability. Modusnya saham overprice dibeli oleh Jiwasraya kemudian dijual pada harga negosiasi. Hal ini dibuktikan dengan aset investasi Jiwasraya yang dimasukkan pada saham dan reksa dana saham yang underlying assetnya sama dengan portofolio saham langsung.

"Pada 2006-2018 penyehatan secara fundamental belum dilakukan, hanya 2009-2012 berupa reasuransi. Itu balance sheet engineering. Problem di awal seperti dijelaskan adalah likuiditas dan solvabilitas," jelasnya.

"Mulai agresif ke saham kualitas rendah 2014 karena mengejar return, itu memang bisa liar volatilitasnya, potensial upside tinggi, tapi downside-nya juga tinggi, bahkan market jatuh yang lain recover dia belum tentu. Artinya, liquidity manajemen kurang ketat."

Per 31 Desember ekuitas negatif Rp 10,24 triliun, likuiditas terganggu atau gagal bayar dan defisit sebesar Rp 15,83 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading