Ramai Sentimen Pekan Depan, Dari PDB Q3 RI Hingga Pilpres AS

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
01 November 2020 20:45
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah libur panjang pekan ini, pelaku pasar bakal mendapat guyuran kabar positif dari dalam dan luar negeri pada pekan depan, mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020, inflasi, hingga pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,3% atau 16 poin sepanjang perdagangan pekan lalu (yang hanya berlangsung dua hari), ke level 5.128,225. Setelah itu, pasar libur tatkala bursa global dan AS terkoreksi.

Namun pekan ini, peluang koreksi kemungkinan mengempis karena sentimen pasar berpeluang membaik, dengan kombinasi kabar positif dari dalam dan luar negeri. Pertama, Indonesia akan merilis indeks harga konsumen (IHK) yang diprediksi bakal terjadi inflasi yang mengindikasikan konsumsi kembali bergeliat.


Menurut polling Reuters, angka inflasi bakal di level 0,08% secara bulanan, atau lepas dari zona deflasi yang bulan lalu di angka -0,05%. Inflasi inti diproyeksikan di level 1,82% atau terpaut tipis dari angka bulan lalu (1,86%).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia juga menghasilkan median inflasi 0,08% secara bulanan, menjadi inflasi bulanan pertama dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, inflasi tahunan diperkirakan di level 1,44% dengan inflasi inti 1,815%.

Namun, sentimen kedua bakal bernada negatif dari rilis Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) sektor manufaktur versi Markit per Oktober, yang menurut proyeksi Tradingeconomics bakal di level 46,8 ( atau lebih buruk dari sebelumnya pada 47,2). Angka di bawah 50 mengindikasikan bahwa manufaktur Indonesia masih terkontraksi.

Data serupa bakal dirilis di negara lainnya seperti Australia, Korea Selatan, AS dan China, yang menurut konsensus Tradingeconomics bakal di angka 50 ke atas yang mengindikasikan ekspansi. Ini bakal mengobati sentimen negatif dari PMI manufaktur Indonesia yang kontraksi.

Sentimen ketiga muncul dari AS dengan pemungutan suara pilpres, antara calon petahana Donald Trump dan kandidat penantang Joe Biden. Sejauh ini Biden unggul di pollnig, dan pasar bertaruh kemenangan Biden bakal lebar sehingga berujung kepastian politik. Sebaliknya jika muncul kejutan buruk, atau Trump bereaksi negatif, maka pasar akan tertekan.

Di tengah perkembangan tersebut, pasar akan menengok rilis neraca perdagangan AS per September yang menurut konsensus Tradingeconomics bakal berujung defisit US$ 64 miliar, di mana impor melemah ke US$ 238,2 miliar (dari sebelumnya US$ 239 miliar). Pelemahan impor menjadi kabar buruk karena mengindikasikan permintaan di AS belum pulih.

Keempat, perlu dicermati juga rilis PMI sektor jasa di China per Oktober versi Caixin, yang diperkirakan masih ekspansif di angka 54. Rilis serupa versi PMI akan muncul untuk negara utama Uni Eropa (Inggris, Jerman, Prancis) dan AS yang juga diprediksi masih solid di atas 50.

Patut dicermati juga data stok bahan bakar minyak (BBM) di AS yang menunjukkan tingkat serapan ekonomi adidaya tersebut terhadap energi utama dunia. Jika terjadi penurunan stok, maka saham migas bakal bergairah karena berarti permintaan minyak dan BBM di AS naik.

Pada Kamis bakal muncul sentimen kelima yang penting untuk dicermati yakni rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2020. Menurut Tradingeconomics, ekonomi kita bakal tumbuh 2,7% secara kuartalan meski masih terkontraksi 1,2% secara tahunan. Ini setidaknya memberi gambaran mengenai tren pemulihan, dan sedikit menenangkan pasar.

Selanjutnya pada Jumat, The Fed akan menjadi pusat perhatian dengan sentimen keenam yakni pengumuman kebijakan suku bunga acuan, yang diprediksi masih akan mempertahankan suku bunga di level sekarang 0%-0,25%.

Disusul kemudian rilis data slip pengajian Oktober dan tingkat pengangguran di AS. Gaji baru sektor non-pertanian diprediksi tertekan menjadi 600.000 dari posisi sebulan sebelumnya (661.000), sedangkan angka pengangguran diprediksi surut ke 7,6% dari sebelumnya 7,9%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading