Ada Kabar Tahir Caplok Emiten Bentjok Hingga Rekor Saham BCA

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
18 December 2019 08:41
Kesulitan keuangan ini disebabkan kesalahan investasi yang dilakukan oleh manajemen lama Jiwasraya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir perdagangan kemarin Selasa (17/12/2019) ditutup dengan penguatan 0,53% ke level 6.244,35.

Kinerja IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga ditransaksikan di zona hijau: indeks Nikkei terapresiasi 0,47%, indeks Shanghai naik 1,27%, indeks Hang Seng menguat 1,22%, dan indeks Kospi bertambah 1,27%.

Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai perdagangan Rabu (18/12/2019):


1.Gagal Bayar Polis Rp 12,4 T, Begini Porsi Investasi Jiwasraya
Manajemen PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mengakui tidak akan sanggup membayar polis nasabah yang mencapai Rp 12,4 triliun yang jatuh tempo mulai Oktober-Desember 2019 (gagal bayar). Kesulitan keuangan ini disebabkan kesalahan investasi yang dilakukan oleh manajemen lama Jiwasraya.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Jiwasraya dengan Komisi VI DPR RI pada Senin kemarin, (16/12/2019), manajemen BUMN asuransi jiwa itu mengungkapkan 'wajah' laporan keuangan dan ke mana saja investasi dilakukan.

Direktur Utama Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko mengungkapkan merahnya wajah laporan keuangan perusahaan BUMN tersebut karena sebelumnya BUMN ini gagal mengelola aset yang dimiliki, di antaranya dalam memilih instrumen investasi khususnya saham.

"Seharusnya maksimal mengalokasikan untuk saham sebesar 20%, itu pun [harus saham] blue chips[saham unggulan], government bond [surat utang negara], instrumen BI minimal 30%. Sayangnya, yang terjadi alokasi ke saham, itu pun kualitas [saham] rendah mencapai 50%, sedangkan government bonddi 15%," kata Hexana.

2.Kalah Bersaing, Penjualan Unilever Melambat
Perusahaan penyedia barang konsumen Unilever memperkirakan pertumbuhan penjualannya pada 2019 sedikit di bawah ekspektasi yang diprediksi sebelumnya.

Produsen sabun Dove ini mengatakan meskipun ada tanda-tanda awal peningkatan kinerja di pasar terbesarnya di Amerika Utara, pemulihan penuh masih membutuhkan waktu.

Selama beberapa kuartal, perkembangan ekonomi telah menjadi hambatan bagi Unilever, di mana semakin banyak konsumen beralih ke makanan segar, merek khusus atau mengurangi pengeluaran.

Dalam hasil kuartalan terbaru perusahaan, penjualan di pasar negara maju turun 0,1%, berbeda dengan kenaikan sebesar 5,1% di pasar negara berkembang.

3. Melesat! Harga Saham BCA Cetak Rekor Tertinggi Lagi
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali melesat hari ini dan menyentuh level harga tertinggi dalam sejarah perseroan tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) harga saham BCA naik 2,2% ke level RP 32.500/unit. Volume perdagangan saham mencapai 38,38 juta senilai Rp 1,32 triliun.

Jika dihitung dari awal tahun hingga perdagangan Selasa (17/12/2019) harga saham BCA tercatat naik 25%.

BCA pertama kali melantai di BEI pada 31 Mei 2000, dengan menawarkan harga saham di pasar perdanan Rp 1.400/saham.

4.Crazy Rich Tahir Akan Akuisisi Perusahaan Milik Bentjok
Emiten properti milik keluarga Dato Sri Tahir pemilik Mayapada, PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) akan mengakuisisi anak usaha PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO). Keduanya merupakan perusahaan yang dinahkodai investor Benny Tjokrosaputro.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), per 13 Desember 2019 Maha Properti berencana mengakuisisi 49,99% anak usaha Hanson yakni PT Mandiri Mega Jaya.

Kemudian Maha Properti juga akan mengakuisisi 49,99% saham PT Hokindo Properti Investama, anak usaha RIMO. Sebagai informasi, Mandiri Mega Jaya memiliki proyek hunian terpadu Citra Maja Raya di Lebak, Banten, bekerja sama dengan Grup Ciputra.

5. BORN Delisting 20 Januari, Masih Bisa Jualan di Pasar Nego!
Perusahaan pertambangan batu bara PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) akan efektif didepak dari papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) atau delisting pada 20 Januari 2020 setelah terjadi suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham lebih dari 24 bulan.

Pada Selasa 17 Desember hari ini, BEI membuka suspensi perdagangan saham BORN, tapi khusus hanya di pasar negosiasi selama 20 hari ke depan, terhitung sejak sesi I hari ini sampai dengan Jumat 17 Januari 2020.

"Bursa melakukan pencabutan penghentian sementara perdagangan efek PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tak hanya di pasar negosiasi selama 20 hari bursa," tulis pengumuman BEI, dikutip Selasa (17/12/2019).

Adapun untuk pasar reguler dan pasar tunai, saham BORN masih terkena suspensi.

BORN memang masuk dalam daftar perusahaan-perusahaan yang akan di-delisting bursa karena saham perusahaan ini sudah kena suspensi lebih dari 24 bulan. Bahkan total sudah 4 tahun berturut-turut.

6. Kacau! Investasi di 7 Saham Ini Bisa Ambyar Lebih 90%
Harga saham 7 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok lebih dari 90% selama tahun berjalan (year to date) 2019 hingga perdagangan tengah hari kemarin, Senin (17/12/2019). Kejatuhan saham-saham tersebut sempat membuat pasar reksa dana goyang karena beberapa saham ada yang menjadi aset dasar sejumlah reksa dana.

Saham-saham yang mengalami koreksi dalam tersebut, yaitu saham PT Forzaland Indonesia Tbk (FORZ) ambles hingga 94,57% dan harga saham terkapar pada harga terendah Rp 50/unit.

Lalu saham PT Indofarma Tbk (INAF) turun 94,55% ke level harga Rp 354/unit. Saham PT Borneo Olah Sarana Tbk (BOSS) terkoreksi 92,88% ke harga Rp 171/saham, saham PT SMR Utama Tbk (SMRU) turun 92,31% ke level Rp 50/unit, saham PT Pelat Timah turun 91,50% ke harga Rp 306/unit.

Demikian pula saham PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) anjlok 90,65% ke harga Rp 725/saham dan saham PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL) ambles 90,23% ke level Rp 496/unit.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading