Simak! 5 Sentimen Penggerak Pasar Pekan Depan

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
01 December 2019 19:09
Simak! 5 Sentimen Penggerak Pasar Pekan Depan Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini anjlok 1,45% ke 6.011,83 menjadi salah satu indeks yang memerah di Asia. Perhatian pasar bakal terfokus pada perang dagang jelang tenggat akhir pengenaan tarif baru Amerika Serikat (AS) pada 15 Desember.

Beberapa sentimen global dan domestik bakal mempengaruhi selera risiko investor saham pada pekan depan. Namun, isu yang bakal menjadi 'panglima' tentu adalah perkembangan perang dagang setelah China mengancam AS terkait dukungan resmi mereka pada aktivis Hong Kong.

Di luar itu, beberapa isu sekunder yang akan diperhatikan investor terkait dengan arah perekonomian dunia, dan juga arah perekonomian domestik. Isu pertama tentu saja adalah rilis data inflasi Indonesia (November).

Konsensus pasar yang dihimpun Tim Riset CNBC Indonesia memperkirakan inflasi November akan berada di kisaran 0,2% secara month-on-month (MoM) dan 3,065% secara tahunan (year-on-year/ YoY). Sementara itu, inflasi inti diramal 3,16% YoY.

 

Polling ini sejalan dengan konsensus yang disusun Trading Economics yang memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,2% dan inflasi tahunan 3,06%. Inflasi inti diprediksi sedikit lebih lemah dari konsensus CNBC Indonesia, yakni di kisaran 3,14%.

Jika tidak ada kejutan yang menghentak, maka capaian inflasi tersebut bakal sesuai dengan koridor Bank Indonesia dan target pemerintah yang masing-masing menargetkan inflasi tahunan sebesar 2,5%-4,5% dan 3,5% hingga akhir 2019.

Kedua, perhatian pasar akan tertuju pada Purchasing Manager Index (PMI) Manufacturing per November yang bakal ramai dirilis pekan depan. Indikator aktivitas pemesanan bahan baku dan barang modal manufaktur itu bakal dirilis oleh AS, China, Indonesia, Jerman, hingga India.

Khusus untuk China dan AS, data PMI manufaktur kedua negara tersebut bakal dimaknai sebagai efek dari perang dagang yang sudah berlangsung selama 18 bulan terakhir ini.

Menurut Trading Economics, Angka PMI Manufaktur Caixin di China bakal berada di angka 51,4 alias masih ekspansif, meski agak melemah dibanding posisi bulan sebelumnya pada 51,7.

Di sisi lain, PMI Manufaktur versi Markit untuk AS diproyeksikan berada di angka 52,2 alias lebih baik dari posisi sebelumnya pada 51,3. Namun, PMI Manufaktur versi ISM untuk AS masih berada di angka 49,2 yang mengindikasikan kontraksi di sektor manufaktur.

 

Pantau Data Perdagangan dan Pengangguran AS

Ketiga, rilis neraca perdagangan dan pertumbuhan ekonomi utama dunia juga bakal menjadi perhatian investor karena memberi mereka parameter tambahan terbaru terkait efek perang dagang terhadap aktivitas supply-chain dunia.

Korea Selatan bakal merilis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 pada Selasa, disusul Australia pada Rabu. Sehari kemudian, Australia dan AS merilis neraca dagang Oktober. Defisit dagang AS diprediksi membaik menjadi -US$ 49 miliar, dari bulan sebelumnya -US$52,5 miliar.

Pada akhirnya, pelaku pasar akan mencari konfirmasi situasi ekonomi AS dari data pengajuan klaim pengangguran di AS pada hari yang sama. Klaim asuransi pengangguran baru (initial jobless claim) diprediksi naik menjadi 215.000 dari posisi bulan lalu sebanyak 213.000.

Keempat, pelaku pasar dalam negeri seyogyanya memantau posisi cadangan devisa nasional per November oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan posisi dan kekuatan amunisi otoritas moneter dalam menjaga kurs. Rilis data tersebut muncul sehari setelah BI merilis indeks keyakinan konsumen (IKK) November pada Kamis sore.

Tambahan nilai cadangan devisa bakal menjadi sentimen positif bagi investor global yang hendak memarkir dananya di pasar modal nasional. Bagi investor global yang menghitung selisih (spread) imbal hasil dan kerugian kurs dalam horizon investasinya, pelemahan kurs tentunya bakal menjadi momok.

Kelima, perhatikan sentimen seputar kinerja dan aksi korporasi yang bakal mempengaruhi harga saham emiten utama seperti pembagian dividen PT Unilever Indonesia Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk yang sama-sama digelar pada pekan depan.

Selain itu, pada akhir pekan ada rilis Asus Rog Phone II dan juga penjualan perdana Iphone 11 serta Iphone 11 Pro di Indonesia yang secara historis berujung pada kenaikan harga saham emiten distributor produk seluler yang terdorong ekspektasi kenaikan pendapatan mereka.

Di luar kelima sentimen tersebut, perhatikan juga rangkaian aksi demo buruh pekan depan yang pada Senin berbarengan dengan aksi massa 212. Selama ini, demo buruh di Ibu Kota cenderung tertib dan tak membuat investor jiper. Demikian juga dengan aksi massa 212.

Namun, patut diperhatikan apakah pemerintah jalan terus dengan rencana penyederhanaan mekanisme upah minimum provinsi (UMP), ataukah mengikuti kemauan buruh dengan status quo upah minimum kota (UMK) dan upah minimum sektoral (UMS).



TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading