Asosiasi Desak OJK Periksa Reksa Dana yang Anjlok Lebih 50%

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
11 December 2019 13:55
Asosiasi Desak OJK Periksa Reksa Dana yang Anjlok Lebih 50%
Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan pemeriksaan terhadap produk reksa dana saham yang anjlok lebih dari 50% selama tahun  Januari hingga November 2019.

Koreksi reksa dana tersebut jauh dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan pada periode yang sama di level 2,95%.

Berdasarkan data Infovesta Utama, ada 32 reksa dana saham yang tercatat terkoreksi di atas 50%. Beberapa nama tersebut di antaranya Oso Flores Equity Fund dengan koreksi 51,31%, Narada Saham Indonesia II terkoreksi 51,95%, Maybank Dana Ekuitas Syariah Saham terkoreksi 54,72%. Bahkan ada juga produk reksa dana saham yang amblas 79,55%, yaitu Millenium MCM Equity Sektoral.

Wakil Ketua I Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Hanif Mantiq meminta OJK melakukan pemeriksaan terhadap manajer investasi tersebut karena dinilai ada ketidakwajaran bila terdeviasi sampai 60%.


"OJK harus melakukan pemeriksaan, kalau sampai 60 persen ada sesuatu yang salah. Asosiasi tidak melakukan pemeriksaan, OJK punya tools-nya," kata Hanif Mantiq, di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Agar menghindari kejadian yang sama terulang ke depan, APRDI smengusulkan kepada OJK agar setiap perusahaan MI wajib mendeklarasikan lima underlying aset saham terbesar yang diinvestasikan. Usulan ini sudah masuk dalam tahap akhir. Lima underlying tersebut juga sudah sesuai dengan best practice global.

Tindak Tegas
Ketua Presidium APRDI, Prihatmo Hari Mulyano menyatakan bakal mendukung langkah tegas otoritas bila ada anggotanya yang melanggar peraturan yang berlaku.

Hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dan investor yang sudah menginvestasikan dananya di produk reksa dana.

"Kami tidak toleransi terhadap anggota yang melakukan pelanggaran Undang-undang yang berlaku, meninggalkan aspek integritas dan mengecilkan prinsip manajemen risiko. Industri harus sehat, dijaga stakeholder," jelas Prihatmo Hari.

Selain itu, APRDI justru mengajak masyarakat lebih cermat dan kritis dalam berinvestasi reksa dana. Apalagi bila manajer investasi menawarkan jaminan imbal hasil tertentu, sebab hal ini bertentangan dengan aturan yang ditetapkan OJK.

Sisi lain, APRDI mendukung langkah otoritas melakukan langkah tegas bagi manajer investasi yang terbukti melakukan pelanggaran baik dari sisi etik hingga manajemen risiko. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading