Kemarin Nyungsep 23%, Hari Ini Saham Bank Artos Ambles 6%

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 November 2019 11:36
Setelah kemarin nyungsep 23%, harga saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) kembali ambles 6,28%.
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah kemarin nyungsep 23%, harga saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) kembali ambles 6,28% pada perdagangan Kamis ini (21/11/2019). Pergerakan liar saham yang baru diakuisisi Jerry Ng dan Patrick Walujo ini menjadi perhatian pelaku pasar karena kenaikan dan koreksi harga berlangsung dalam rentang yang sangat lebar.

Pagi ini, data BEI mencatat, harga saham berkode ARTO terkoreksi 6,28% ke level Rp 2.090/saham dengan nilai transaksi Rp 128,89 juta dengan volume perdagangan saham tercatat 63.500 saham. Artinya koreksi harga saham tidak didukung dengan nilai transaksi yang besar.

Tak ada investor asing masuk hari ini di saham ARTO. Year to date, invetsor asing keluar Rp 157 juta. Kendati ambles hari ini, dalam 3 bulan terakhir saham ARTO naik 152%, dan secara year to date, saham ARTO meroket 1.036%.



Pada 6 November 2019, BEI baru membuka kembali perdagangan saham ARTO, baik di pasar reguler dan pasar tunai setelah sebelumnya dihentikan sementara perdagangannya (suspensi) pada 8 Oktober 2019.

Setelah suspensi dibuka harga saham ARTO bergerak liar setiap harinya, dengan mayoritas mencatatkan kenaikan atau pun penurunan dua digit.

Sebagai informasi, pergerakan liar saham ARTO dipicu oleh pemberitaan bahwa perusahaan akan menjadi bank yang menangani transaksi Gojek alias GoBank.


Namun manajemen perseroan sempat mengatakan belum pernah melakukan komunikasi terkait isu akan menjadi GoBank. Bank Artos juga belum pernah berkomunikasi dengan ekosistem manapun, termasuk Gojek.

Lebih lanjut, dengan harga saham perusahaan yang terus melesat, di mana sepanjang tahun berjalan meroket 1079%.

Sudah naik tinggi, apakah harga sahamnya tergolong mahal atau masih murah?

Salah satu metode yang umum digunakan analis untuk melihat apakah harga saham suatu emiten terbilang mahal atau murah adalah dengan menggunakan price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV).

Akan tetapi, berhubung rilis laporan keuangan terbaru ARTO, yakni per 30 September 2019 mencatatkan rugi bersih Rp 19,09 miliar, maka penggunaan PER tidak lagi representatif.

Oleh karena itu metode yang dapat digunakan adalah PBV yang dihitung dengan membagi harga saham dengan nilai buku ekuitas perusahaan.

Dengan asumsi harga saham Rp 3.130/saham dan nilai buku per saham Rp 80,09/saham, maka PBV saham ARTO sebesar 39,09 kali. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rerata PBV saham emiten keuangan yang hanya 2,38 kali, melansir laporan statistik BEI bulan Oktober.

Dengan nilai PBV yang jauh di atas rerata industri, dapat dikatakan harga saham ARTO cukup mahal.

Simak ulasan kinerja IHSG, di ASEAN

[Gambas:Video CNBC]


(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading