Analisis

Dear Investor & Trader, Sudah Siap Melihat Emas Naik Lagi?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 November 2019 14:25
Harga emas mulai menguat sejak pekan lalu. Sejak saat itu, logam mulia ini berhasil menguat dalam enam dari tujuh hari perdagangan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia berhasil menguat pada perdagangan Selasa kemarin, dan berlanjut pada hari ini Rabu (20/11/19). Pergerakan pada hari Selasa mirip dengan awal pekan, emas sempat melemah sebelum berhasil rebound dan mengakhiri perdagangan di zona hijau, meski tipis.

Jika melihat lebih ke belakang, emas sudah mulai menguat sejak Selasa (12/11/19) pekan lalu. Sejak saat itu, hingga Selasa kemarin logam mulia ini berhasil menguat dalam enam dari tujuh hari perdagangan.

Perundingan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang kembali memanas menjadi penopang penguatan harga emas, meski masih tipis-tipis. Pada pukul 14:09 WIB, emas menguat 0,16% ke level US$ 1.74,64/troy ons di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv. Sementara pada Selasa kemarin menguat 0,1%.




Hubungan kedua negara merenggang di pekan ini usai CNBC International melaporkan Pemerintah China pesimis dengan kesepakatan dagang setelah Presiden AS Donald Trump menolak untuk menghapus bea masuk produk China.

"Mood di Beijing mengenai kesepakatan dagang saat ini pesimistis akibat keengganan Presiden Trump dalam menghapus bea masuk, dimana sebelumnya China percaya AS sudah sepakat akan penghapusan tersebut" kata sumber dari pemerintah China sebagaimana dikutip Eunice Yooh reporter CNBC International.

Sumber tersebut juga mengatakan China kini mengamati dengan seksama situasi politik di AS, termasuk sidang pemakzulan dan pemilihan presiden 2020. Para pejabat China mulai mempertimbangkan apakah lebih rasional untuk menunggu hingga semua urusan politik tersebut selesai akibat kemungkinan Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Di sisi lain dari AS, laporan terbaru menyebutkan dalam sidang Kabinet Selasa waktu setempat, Trump mengatakan akan menaikkan bea masuk jika China tidak menandatangani kesepakatan dagang. "Jika kita tidak membuat kesepakatan dengan China, saya akan menaikkan bea masuk, bahkan lebih tinggi lagi" kata Trump seperti dilansir CNBC International.



Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk produk dari China senilai US$ 500 miliar, dan China membalas dengan menaikkan bea masuk terhadap produk made in USA senilai US$ 110 miliar.

Jika kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan dagang, Trump berencana akan menaikkan bea masuk lagi pada tanggal 15 Desember nanti. Tanpa perkembangan terbaru yang membuat hubungan kedua negara kembali adem, emas berpeluang melesat lebih tinggi lagi.

Satu hal yang bisa menjegal upaya emas untuk menguat adalah rilis notula rapat kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Kamis dini hari nanti. Notula tersebut berisi detail hasil rapat kebijakan saat The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,5-1,75%.

Saat itu ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan periode pemangkasan suku bunga sudah berakhir. Powell menambahkan The Fed hanya akan memangkas suku bunga lagi jika perekonomian AS memburuk.

Dalam notulen rapat biasanya terdapat pendapat para anggota pembuat kebijakan atau Federal Open Market Committee (FOMC). Investor akan melihat berapa banyak anggota FOMC yang mendukung pernyataan Powell, dan berapa anggota yang berpendapat beda. Dengan demikian, gambaran apakah suku bunga AS akan kembali dipangkas pun semakin jelas.

Jika semua anggota FOMC sepakat untuk tidak lagi memangkas suku bunga, maka penguatan emas akan tertahan. Sebaliknya jika ada beberapa anggota FOMC yang memberikan pendapat suku bunga harus dipangkas lagi, ruang penguatan bagi emas akan terbuka semakin lebar.

Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading